Oleh : Syaifudin
DI balik bangunan megah dan jargon-jargon akademik yang menghiasi kehidupan kampus di Indonesia bahkan dunia, tersembunyi kehidupan yang tidak kalah dramatis dari panggung masyarakat luas sebenarnya. Kampus bukan hanya ruang kuliah dan publikasi tulisan ilmiah semata. Ia juga adalah arena sosial tempat ambisi dipertarungkan, reputasi dipertaruhkan, dan kekuasaan diperjuangkan dengan cara-cara yang terkadang diam tapi menyakitkan. Kampus, sebagaimana kehidupan masyarakat pada umumnya, adalah ladang konflik yang diselimuti senyum diplomatis dan basa-basi akademik. Di kampus manusia-manusia diasah bukan hanya oleh teori, tetapi oleh kerasnya relasi sosial yang tak jarang menelanjangi wajah asli manusia itu sendiri.
Kampus kerap dipersepsikan sebagai ruang intelektual yang steril dari konflik dan hiruk-pikuk sosial. Namun dalam praktiknya, kehidupan kampus mencerminkan dinamika sosial yang kompleks dan sering kali menjadi miniatur dari realitas masyarakat luas. Di balik semangat akademik dan wacana ilmiah, kampus juga menjadi arena reproduksi struktur sosial, ketimpangan kekuasaan, dan kontestasi simbolik yang tidak jarang menimbulkan konflik, persaingan, dan ketegangan antar individu maupun kelompok.
Pada konteks ini, penulis ingin menelaah fenomena kehidupan kampus sebagai refleksi dari struktur sosial masyarakat secara luas. Melalui lensa sosiologis, penulis ingin menggambarkan bagaimana konflik sosial dan ketegangan dalam kehidupan kampus bukanlah anomali, melainkan cermin dari struktur dan dinamika sosial yang lebih besar.
Reproduksi Mikro Struktur Sosial
Pierre Bourdieu dalam teorinya tentang habitus dan reproduksi sosial menjelaskan bahwa institusi Pendidikan (termasuk kampus), tidak hanya berfungsi mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mereproduksi nilai-nilai dominan, stratifikasi sosial, dan kekuasaan simbolik. Kampus bukan ruang yang netral, namun ia adalah situs kontestasi antar kelas sosial, etnis, gender, dan kepentingan politik yang dibalut dalam wacana akademik.
Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan bukan hanya aktor akademik, tetapi juga subjek-subjek sosial yang membawa latar belakang budaya, ideologi, serta posisi sosial yang beragam. Ketika berbagai latar belakang ini bertemu dalam ruang yang terbatas, maka terjadilah interaksi sosial yang penuh potensi konflik dan ketegangan.
Dalam banyak kasus, konflik di kampus tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik atau verbal, tetapi juga dalam bentuk simbolik. Persaingan antarmahasiswa untuk meraih prestasi akademik, beasiswa, atau posisi dalam organisasi kemahasiswaan sering kali melahirkan pertikaian, rasa iri dan dengki. Perasaan ini bisa muncul karena sistem meritokrasi kampus yang pada dasarnya mengedepankan prestasi individu, sehingga secara tidak langsung menciptakan ruang persaingan yang intens.
Dosen, sebagai bagian dari elite intelektual kampus, juga tidak terlepas dari konflik internal. Perselisihan antar departemen atau program studi hingga fakultas, perebutan jabatan struktural, hingga kompetisi dalam proyek penelitian dan publikasi menunjukkan bahwa kampus juga menjadi medan perebutan modal sosial, ekonomi, dan simbolik. Seorang dosen senior yang merasa kehilangan pengaruh karena munculnya dosen-dosen muda dengan gelar luar negeri atau produktivitas akademik tinggi, bisa saja menunjukkan resistensi simbolik atau bahkan menjadi bagian dari konflik yang lebih besar dalam struktur kampus.
Konflik seperti ini menggambarkan bagaimana institusi kampus tidak steril dari dinamika kekuasaan yang bersifat primordial. Konsep konflik sosial dari Ralf Dahrendorf relevan untuk menjelaskan kondisi ini. Bagi Dahrendorf, setiap struktur sosial menyimpan konflik laten akibat pembagian kekuasaan yang tidak merata. Kampus pun demikian, di balik struktur formal yang tampak demokratis dan meritokratis, tersembunyi struktur informal yang membentuk aliansi, patronase, dan subordinasi.
Ketegangan Sosial Kampus
Ketegangan sosial dalam kehidupan kampus tidak dapat dipahami sekadar sebagai emosi individual. Ia merupakan gejala struktural dari sistem sosial yang menekankan kompetisi, individualisme, dan pencapaian. Dalam masyarakat kapitalistik yang kompetitif, institusi pendidikan menjadi lokus internalisasi nilai-nilai tersebut. Ketika individu merasa gagal memenuhi standar kesuksesan yang ditetapkan sistem, maka muncullah frustrasi, perasaan inferior, dan akhirnya pertikaian terhadap mereka yang lebih berhasil.
Ketegangan sosial pun tidak jarang diperparah oleh perbedaan ideologi, agama, atau etnis di kalangan warga kampus. Fenomena ini terlihat nyata dalam polarisasi politik mahasiswa menjelang pemilihan umum, atau dalam diskusi-diskusi keagamaan yang berujung pada eksklusivisme kelompok. Kampus menjadi ajang kontestasi ideologi, di mana identitas kolektif digunakan sebagai alat legitimasi atau bahkan dominasi.
Dalam konteks ini, konsep konflik simbolik dari Randall Collins berguna untuk menjelaskan mengapa ketegangan sosial di kampus dapat berlangsung secara terus-menerus. Menurut Collins, konflik tidak hanya terjadi karena perebutan sumber daya material, tetapi juga karena pertarungan status, pengakuan, dan makna. Seminar akademik, organisasi kampus, bahkan grup diskusi menjadi arena simbolik tempat para aktor berusaha mempertahankan posisi dan legitimasi mereka di mata kolektif.
Kampus sebagai Medan Dialektika Sosial
Namun kehidupan kampus tidak hanya mencerminkan konflik. Ia juga menjadi ruang dialektika sosial, di mana resistensi dan adaptasi berlangsung secara bersamaan. Mahasiswa yang menyadari ketimpangan sistemik dapat menjadi agen perubahan melalui kritik, gerakan sosial, dan riset-riset transformatif. Dosen yang progresif pun dapat memanfaatkan otonomi akademik untuk mengembangkan wacana kritis dan membuka ruang refleksi atas struktur kampus yang hierarkis dan elitis.
Dalam konteks ini, interaksionisme simbolik dari Erving Goffman menjadi penting. Goffman melihat kehidupan sosial sebagai panggung di mana setiap individu memainkan perannya, baik di “front stage” maupun “back stage”. Mahasiswa yang tampak aktif dan cerdas di ruang kelas, bisa jadi menyembunyikan kegelisahan personal di balik performanya. Dosen yang karismatik di depan publik, bisa jadi menyimpan konflik batin atas tekanan struktural atau marginalisasi akademik. Realitas kampus, dengan demikian, adalah konstruksi sosial yang berlapis-lapis, penuh simbol, dan tidak selalu apa yang tampak di permukaan.
Dengan segala kompleksitasnya, kampus bukan hanya tempat belajar, melainkan juga tempat untuk memahami dan mengalami dinamika sosial masyarakat dalam skala mikro. Ia mencerminkan bagaimana struktur sosial bekerja, bagaimana konflik dan harmoni dibentuk, serta bagaimana individu berjuang menegosiasikan identitas dan posisi sosial mereka.
Maka, penting bagi sivitas akademika untuk tidak terjebak dalam romantisme kehidupan kampus yang seolah murni akademik dan bebas konflik. Justru dengan menyadari bahwa kampus adalah miniatur masyarakat, kita dapat membangun kesadaran kritis, etika sosial, dan solidaritas kolektif yang dibutuhkan dalam membentuk masyarakat yang adil dan manusiawi.
Kampus tidak harus menjadi replika dari ketimpangan sosial masyarakat. Ia bisa menjadi ruang eksperimentasi sosial yang etis, dialogis, dan membebaskan. Untuk itu, memahami konflik, pertikaian dan ketegangan bukan untuk membenarkannya, tetapi untuk meretas jalan menuju perubahan struktural, sosial, dan kultural dalam ruang akademik yang lebih manusiawi, akademis, dan beradab.
(Dosen Pendidikan Sosiologi FISH UNJ).







Komentar