oleh

Usai Harga Pertamax Naik, Driver Ojol Berharap Tidak ada Kelangkaan Pertalite

JAKARTA – Sejumlah driver ojek online (ojol) berharap tidak adanya kelangkaan BBM subsidi alias Pertalite, dan pemerintah bisa menjaga kestabilan pasokan bahan bakar subsidi tersebut usai implementasi penaikan harga BBM non-subsidi alias Pertamax sejak 10 Juni lalu.

Para driver menilai ada peralihan penggunaan dari Pertamax kembali ke Pertalite mengingat perbedaan harga menjadi sangat signifikan pascapenaikan harga Pertamax.

Sebelumnya pada 10 Juni lalu, Pertamina Patra Niaga sudah melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax dan Pertamax Green. Harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari dari Rp12.300 dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

“Harapannya semoga pertalite gak berubah harganya dan jangan sampai barangnya kosong,” kata Saputra, driver ojol yang menekuni pekerjaan ride hailing sejak tahun 2020 ini, kemarin.

Driver asal Depok ini mengatakan kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax saat ini memang belum berdampak signifikan ke driver yang menggunakan BBM subsidi (Pertalite).

Namun jika terjadi banyak peralihan pengguna dari Pertamax ke Pertalite yang menyebabkan permintaan Pertalite meningkat, maka ada kekhawatiran stok berpotensi terbatas.

“Saya masih menggunakan pertalite, tetapi kedepannya saya percaya bahwa akan ada dampaknya juga lama kelamaan,” kata pria 40 tahun ini.

“Banyak driver pemakai Pertamax akan beralih ke Pertalite, nah dampaknya makin banyak lagi pemakai Pertalite ujung-ujungnya akan naik atau langka Pertalite dan pasti kalau sudah langka akan naik juga pastinya harga pertalite. Kan jadi imbas lagi ke kita juga,” katanya.

Pengemudi ojol lainnya, Haris menilai driver yang sejak awal menggunakan Pertalite sejauh ini tetap menggunakan jenis BBM subsidi tersebut. “Saat ini saya tetap mengandalkan Pertalite dan hanya menggunakan Pertamax jika memang diperlukan, misalnya saat antrean Pertalite terlalu panjang,” kata driver asal Depok ini.

Menurut dia, hal terpenting saat ini adalah bagaimana agar tingkat orderan atau permintaan tetap meningkat atau setidaknya stabil sehingga tidak mengganggu pendapatan mitra.

“Bagi saya, menjaga jumlah order tetap tinggi sangat penting karena pendapatan sebagai mitra driver sangat bergantung pada banyaknya pesanan yang diterima. Dalam kondisi biaya hidup yang terus meningkat, kestabilan order menjadi faktor utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, harapan saya ke depan adalah pelanggan tetap menggunakan layanan transportasi online sehingga penghasilan mitra dapat terus terjaga,” kata Harris.

Dia bersyukur karena hingga saat ini para mitrra driver ojol masih dapat mencari rezeki melalui platform yang tersedia. “Ke depan, saya berharap semakin banyak program apresiasi atau penghargaan bagi mitra yang berprestasi,” katanya.

“Kepada pemerintah, saya berharap setiap kebijakan yang berdampak pada masyarakat dapat mempertimbangkan kondisi rakyat dan sektor-sektor penting yang terdampak secara langsung. Sementara kepada perusahaan aplikator,” katanya. (ta)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *