JAKARTA-Industri lada global menghadapi perubahan yang semakin kompleks. Tidak hanya menyangkut produksi dan perdagangan, tetapi juga tuntutan terhadap mutu, keamanan pangan, keterlacakan, keberlanjutan, inovasi, hingga kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam International Pepper Day (IPD) 2026 yang diselenggarakan International Pepper Community (IPC) di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (30/9/2026). Mengusung tema “Power of Pepper: From Origin to Global Market”, forum ini mempertemukan negara produsen, pemerintah, pelaku industri, akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan lainnya.
IPC memproyeksikan produksi lada dunia pada 2026 mencapai 530.426 metrik ton, sementara ekspor global pada 2025 diperkirakan mencapai 418.519 metrik ton.
Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan lada dunia. Namun, di tengah pasar yang semakin terhubung, perubahan produksi, regulasi, standar, maupun permintaan di satu negara dapat memberikan dampak terhadap negara produsen lainnya.
Executive Director IPC, Marina Novira Anggraini, mengatakan perbedaan kondisi antarnegara justru menjadi alasan penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
“Realitas setiap negara berbeda, tetapi tantangan industri lada semakin saling terhubung. Karena itu, berbagi pengetahuan dan belajar satu sama lain menjadi semakin penting,” ujar Marina.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi negara produsen tidak hanya berkaitan dengan produktivitas. Tekanan perubahan iklim, kenaikan biaya produksi, keterbatasan tenaga kerja, keamanan pangan, keterlacakan, perubahan persyaratan pasar, hingga kebutuhan menciptakan nilai tambah menjadi bagian dari dinamika industri lada saat ini.
Dari Origin ke Nilai Tambah
International Pepper Day 2026 menempatkan origin atau asal produksi sebagai titik awal untuk melihat bagaimana lada dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih besar ketika terhubung dengan kebutuhan pasar.
Lima negara anggota IPC, yakni India, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, dan Viet Nam, berbagi perspektif mengenai karakteristik lada masing-masing, peningkatan mutu, diferensiasi produk, serta upaya memperkuat relevansi di pasar.
Perspektif kemudian diperluas dengan menghadirkan negara produsen lainnya, yakni RRT, Kamboja, dan Ekuador. Diskusi tidak hanya melihat besarnya produksi, tetapi juga bagaimana negara-negara tersebut merespons perubahan pasar dan membuka peluang kerja sama.
Sementara dari sisi industri, pembahasan diarahkan pada pertanyaan yang lebih praktis: apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar?
Konsistensi mutu, spesifikasi produk, keamanan pangan, keterlacakan, pengolahan, hingga inovasi menjadi sejumlah faktor yang semakin menentukan nilai komersial lada.
Pelaku industri seperti PT Haniori, Cultivia, dan Billiton turut berbagi pengalaman mengenai kebutuhan pasar, pengembangan produk, inovasi, serta peluang peningkatan nilai lada.
Pemanfaatan lada pun kini semakin berkembang. Komoditas tersebut tidak lagi terbatas pada produk lada utuh maupun bubuk, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi ekstrak, flavor, fragrance, serta berbagai produk konsumen bernilai tambah.
IPC Tidak Menggantikan Peran Negara
Marina menegaskan, sebagai organisasi antarpemerintah, IPC tidak dimaksudkan untuk menggantikan kapasitas yang telah dimiliki negara anggotanya.
Sebaliknya, IPC berperan menghubungkan data, pengetahuan, pengalaman regulasi, dan keahlian teknis yang dimiliki masing-masing negara agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Dalam praktiknya, IPC menyediakan informasi harga, ulasan pasar, statistik, informasi produksi, serta perkembangan kondisi tanaman. Sepanjang 2025, IPC menerbitkan 52 buletin harga lada dan 12 ulasan pasar.
IPC juga memantau perkembangan regulasi dan akses pasar melalui DIREX, pemantauan penolakan ekspor, serta penyebaran informasi regulasi kepada negara anggota.
Di bidang teknis, kerja sama mencakup standar mutu, metode analisis, uji profisiensi, kerja sama laboratorium, hingga pelatihan teknis.
Sepanjang 2025–2026, berbagai kegiatan IPC mencatat lebih dari 500 partisipasi. Namun, ukuran keberhasilan organisasi tersebut mulai diarahkan bukan semata pada jumlah kegiatan yang diselenggarakan.
“Yang penting bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi apakah informasi itu digunakan, apakah pengetahuan yang dibagikan membantu proses teknis atau pengambilan keputusan, dan apakah pada akhirnya pekerjaan kita memberi manfaat bagi negara dan komunitas yang kita layani,” kata Marina.
Menghubungkan Produksi dengan Kebutuhan Pasar
International Pepper Day 2026 pada akhirnya tidak hanya membahas bagaimana meningkatkan produksi lada, tetapi juga bagaimana memastikan produksi tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan pasar.
Setiap negara produsen memiliki karakteristik, sistem produksi, mutu, dan potensi yang berbeda. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut diterjemahkan menjadi diferensiasi, inovasi, dan nilai ekonomi.
Karena itu, dialog IPD 2026 dibangun dalam tiga tahapan, yakni kekuatan origin dan penciptaan nilai, perkembangan lanskap produsen lada dunia, serta kebutuhan pasar dan peluang penciptaan nilai.
Pendekatan tersebut mempertemukan sisi produksi dengan pengolahan, penelitian, inovasi, perdagangan, dan konsumen dalam satu rantai nilai.
Ke depan, IPC akan mendorong akses informasi pasar yang lebih luas, kesiapan negara produsen menghadapi perubahan regulasi, hubungan yang lebih erat antara penelitian dan kebutuhan lapangan, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas lada.
Rangkaian pembahasan tersebut akan dilanjutkan dalam 54th IPC Annual Session and Meetings and International Spices Exhibition 2026 yang berlangsung di Bali pada 30 November–4 Desember 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda IPC pada 2026 sekaligus momentum Keketuaan Indonesia di IPC sebelum kepemimpinan organisasi berlanjut kepada negara anggota berikutnya pada 2027. (fs)







Komentar