oleh

Sempat Berselisih, Ketum GPHN Tetap Apresiasi Kejati Banten Ungkap Kasus BJB Tangerang

POSKOTA.CO – Ketua Umum GPHN RI Madun Hariyadi selaku penggiat antikorupsi sempat bersitegang dengan Kejati Banten pada kasus BJB Cabang Tangerang, sekalipun demikian Madun terus mendukung Kejati Banten dalam mengungkap kasus korupsi yang dilakukan Derandra dan Kunto Aji yang saat ini statusnya sudah menjadi terdakwa.

Setelah melalui penelusuran tim investigasi didapati terdakwa kasus korupsi BJB Cabang Tangerang tidak hanya kali ini melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan keuangan negara, terdakwa Kunto Aji dan Derandra juga pernah melakukan hal yang sama ketika Kunto Aji masih menjabat sebagai kepala cabang Purwakarta, dengan modus yang sama.

Pada kasus ini para tersangka sangat merugikan pihak Bank BJB dan masyarakat yang memiliki kepentingan di BJB.

Seperti yang dirasakan oleh seorang nasabah bernama Unep Hidayat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang dan sepasang pengusaha dari Bandung Djuanningsih dan Djodi Setiawan. Ketiga korban ini tidak pernah menyangka bahwa kedua terdakwa yang awal perkenalannya menawarkan kerja sama untuk mendirikan koperasi ternyata hanya akal-akalan yang sudah terencana.

Ketiga korban tidak menyadari bahwa ada rencana busuk para terdakwa, hingga pada akhirnya baru sadar setelah Tim Penyidik Kejati Banten melakukan penyelidikan adanya dugaan tindak pidana korupsi di BJB Cabang Tangerang tahun 2015 yang dilakukan oleh para terdakwa Kunto Aji mantan kepala cabang BJB Tangerang dan Derandra yang berperan sebagai debiturnya.

Saat disambangi, Djuanningsih menyampaikan akibat siasat licik yang dilakukan kedua terdakwa, kami mengalami kerugian hampir tiga miliar dan kami pun terseret-seret ikut diperiksa penyidik Kejati Banten.

“Bahkan kami merasa malu dengan keluarga dan lingkungan sekitar, padahal kami berempat termasuk karyawan saya adalah korban kelicikan terdakwa Kunto Aji dan Derandra,” tuturnya, Senin (3/5/2021).

“Kami tidak akan berhenti sampai di situ, tim investigasi akan terus menggali informasi lebih lanjut lagi dan mendapatkan informasi serta data terkait kredit macet di Purwakarta pada saat terdakwa Kunto Aji sebagai kepala cabang BJB Purwakarta dan Derandra sebagai debitur dengan memperalat Gugum Gumelar dijadikan direktur dan berhasil membobol Bank BJB Cabang Purwakarta diduga merugikan keuangan negara Rp3 miliar lebih,” imbuh Madun Hariyadi.

Lanjut Madun mengatakan, selain pasangan suami istri ini, ada lagi korban kelicikan para terdakwa yaitu Saudara Edi yang pada saat diadakannya akad kredit di BJB Purwakarta, terdakwa juga memperalat Gugum Gumelar untuk pengajuan akad kredit di BJB Purwakarta sebesar Rp3,5 miliar.

Tim investigasi meminta keterangan kepada Ketua Umum LSM GPHN RI yang memiliki beberapa data kasus BJB, dalam keterangannya Madun Hariadi menyampaikan, ini kuat dugaan para pemain adalah aktor pembobol Bank BJB, dan ini sudah terencana dengan sangat matang. Selain memperalat pengusaha, terdakwa kasus ini pun telah memperalat beberapa orang dari Dinas Pendidikan di beberapa wilayah yang ada di Jawa Barat.

“Pokoknya toplah kecerdikan dan kepintaran para terdakwa ini, tapi dalam kasus ini saya dan tim pengacara fokus memperjuangkan keadilan para saksi Djodi dan istri, Unep Hidayat dan Wawan, terutama Djuanningsih dan Djodi Setiawan yang dengan terpaksa menitipkan uang pribadinya Rp2,3 miliar di rekening Kejati Banten, dan kami bisa buktikan uang Rp2,3 miliar milik Djuanningsih itu tidak ada kaitannya dengan perkara pidana. Hal ini sudah dikuatkan oleh keterangan saksi ahli dari BPKP,” pungkas Madun. (ftr)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *