oleh

Kisah Bu Kades yang Selingkuh dengan Bawahannya

Sebagai seorang kepala desa Ngatiyem mestinya menjaga tata krama dan etika. Apalagi dia seorang perempuan dan sudah punya suami serta anak pula.

Namun ketika cinta dan nafsu sudah membutakan segalanya, semua logika bisa terbalik. Bu Kades yang semestinya ‘ngemong’ atau momong warganya, justeru malah ‘momong’ anak buahnya yang merupakan salah seorang kepala seksi pada pemerintahan desa.

Atasan dan bawahan berpacu dalam birahi , jadi tak ada aturan main lagi siapa di atas siapa di bawah. Bahkan bisa gantian, kadang Bu Kades yang di bawah, kadang kalau mau ya gantian Bu Kades yang di atas.

Ngatiyem yang menjabat sebagai salah seorang kepala desa di Pasuruan, Jawa Timur ini, sejatinya jika sedang ‘kepengen’ atau kebelet, tinggal minta pada suaminya yang siap 1X24 jam. Akan tetapi karena di kantor desa ada anak buah yang usianya lebih muda, Bu Kades menilai enak dicoba dan perlu.

Begitulah perselingkuhan atasan dan bawahan berlangsung. Slamet, suami Ngatiyem bukan tak mengetahuinya, akan tetapi dia perlu bukti untuk menangkapnya ‘basah sebasah-basahnya’. Basah oleh keringat atau basah karena habis keramas.

Di hari Minggu (21/3) ketika tentunya kantor sedang libur kerja, Slamet membuntuti Sumar sang peselingkuh yang kala itu pergi dengan sepeda motor maticnya. Sumar langsung masuk ke sebuah rumah dan menguncinya dari dalam.

Sepuluh menit kemudian barulah Slamet dan sejumlah tetangga yang sengaja diajaknya mendobrak rumah tersebut. Benar saja, di dalam kamar rumah itu Ngatiyem dan Sumar berada dalam kamar dalam keadaan tanpa busana.

Sejumlah orang tak ayal menghakimi Sulam dengan bogem mentah. Bahkan ada yang berusaha mencabut golok. Namun beruntung polisi buru-buru datang hingga pasangan selingkuh itu bisa diamankan.

Atas kasus itu Sumar membantah telah melakukan perselingkuhan dengan atasannya. Dia bilang cuma ngobrol-ngobrol saja.

Akan tetapi Slamet , Suami Ngatiyem bilang, kejadian ini sudah yang ketiga kalinya. Rumah tangganya berantakan juga gara-gara orang ketiga ini.

Godaan karena jabatan ternyata bukan datang pada kaum pria saja, ternyata juga pada kaum hawa. Emansipasi macam apakah ini? ( Agus Suzana)
Catatan: nama para pelaku dalam peristiwa ini sudah disamarkan.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *