JAKARTA – Sepak bola selalu punya cara magis untuk meluruhkan kekakuan dan meruntuhkan sekat sosial. Pemandangan humanis itulah yang tersaji di halaman kantor Staf Dinas Teritorial (Dister) Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (23/6/2026) dini hari. Ratusan warga sipil dan prajurit korps baret biru duduk lesehan bersama, hanyut dalam ketegangan dan keseruan nonton bareng (nobar) akbar Piala Dunia 2026.
Pelataran kantor Dister disulap menjadi ruang publik yang hangat. Sejak sore, warga dari berbagai sudut di sekitar pangkalan udara sudah mulai berdatangan. Mulai dari remaja, hingga orang tua membaur tanpa canggung dengan para personel TNI Angkatan Udara. Atribut pangkat, seragam, dan status sosial mendadak tanggal, digantikan oleh satu gairah yang sama, menikmati indahnya sepak bola.
Laga yang dinanti mempertemukan raksasa Eropa, Timnas Prancis, melawan wakil Asia yang tangguh, Timnas Irak. Sepanjang 90 menit pertandingan, atmosfer pelataran Dister naik-turun mengikuti ritme di lapangan hijau. Sorak-sorai riuh menggema setiap kali peluang emas tercipta, diselingi tawa dan canda yang mencairkan dinginnya angin malam.
Pertandingan kedua tim tersebut berakhir dengan keunggulan telak Prancis atas Irak dengan skor akhir 3-0. Namun bagi mereka yang hadir, angka di papan skor hanyalah bonus, pemenang sejatinya adalah rajutan kebersamaan di atas karpet yang sama.
Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Ali Gusman, S.T., M.M., yang ikut membaur dan duduk lesehan di tengah-tengah kerumunan penonton, tampak menikmati setiap momen kedekatan tersebut.
Baginya, kegiatan ini bukan sekadar panggung hiburan semata atau pengisi waktu luang, melainkan juga instrumen strategis untuk merawat urat nadi kebangsaan dan merekatkan persaudaraan di tengah masyarakat.
“Sepak bola adalah bahasa universal yang tidak butuh penerjemah. Malam ini kita membuktikan bahwa olahraga mampu menjadi jembatan sosial yang paling efektif untuk mempererat hubungan antarkomponen bangsa. Kami ingin Lanud Halim bukan sekadar pangkalan militer yang kaku, tetapi juga menjadi ruang aman, nyaman, dan humanis di mana masyarakat bisa merasakan bahwa TNI adalah bagian utuh dari rahim rakyat,” ujar Marsma TNI Ali Gusman di sela-sela acara, sebagaimana dikutip media ini, Selasa (23/6/2026).
Lebih lanjut, Danlanud menekankan bahwa ikatan emosional yang terbangun secara alami seperti ini jauh lebih kuat daripada sekat-sekat formalitas. Melalui atmosfer yang kondusif dan penuh kekeluargaan ini, diharapkan multiplier effect (efek berantai) berupa rasa aman, persatuan, dan nasionalisme tinggi dapat tertanam langsung di hati sanubari masyarakat luas.
Ketika peluit panjang ditiup tanda pertandingan usai dan layar raksasa mulai meredup, kehangatan di halaman Dister Halim tidak lantas bubar. Warga dan prajurit masih tampak saling mengobrol dan membersihkan area bersama-sama. Malam itu menjadi saksi dan bukti konkret, bahwa pertahanan terbaik bangsa ini tidak melulu soal kecanggihan alutsista di udara, melainkan tentang sekokoh apa pelukan erat dan kemanunggalan antara TNI dan rakyatnya di bumi pertiwi. (*/aga)







Komentar