oleh

Bandit Juga Manusia

POSKOTA.CO – T. Ratna merilis karya barunya, novel dengan title “Grek”. Sebuah fiksi berbalut kriminal milenial, narkoba dan mix dengan sentuhan cinta. Sebuah terobosan yang bagus dan keluar dari zona nyaman penulis wanita pada umumnya. Dan dipersiapkan dengan matang. Dengan akurasi kehidupan dunia hitam yang kuat. Dan sarat tersimpan pesan moral.

Karya T. Ratna sebelumnya masih seputar “keindahan bunga” yang so sweet. Seperti landscape lukisan yang hanya indah saja.

Di karya terbarunya ini jangan tertipu dengan judulnya, “Grek” yang terkesan anglo saxon. Tidak seperti nama fiktif Santos yang berasal dari potongan nama Santoso –biar keren. Grek disini punya makna hancur. Berasal dari bahasa Jawa, legrek (bisa juga diartikan rapuh –fragile, mudah hancur). Dan itu berkaitan dengan kisah atau kepribadian Grek. Sebuah watak yang digambarkan paradoks. Bergelut dengan dunia hitam tapi rapuh, rentan.

Dalam tradisi orang Jawa memang ada pemberian julukan tertentu yang disebabkan si anak sering sakit. Saya punya teman dipanggil “kampret”. Menurut yang bersangkutan karena dirinya sewaktu kecil sakit-sakitan.Tapi setelah dipanggil kampret tidak pernah sakit lagi. Believe it or Not.

Grek adalah sosok lelaki yang kecilnya sakit-sakitan. Legrek. Tumbuh di lingkungan yang sarat dengan peliknya hidup.
Ayahnya pergi meninggalkannya dan ibunya saat Grek berusia dua tahun.
Kehidupan yang serba kekurangan membuat Grek terobsesi mempunyai banyak harta. Untuk kebahagiaan sang ibu yang ia pikir telah begitu banyak berkorban untuknya.
Pilihannya tak main-main menjadi bandit. Machiavelli.

Ia ingin membuat istana bagi ibundanya sebagai salah satu keinginan. Dengan cara yang ia tahu dan kenal sejak ia masih kanak kanak. Kekerasan!
Hidup itu keras, dan harus dihadapi dengan cara yang lebih keras.
Semua di dunia ini keras, kecuali cinta ibunya. Itu pendapat Grek. Dan Grek bergelimang dosa tapi juga memiliki sejuta cinta. Begitulah Grek.

Ini yang menarik, ada sentuhan manusiawi yang kuat antara dunia kejahatan dengan cinta dan kasih sayang. Antara Grek dan ibunya. Inilah salah satu sisi menarik novel ini. Yang membedakannya dengan kisah bandit yang lain. Disini humanisme disentuh. Bandit kan juga manusia. Porsinya humanismenya pas, tidak lebih tidak kurang. Sebagaimana Don Vito Corleon mafioso terkenal dalam “The Godfather” saat berkata, “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man…”

Ibunda Grek yang menjadi korban KDRT adalah figur yang menjadi panutan dan center kehidupan Grek.
Ibu adalah nafas kehidupannya.
Sementara bagi ibunya, Grek adalah embun pagi sekaligus mataharinya.

“Sekalipun engkau telah sebesar gajah, engkau tetap anak ibu.” Begitu gambaran sang ibu terhadap Grek, sang anak yang sangat disayangnya.

Sayangnya sang ibu tak sempat memberi nilai-nilai moral kepada Grek saat masih kanak-kanak. Waktunya habis untuk mencari cara memperpanjang kehidupan atau survive. Agar Grek, permata hatinya, bisa tetap hidup dan sehat.

Dengan berjalannya waktu Grek tumbuh menjadi laki-laki yang matang. Secara fisik maupun kematangan di dunia hitam.
Peredaran narkoba, penipuan online adalah sebagian dari pekerjaannya sehari hari.

Pada sisi lain, ada seorang gadis bernama Karmelia. Seorang jurnalist independen yang pada suatu saat menjadi korban penipuan si Grek.

Tanpa terduga Karmelia dan Grek bertemu dalam sebuah kesempatan.
Dan mereka saling jatuh cinta.
Pada saat yang bersamaan ada kesadaran yang tumbuh pada ibunda Grek tentang keberadaan Tuhan dalam hidupnya.
Ia mencari keberadaan Sang Pembuat Kehidupan. Ia menemukan kesadarannya bahwa ternyata kebahagiaan yang hakiki adalah yang datang dari Sang Penentu Takdir.

“Meskipun aku tak pandai berdo’a, tetapi engkau ada dalam do’a ibuku, Elia. Dan aku tak pernah ragu atas kebenaran doanya.”

Itu sepenggal kalimat dari Grek kepada Elia. Yang menunjukkan betapa besar pengaruh sang ibu bagi kehidupan Grek.

T. Ratna menyukai dunia tulis menulis sejak remaja.
Namun benar -benar serius menulis justru setelah usianya baya.
Karyanya ada beberapa.
Dua buku solo kumpulan puisi telah diterbitkan, juga satu buku Kumpulan Cerpen. Serta banyak lagi tulisan-tulisan yang diterbitkan bersama beberapa penulis lain.

Novel “Grek” adalah karyanya yang terbaru, yang terbit pada awal 2022. Komunitas menulis yang diikuti T Ratna jelas punya pengaruh. Mendewasakan dan mematangkan karyanya. Grup itu antara lain Komunitas Penulis Indonesia dan Jenius Writing.
“Membaca adalah tempat peristirahatanku.
Harapanku masih tetap bisa menulis sampai ajal menjemputnya,” katanya.

Membaca “Grek”, tidak terasa tiba-tiba selesai. Bisa dihabiskan dalam waktu satu hari saja. Ceritanya mengalir begitu lancar seperti air mengalir dengan dibagi dua plot. Plot pertama awal muasal Grek kecil sampai usia remaja lalu cerita melompat saat Grek diusia 30 tahunan.

T Ratna

Novel “Grek” diatas ekspektasi yang dibayangkan. Karena bahasanya yang natural dan enak dibaca. Sebanyak 340 an halaman bisa diselesaikan tanpa terasa. Keberanian mengangkat tema “dunia hitam” merupakan hal yang patut diapresiasi. Novel ini juga menginspirasi dalam mensyukuri kehidupan, karena ada orang hidup seberat yang dihadapi Grek.

Dalam novel ini ada tiga bahasa yang disertakan — Jawa, Indonesia dan Inggris, juga diksi yang dipilih semakin menambah keabsahannya.
Ceritanya masuk akal (plausible) dengan twist yang memikat. Tidak fantastis, lumrah. Sebuah kisah maskulin yang dikemas apik dalam nuansa feminin (karena bagaimanapun penulisnya wanita). Sehingga meskipun ber-genre romance (karena tetap menguras air mata). Namun, tetap terkesan gagah, tidak cengeng dan tidak membosankan.

Puncaknya sepak terjang Grek di dunia hitam akhirnya membuahkan pidana penjara selama 5 tahun. Tetapi ada cinta sepenuh jiwa dari dua orang perempuan; ibu dan kekasihnya yang membuat Grek mampu melalui semua keruwetan hidup dengan bijak. Juga peran ayah yang menghilang tetapi bisa meringankan hukumannya adalah kisah yang tak mudah ditemukan.

Sekali lagi, seorang T. Ratna mengulur kisah dengan bagai pedalang kondang. Meskipun masih ada beberapa typo yang ditemui di beberapa lembar halaman bukunya, tetapi secara keseluruhan tulisannya patut diacungi jempol.

Membaca novel “Grek” serasa menyaksikan sebuah film yang mengharu biru. Filmis.
Memerlukan waktu yang lama untuk move on dari kisah Grek, dikarenakan kesan kuat yang tertoreh pada memori pembacanya.

Hal yang paling menarik sehingga saya betah membaca novel ini adalah kisahnya yang penuh dengan kejutan. Penggambaran yang sangat hidup.
Penuh nilai kehidupan. Sarat nasehat meski tidak ada ungkapan yang menggurui.

Bagi para penikmat cerita romance, maka novel ini sangat recomended.
Tidak rugi membelinya. (dann julian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.