JAKARTA – Suara gemuruh dari bawah permukaan tanah dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah pesisir utara Flores pascagempa berkekuatan Magnitudo (M) 7,7. Fenomena tersebut sempat memicu kekhawatiran masyarakat yang masih merasakan dampak gempa dan gempa susulan.
Masyarakat diimbau tidak panik dan tetap tenang. Suara gemuruh yang terdengar di sekitar zona gempa tidak serta-merta menjadi pertanda akan terjadi gempa besar berikutnya.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono menjelaskan, suara gemuruh di zona gempa pada dasarnya merupakan suara berfrekuensi rendah yang dapat terdengar atau dirasakan seperti dentuman, deru, maupun suara benda berat yang bergemuruh.
Dalam seismologi, fenomena tersebut dapat berkaitan dengan gelombang seismik yang merambat melalui batuan dan kemudian menimbulkan getaran pada permukaan tanah, bangunan, maupun benda-benda di sekitar.
Sebagian energi getaran tersebut dapat dikonversikan menjadi gelombang akustik di udara sehingga terdengar oleh manusia sebagai suara gemuruh. “Mohon saudara-saudaraku, khususnya yang tinggal di pesisir utara Flores, jangan cemas dan takut,” kata Daryono, sebagaimana dikutip POSKOTAONLINE.COM, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, ketika patahan batuan mengalami ruptur atau rekahan, energi dilepaskan dalam bentuk gelombang P, gelombang S, dan gelombang permukaan. Gelombang P datang lebih dahulu dan bersifat kompresional atau menekan. Karena memiliki kecepatan lebih tinggi, gelombang ini terkadang dapat menghasilkan getaran kecil atau suara seperti gemuruh sebelum guncangan utama yang lebih kuat dirasakan.
Namun, dalam banyak kejadian, suara gemuruh justru muncul bersamaan dengan guncangan. Hal tersebut terjadi karena sumber suara berasal dari interaksi gelombang seismik dengan permukaan tanah dan lingkungan di sekitarnya.
Daryono menjelaskan, secara fisika gelombang seismik dan gelombang suara di udara merupakan dua hal yang berbeda. Meski demikian, keduanya dapat saling berinteraksi. Getaran tanah, misalnya, dapat membuat bangunan, atap, jendela, pepohonan, atau permukaan tanah ikut bergetar sehingga menghasilkan suara.
Gempa dangkal juga cenderung lebih mudah menimbulkan efek akustik yang kuat karena sumber energinya relatif dekat dengan permukaan. “Karena itu, masyarakat di sekitar episenter gempa dangkal kadang melaporkan suara seperti ‘blumm’, ‘duumm’, ‘kereta lewat’, atau ‘guntur yang panjang’. Selain berasal langsung dari sumber gempa, suara gemuruh juga dapat diperkuat oleh kondisi geologi setempat,” jelasnya.
Daryono mengatakan, lapisan sedimen lunak, batuan gamping, hingga kawasan karst yang memiliki rongga dapat memperkuat amplitudo gelombang seismik melalui efek tapak atau site amplification. Topografi, lembah, serta struktur bangunan juga dapat memengaruhi bagaimana getaran diterima dan kemudian terdengar oleh masyarakat.
Dalam kondisi tertentu, frekuensi rendah bahkan dapat dirasakan sebagai getaran atau tekanan sebelum telinga manusia mampu mengenalinya sebagai suara. “Yang penting secara seismologi, gemuruh bukanlah indikator yang dapat digunakan untuk memprediksi gempa. Mendengar gemuruh tidak berarti secara ilmiah gempa besar akan terjadi,” ungkapnya.
Ia menegaskan, suara gemuruh harus dipandang sebagai salah satu manifestasi fisik dari aktivitas seismik atau respons lingkungan terhadap gelombang gempa. Untuk memastikan apakah suara tersebut berkaitan dengan aktivitas gempa, diperlukan konfirmasi melalui rekaman seismograf, waktu kejadian, lokasi sumber, kedalaman, magnitudo, serta karakteristik frekuensi sinyal. “Masyarakat Flores jangan khawatir, cemas dan takut. Gempa susulan sudah meluruh, dan akan kembali stabil, aman,” tegasnya. (*/yopy)








Komentar