POSKOTA.CO – Kekhawatiran masyarakat penyebrangan virus korona CVOID-19 dijadikan ladang untuk mencari keuntungan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.
Sejak merebaknya isu virus korona pada akhir Desember lalu, kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk memproduksi masker palsu alias abal-abal dan menjualnya dengan mahal.
Harga masker langsung melambung tinggi bahkan ada yang sampai di atas Rp50 ribu/masker. Tidak hanya mahal, kini banyak beredar masker palsu tanpa lebel SNI.
Oleh karenanya masyarakat kini harus lebih teliti lagi dalam membeli masker yang beredar di pasaran.
Dr. Moh Adib Khumaidi S, POT dari Ikatan Dokter Indonesia yang juga menjadi Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia, memberikan informasi cara membedakan masker asli dengan yang abal-abal.
Yang harus diketahui, pertama masker yang diproduksi itu tidak sesuai standar. Kedua, mereka menggunakan merk atau label dari produsen masker ternama secara ilegal.
Adib mengatakan masyarakat sudah bisa membedakan kualitas masker itu secara kasat mata. Bisa dilihat dari material yang digunakan.
Masker bedah yang diproduksi sesuai standar dilengkapi lapisan halus. Lapisan ini berfungsi untuk menyaring partikel-partikel yang terbawa di udara saat kita bernapas.
“Kalau anda melihat masker tanpa lapisan ini, sebaiknya tidak usah dibeli. Alternatifnya, bisa menggunakan masker N95. Masker ini diklaim lebih efektif dalam karena dapat menyaring partikel halus berukuran 0,5-2.5 mikron sampai dengan 95 persen,” paparnya.
Dikatakannya, N95 lebih cocok digunakan petugas medis yang berinteraksi langsung dengan pasien corona. Tapi sebagai upaya pencegahan masyarakat juga bisa menggunakannya, meski masker bedah saja sebetulnya sudah cukup. (r)







Komentar