oleh

(R)evolusi Papan Penggilesan

POSKOTA.CO – Beberapa tahun lalu, adik bontot saya membeli mesin cuci otomatis. Yang dimaksud mesin cuci otomatis adalah dengan sekali tekan tombolnya, maka proses mencuci, membilas dan mengeringkan ada dalam satu tarikan. Dimulai dari satu ‘klik’ saja.

Mesin cuci miliknya lebih canggih dibanding mesin cuci jadul di rumah saya yang masih harus menekan tombol buangan air, tekan tombol untuk menyalurkan air bersih untuk membilas dan memutar tombol lagi untuk mengeringkan.

Tak lama lagi, di era gadget mesin cuci dan kulkas teve dan AC di rumah, bisa dikendalikan dari smartphone. Artinya sambil mencuci sekaligus masak, nonton teve atau main tik-tok. Kulkas akan lapor jika stok daging, telur, sayuran dan buah, sudah menipis. Lalu dengan klik kita terhubung ke minimarket terdekat dan langsung dikirim. Pembayarannya terdebit dengan sendirinya. Jaringan 5G, era robot, drone dan “IoT” : ‘Internet of Thing’, akan mengatasi semuanya.

Masih terkenang saat datang pertama ke ibukota –di penghujung tahun 1975– saya kebagian tugas mencuci pakaian. Saya nyuci pakai papan penggilesan, menggunakan sabun batangan B-29 dan membilas tiga kali di bak dari air yang dikompa tangan. Punggung rasanya patah sesudahnya dan tangan putih pucat keriput lantaran banyak membilas.

ilustrasi

Di kampung halaman, saya menonton teve hitam putih tetangga menyaksikan kejayaan Rudi Hartono dan Muhammad Ali, setelah sebelumnya berdiri mendongak di lapangan kecamatan dengan menahan pegal di leher, karena teve diletakkan di kotak tinggi. Hitam putih 14 inch.

Masa itu, saya –dan anak anak generasi saya– memimpikan bisa nonton teve sambil tiduran di rumah. Nonton ‘Aneka Ria’ TVRI, lawakan Ateng Iskak sambil makan kue bolu. Alangkah indahnya.

Semua impian itu sudah jadi nyata.
Sejak anak pertama saya lahir –dan kini sudah memberikan cucu– dia langsung nonton teve berwarna di rumah, sambil tiduran dan makan 4 sehat 5 sempurna sembari menyimak acara musik dan anak nongkrong di MTV.

Selama 40 tahun terakhir terjadi perubahan luar biasa. Dulu mesin jahit ‘Singer’ menjadi simbol gengsi setiap rumah tangga yang agak berada. Kini “Ibu Singer” menghilang –karena industri garmen maju pesat. Teve, kulkas dan mesin cuci bukan simbol gengsi lagi.

Ketika pertama memasang jaringan telepon di rumah di penghujung 1980-an, rasanya saya menjadi orang yang kaya. Kelas menengah. Kini setiap anak punya hape dan teve di kamar masing-masing. Minum air mineral dari galon. Tidak kenal kompa tangan.

“Di zaman Jokowi, bocah-bocah cilik udah pegang hape,” kata almarhum Ibu saya tahun lalu, yang khusus berpesan agar di Pilpres 2019 saya dan keluarga memilih Jokowi.

Hari-hari ini, setiap kali ada anak muda, pengamat dan politisi yang teriak “rakyat makin menderita”, “rakyat makin sengsara”, “rakyat makin tertindas” , “penguasa zalim”, ingin rasanya saya menghantam mulutnya dengan papan penggilesan. (supriyanto)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *