oleh

Cara Menanggulangi Penyakit Tha’un

RASULULLAH shalallahu alaihi wa sallam., telah bersabda, “Hai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah Swt., tidak sekali-kali membuat penyakit melainkan Dia membuat pula obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu penyakit ketuaan.” (HR. Imam Ahmad).

Setiap penyakit pasti ada obatnya kecuali satu jenis penyakit, yaitu penyakit tua. Dikatakan demikian karena usia tua merupakan pertanda bahwa diri seseorang sudah hampir habis perannya di dunia ini dan sesudah itu ia mati atau meninggal, karena tiada suatu makhluk pun di dunia ini kecuali ia pasti merasakan mati, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Al-Anbiya, 35).

Hadits ini menganjurkan kepada hamba-hamba Allah semuanya untuk berobat apabila mereka terkena penyakit. Allah Maha Pemurah terhadap hamba-hamba-Nya karena itu Dia sekali-kali tidak membuat suatu penyakit melainkan membuat pula obat untuk menawarkannya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Penyakit tha’un adalah sisa dari perbuatan dosa atau sisa azab yang pernah diturunkan oleh Allah kepada orang-orang Bani Israil. Karena itu apabila penyakit  tha’un melanda suatu kawasan, sedangkan kalian berada di dalam kawasan tersebut, maka janganlah kalian keluar darinya karena menghindarinya.

Dan apabila penyakit tha’un melanda suatu kawasan sedangkan kalian tidak berada di dalamnya, maka janganlah kalian memasuki kawasan tersebut.” (HR. Syaikhan). Atau hadits ini dengan cara di karantina.

Allah pernah menimpakan suatu azab berupa penyakit tha’un kepada segolongan kaum Bani Israil. Oleh karena itu, penyakit tha’un dikatakan merupakan sisa dari siksaan Allah yang pernah ditimpakan kepada mereka.

Hadits ini menerangkan tentang bagaimana cara menanggulangi_ penyakit tha’un agar tidak menyebar luas ke belbagai daerah. Apabila penyakit  tha’un menimpa suatu kampung, penduduk kampung yang ada di dalamnya tidak boleh kaluar karena barangkali ia telah terjangkit oleh penyakit  tha’un, tetapi belum pernah. Bila ia keluar dari kampungnya untuk menghindari wabah itu, berarti ia membawa wabah tersebut keluar, kemudian menularkannya kepada orang-orang sehat lainnya yang berada di kampung lain.

Oleh karena itu, mereka dilarang keluar dari kampung itu harus ditutup, tidak boleh ada orang yang datang kepadanya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, telah bersabda, “Ingatlah, aku akan mengajarkan kepadamu ruqyah (pengobatan dengan memakai doa) yang pernah dilakukan oleh malaikat Jibril terhadapku yaitu, hendaknya engkau mengucapkan: “Dengan menyebut nama Allah aku mengobatimu dan Allah-lah yang menyembuhkanmu dari semua penyakit yang menimpa, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”, engkau lakukan hal tersebut sebanyak tiga kali dalam ruqyah-mu.” (HR. Imam Hakim).

Dalam hadits yang serupa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Letakkanlah tangan kananmu pada bagian tubuh yang engkau rasakan sakit, lalu usapkanlah sebanyak tujuh kali padanya, kemudian ucapkanlah: “Aku berlindung kepada keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan penyakit yang aku derita”, pada setiap kali usapan.” (HR. Thabrani).

Salah satu di antara pengobatan yang pernah dilakukan oleh Nabi Saw. ialah memakai cara ruqyah seperti yang disebutkan oleh hadits di atas, yaitu dengan membaca ta’awwudz  tersebut, setelah itu meniupkannya ke tangan kanan disertai dengan sedikit ludah, lalu diusapkan kepada anggota tubuh yang sakit. Arti doa tersebut ialah, “Aku berlindung kepada keagungan dan kekuasaan Allah dari kejahatan penyakit yang sedang kurasakan sekarang ini.” Hendaklah seseorang melakukannya sebanyak tujuh kali dengan hati yang ikhlas dan penuh rasa tadharru,  Insha Allah ia akan disembuhkan dari penyakit yang dirasakannya.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, telah bersabda, “Barangsiapa  meminum madu di pagi hari selama tiga hari untuk setiap bulannya, niscaya ia tidak akan terkena penyakit yang berat.” (HR. Ibnu Majah).

Orang yang meminum madu di pagi hari selama tiga hari setiap bulannya, Insha Allah tidak akan terserang penyakit yang berat. Dikatakan demikian karena di dalam madu terkandung obat yang dapat menyembuhkan dari penyakit. Dalam hal ini Allah telah berfirman, “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang di buat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (QS. An-Nahl: 68-69).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, telah bersabda, ” Air zamzam bergantung kepada niat peminumnya; barangsiapa meminumnya untuk menyembuhkan penyakit, niscaya Allah akan menyembuhkan penyakitnya, atau untuk pengganjal rasa lapar, niscaya Allah akan membuatnya kenyang; atau untuk suatu keperluan, niscaya Allah akan memenuhinya. Air Zamzam merupakan penawar bagi semua penyakit.” (HR. ad-Dailami).

Keistimewaan yang terkandung di dalam air zamzam ialah dapat dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit menurut niat peminumnya.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam , telah bersabda, “Makanlah  buah kurma lalu kunyahlah, karena sesungguhnya buah kurma itu dapat membunuh cacing.” (HR. ad-Dailami).

Allah Swt. telah berfirman, “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. an-Nahl: 11)

Di antara khasiat buah kurma ialah dapat membunuh cacing yang menjadi parasit dalam perut.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, telah bersabda, Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), kalimah ini merupakan penawar bagi sembilan puluh sembilan macam penyakit, yang paling ringan adalah kesusahan.” (HR. Ibnu Abud Dun-ya melalui Abu Hurairah r.a.).

Keutamaan yang dimiliki oleh kalimah  Laa Haula Walaa Quwwata  Illaa  Billaah ialah dapat menawarkan (menyembuhkan) orang yang banyak membacanya dari sembilan puluh sembilan penyakit, dari yang ringan seperti kesusahan, hingga yang lebih berat dari itu. Barang siapa yang ingin terhindar dari berbagai macam penyakit, maka kendaklah kita memperbanyak bacaan kalimah tersebut.

Sewaktu Rasulullah Shalallahu  alaihi wa sallam, mengutus Mu’az bin Jabal hendak dikirim ke Yaman menjabat Qadi, ia ditanyai oleh Rasulullah Saw: “Dengan apakah engkau menjalankan hukum?” “Dengan Kitab Allah”, jawab Mu’az. “Kalau engkau tak dapat keterangannya dari Al-Qur’an?”. “Dengan Sunnah Rasul,” jawabnya lagi. “Kalau engkau tak dapat pula keterangannya dalam Sunnah Rasul?” “Saya berijtihad dengan akal saya, dan saya tidak berputus asa.”

Kemudian sewaktu Rasulullah Saw. dapat pengaduan dari para sahabat tentang hasil panen kebun kurma yang tidak berhasil, jauh dari harapan para sahabat, dimana Rasulullah Saw. awal nya telah memberi petunjuk atau metode cara bertanam kurma, maka jawaban Rasulullah, “Anda lebih tau tentang urusan dunia”.

Dengan dua hadits di atas ini maka bisa jadi penanganan merebaknya penyakit tha’un (penyakit menular) yang sekarang disebut corona dengan mengikuti petunjuk para ahli medis, para ahli obat dan para dokter .

Semoga kita terhindar dari wabah penyakit ini, hanya kepada Allah kita minta pertolongannya. Semoga.

Karsidi Diningrat

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

* Anggota PB Al Washliyah

* Penasehat PW Al Washliyah Jabar.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.