POSKOTA. CO – Globalisasi pasar daging sapi di era modern saat ini turut mempengaruhi perkembangan segmen pasar daging di Indonesia.
Suplai daging sapi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan pasar khusus, seperti hotel, restauran dan supermarket yang menghendaki daging kualitas premium.
Neraca suplly-demand daging sapi secara nasional menunjukan adanya defisit yang terus membengkak hingga 280 ribu ton atau 40 persen pada tahun 2019. Sementara, kebutuhan daging kualitas premium praktis diimpor dari manca negara dengan jumlah mencapai lebih dari 5000 ton pada tahun 2019.
Prof Dr Rudy Priyanto kepada wartawan mengatakan, melihat kondisi demikian menuntut adanya pengembangan sumber daya sapi lokal, tidak cukup diarahkan pada peningkatan populasi saja tetapi juga pada peningkatan produksi dan kualitas dagingnya.
Sapi lokal merupakan sumberdaya ternak penghasil daging yang sangat potensial di Indonesia. Populasi sapi lokal saat ini tercatat sekitar 17 juta ekor yang terdiri atas berbagai rumpun, yaitu sapi Bali dengan populasi tertinggi 33 persen.
Hasil studi morfometri terhadap berbagai rumpun sapi lokal menunjukan adanya keragaman ukuran kerangka tubuh (frame size) yang menggambarkan perbedaan tipe maturity, performa pertumbuhan dan bobot potong sapi.
Perlu Dikembangkan
Prof Rudy menegaskan, studi morfometri juga berhasil mengidentifikasi parameter tubuh yang menjadi penciri sapi tipe pedaging (beef type) dan sapi tipe kerja (draft type).
Berdasarkan kajian morfometri tersebut, sapi lokal perlu dikembangkan menjadi sapi tipe pedaging (beef type) melalui peningkatan ukuran kerangka dan dimensi tubuh terutama lebar pinggul, lebar dada dan dalam dada.
Rumpun sapi lokal yang berkembang di Indonesia saat ini masih didominasi oleh sapi berkerangka tubuh kecil hingga sedang, yaitu sekitar 80 persen. Sapi lokal tersebut merupakan keturunan Bos javanicus, Bos indicus yang merupakan sapi tipe kerja, dan hasil persilangan dari kedua jeni sapi tersebut.
Menurut Prof Rudy, sapi lokal ini memiliki sifat pertumbuhan dan bobot potong yang relatif rendah, sehingga sulit memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri.
“Program persilangan antara sapi Bos indicus dan Bos taurus yang dikembangkan di daerah tropis dimaksudkan untuk membentuk sapi Bos taurus-indicus yang mampu beradaptasi pada iklim tropis dari Bos indicus, sekaligus memiliki keunggulan performa pertumbuhan dari Bos taurus,” kata Prof Rudy Kamis (21/10/2021).
Ia menambahkan, hasil studi evaluasi karkas membuktikan bahwa sapi Bos indicus cenderung memiliki perkembangan otot yang lebih baik pada potongan daging kelas II bagian leg (rump, topside, silverside), sementara sapi Bos taurus memiliki keunggulan dalam perkembangan otot pada potongan daging kelas I bagian punggung (striploin), serta potongan daging kelas III bagian dada (brisket) dan leher (neck).
Sapi silangan Bos taurus-indicus cenderung menggabungkan keunggulan perototan dari kedua jenis sapi tersebut, yaitu keunggulan distribusi otot pada potongan daging kelas I (striploin), potongan daging kelas II (rump dan topside) dan potongan daging kelas III (neck).
Keunggulan Sapi Silangan
Untuk pertumbuhan dan distribusi lemak, sapi Bos indicus dan Bos taurus memiliki deposisi lemak yang merata pada hampir semua potongan daging, sedangkan sapi hasil persilangan Bos taurus-indicus memiliki deposisi lemak yang relatif rendah pada hampir semua potongan daging.
Hasil kajian tersebut membuktikan adanya keunggulan sapi silangan Bos taurus-indicus dalam produksi daging (meat yield) dan nilai ekonomis daging,”ujarnya.
Prof Rudy menjelaskan, jika menggunakan asumsi jumlah pemotongan sapi sebesar ± 2,25 juta ekor pada tahun 2019, program persilangan sapi lokal melalui IB dengan semen Bos taurus dapat meningkatkan bobot potong sapi dari sekitar 350 Kg menjadi 550 Kg, dengan potensi peningkatan produksi daging secara nasional dapat mencapai lebih dari 200 ribu ton/tahun atau sekitar 70 persen dari total impor daging.
Oleh karena itu, strategi pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri berbasis sumberdaya lokal dapat dilakukan dengan cara pengembangan rumpun sapi lokal kearah tipe pedaging (beef type) melalui program persilangan dengan Bos taurus yang mampu beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia sekaligus memiliki performa pertumbuhan dan produksi daging yang tinggi. (Yopi)







Komentar