oleh

Jadi Saksi Korupsi Rp186,5 Miliar, Eks Pejabat Bank Banten Akui Kredit PT HNM Janggal

POSKOTA.CO,–Kredit PT HNM untuk pembangunan tol di Palembang pada Bank Banten dinilai mencurigakan sejak awal. Hal itu dikatakan mantan pejabat di lingkungan Bank Banten Darwinis saat menjadi saksi di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (5/10/2022).

Darwinis adalah mantan Kepala Unit Administrasi dan Sekretaris Komite Kredit Bank Banten pada 2017. Ia menguraikan kejanggalan dari jenis kredit sampai pencairan kredit ke PT HNM. “Diputuskan dengan berbagai syarat yang dituangkan,” kata saksi Darwinis.

Menurutnya, PT HNM mengajukan kredit melalui terdakwa Rasyid Samsudin pada Juni-Juli 2017. Dalam rapat teknis, disepakati pengajuan harus disertai dengan Surat Perintah Kerja (SPK) PT HNM dari proyek tol di Palembang.

Setelah dilengkapi syaratnya, dilakukan rapat komite kredit yang dihadiri para petinggi Bank Banten. Hadir dalam rapat itu, Direktur Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa, Kamal Idris yang saat ini menjabat Direktur Kepatuhan Bank Banten, para direksi, komite kredit serta terdakwa Satyavadin Djojosubroto.

Dikatakan saksi Darwinis, saat itu Satyavadin menjabat Kepala Divisi Komersial plus kepala kantor di DKI Jakarta. Nilai kredit pertama yang disetujui adalah kredit investasi Rp 12 miliar dan kredit modal kerja Rp 17 miliar.

Namun lanjut saksi, semestinya komite kredit atau Bank Banten sendiri tidak menyetujui kredit yang diajukan PT HNM. Alasannya, dalam SPK, pencairan kredit janggal karena tidak melalui Bank Banten, tapi ke bank lain.

“Saya sendiri keberatan, saya bilang ini SPK tidak dilayani. Pencairannya bukan di Bank Banten, tapi di BRI,” ujarnya.

Namun saran itu dibantah oleh direksi lain dengan alasan ada pengalaman bank daerah lain bisa melakukan pencairan model tersebut. Setelah itu, katanya, muncul penawaran kredit kedua dari PT HNM dengan nilai Rp 50 miliar. Yang janggal kata Darwinis lagi, jenis kredit yang digunakan bukan kredit investasi atau modal kerja tapi standby load. Semestinya PT HNM sudah harus melunasi kredit pertama sebelum disetujui kredit kedua.

“Normalnya harus dilunasi dulu,” ujarnya.

Kejanggalan lain menurut saksi Darwinis terkait pencairan kredit investasi. Pencairan dilakukan ke rekening pribadi terdakwa Rasyid. Alasannya, pembelian PT HNM ke perusahaan dealer untuk investasi mobil berat sudah dilunasi oleh terdakwa. “Kami menandatangani Satyavadin, katanya nasabah kami bonafide. Kedua, dia sampaikan, ‘memang Bapak berani membatalkan kredit investasi’,” tuturnya.

Untuk diketahui, korupsi di Bank Banten merugikan negara Rp 186,5 miliar. Dua orang jadi terdakwa yaitu Satyavadin Djojosubroto dan Rasyid Samsudin.(Omi/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *