oleh

Berharap Program 100 Hari Kapolri Tumpas Teroris dan Kejahatan Teknologi

POSKOTA.CO – Pengamat Hukum Stefanus Gunawan, SH, M.Hum berharap program 100 hari Jenderal Listyo Sigit Prabowo setelah dilantik menjabat Kapolri, diharapkan lebih terfokus pada persoalan ancaman teroris dan kejahatan teknologi.

Menurut Ketua DPC Peradi SAI (Perhimpunan Advokat Indonesia – Suara Advokat Indonesia) Jakarta Barat ini, selain pelanggaran hukum yang terjadi di tengah masyarakat, tindak pidana teroris dan kejahatan teknologi ini terbilang sangat meresahkan dan banyak merugikan masyarakat luas. Karenanya harus ditumpas dari bumi Indonesia.

“Kepekaan pemerintah atas gejala munculnya bibit teroris di balik aktivitas ormas memang patut diapresiasi. Masyarakat pun harus terlibat dan turut memantau lingkungan atas sekelompok orang yang melakukan kegiatan mencurigakan. Jangan lengah,” ucapnya.

Dalam satu artikel hukumnya, Stefanus yang juga menjabat sebagai Ketua LBH Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Jabodetabek ini menambahkan keterlibatan masyarakat untuk memantau gerakan terorisme itu mengingat adanya keterbatasan jangkauan aparat keamanan yakni TNI dan Kepolisian, terhadap sel-sel jaringan teroris di tengah masyarakat. Terlebih pola kerja teroris “dalam diam” sukar dilacak.

Mengingat aksi terorisme cukup berbahaya dan dapat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara, membuat Presiden Joko Widodo mendesak DPR agar merevisi UU Terorisme. Meski berjalan cukup alot selama dua tahun, akhirnya UU No.15 Tahun 2003 tentang Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme akhirnya menjadi UU No. 5 Tahun 2018 tentang Terorisme.

“Itu artinya, dengan adanya UU Terorisme yang baru, diharapkan kinerja aparat keamanan seperti Datasemen Khusus 88 (Dansus 88 Antiteror Polri) harus semakin ditingkatkan mengingat sel-sel teroris jaringan internasional masih terus bergerilya di tengah masyarakat,” jelasnya.

Menurut advokat ibukota yang pernah menerima penghargaan ‘The Leader Achieves In Development Award’ dari ‘Anugerah Indonesia’ dan ‘Asean Development Citra Award’s dari Yayasan Gema Karya ini peningkatan kinerja Dansus 88 tidak luput dari peran serta Kapolri selaku orang pertama di institusi kepolisian.

“Jadi, sangatlah diharapkan dalam program 100 hari Kapolri baru ini lebih menekankan pemberantasan teroris oleh aparatnya termasuk membuat jaringan kerja sama dengan masyarakat untuk menangkal aksi-aksi tersembunyi kelompok penebar teror tersebut,” harapnya.

Kejahatan Teknologi

Sementara dalam kejahatan teknologi, Stefanus yang juga sebagai Ketua LBH Serikat Pemersatu Seniman Indonesia (SPSI) ini menyatakan kalau kejahatan tersebut termasuk yang juga harus diprioritaskan mengingat kejahatan itu terus meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas.

“Kita tahu kalau kejahatan yang umumnya disebut cybercrime ini merupakan tindakan kriminal berpiranti komputer atau jaringan komputer komunikasi. Jenis kejahatannya berupa penipuan dengan kartu kredit, penipuan identitas, pemalsuan bukti pembayaran cek, penipuan lelang secara daring, pelanggaran hak cipta, confidence fraud dan lainnya.

Selain itu, teknologi komputer dengan jaringan internet (komunikasi) pun kini menjadi ajang kejahatan perorangan maupun kelompok. Biasanya piranti yang dipergunakan berupa laptop atau handphone. Sementara dari data kepolisian, jumlah kejahatan teknologi jejaring internet sepanjang Januari – November 2020 mencapai sekitar 4.250 kasus.

Seperti diketahui, kuantitas kejahatan tersebut selama tiga tahun belakangan terus meningkat. Pihak Kepolisian mencatat, pada 2015 terjadi pengaduan 2.609 kasus, kemudian tahun 2016 jumlahnya bertambah jadi 3.110 kasus, pada 2017 turun satu kasus (3.109). Namun terjadi lonjakan  di tahun 2018 jadi 4.360 kasus pada 2019 naik 4.585 kasus.

Stefanus melihat kejahatan berbasis teknologi ini bersifat global atau lintas antar negara, sehingga sulit untuk menentukan yuridiksi hukum terhadap pelakunya. Karakter lainnya, tindak pidana ini tidak menimbulkan kekacauan yang mudah terlihat, sehingga tak menyebabkan rasa takut kepada orang lain. Modus kejahatannya hanya dapat dimengerti oleh orang yang mengerti serta menguasai bidang teknologi komputer informasi.

“Setidaknya, di dalam program 100 hari itu Kapolri harus meningkatkan kinerja Dansus 88 untuk menumpas sel-sel jaringan teroris di tanah air, serta mendidik secara khusus dan mendalam tentang teknologi komputer/informatika kepada jajaran kepolisian,” pungkasnya. (Budhi W)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *