oleh

Pemeriksaan Hendak Naik Kapal Pesiar Cruise Super Ketat di Singapura

TIBALAH sesi naik kapal pesiar Cruise, kapal mewah super lux. Sekitar 5.500 calon penumpang yang merupakan member MCI (Milionaire Club Indonesia] asal Indonesia dan internasional, membludak pada hari dan waktu pemberangkatan yang sama. Maka tidak dapat dihindarkan terjadi penumpukan massa di pintu masuk kapal pesiar pada hari Senin 7 November 2022 pagi.

Berkat koordinasi pihak kapal, petugas imigrasi dan MCI, maka antrian dapat diurai dengan baik meski sempat mengular. Hanya saja pemeriksaan calon penumpang yang saya rasakan sangat super ketat, padahal satu kapal pesiar itu tidak ada penumpang lain, kecuali penumpang free trip member MCI. Berbeda dengan pemberangkatan gelobang pertama, sekitar 1000 orang member MCI masih bergabung dengan penumpang umum. Tapi kali ini, sama sekali penumpang kapal pesiar itu hanyalah member MCI dan kru kapal Otomatis bahasa yang terdengar pun seperti di Jakarta, percakapan bahasa Indonesia, sekali-kali bahasa daerah asal penumpang MCI.

Pengalaman saya pribadi, saat pemeriksaan bandara di tanah air, baik itu dokumen keimigrasian dan kesehatan [vaksin covid-19] berjalan mulus. Tak ada hambatan sedikitnya pun. Termasuk di Bandara Internasional Changi, Singapura. Di dua bandara tersebut, saya lolos dan melenggang masuk dan keluar pesawat. Hanya buka topi, dan angkat kedua tangan ketika melewati pemeriksaan bodi. Aman, karena di dalam negeri,  sering pulang kampung menggunakan pesawat Jakarta-Medan, dan pernah juga ke Surabaya, Denpasar, Makassar, Palu dan Pekanbaru. Jadi sudah siap-siap.

Di Pelabuhan Marina Bay, Tanah Merah, Singapura lebih ketat lagi, padahal sudah mengisi data diri via online di ICA [Internasional Coorperative Alliance]  sebelum berangkat ke Singapura. Demikian juga kartu vaksin booster, sudah oke dan tinggal menunjukkan di layar HP. Di Bandara Changi dan Soekarno-Hatta, Jakarta tidak ada masalah, akan tetapi di pelabuhan Singapura, sangat teliti dan rinci.

Secara psikologis harus diakui, jumlah petugas dengan calon penumpang tidak seimbang. Calon penumpanh datang hampir dalam waktu bersamaan. Tidak heran petugas pelabuhan dan imigrasi setempat kewalahan dan ekstra tenaga.

Saat di meja [loket] pemeriksaan, paspor dan dokumen lain diminta. Pada saat giliran saya dan istri, yang memeriksa petugas wanita yang melihat fisiknya sudah agak usia tua, tapi masih dinas dan cekatan. Dengan bahasa dan komunikasi seadanya, petugas ini agak lebih lama memeriksa dokumen kami berdua dibanding dengan rekan sesama member MCI di loket sebelahnya.

Petugas ini menanyakan dengan bahasa isyarat soal kesehatan, apakah merasa sakit kepala, perut dan batuk, setelah itu dia mencatat dan chek identitas lagi. Bolak balik seperti itu, petugas di sebelahnya mungkin terusik dan bicara kepada wanita ini. Saya tidak dengar secara jelas, karena saya berada di posisi belakang. Eeh, setelah itu, akhirnya kami diperbolehkan masuk ke tahap selanjutnya di bagian keimigrasian.

Di kemigrasian, istri saya masuk tanpa ada hambatan. Begitu giliran saya, paspor sudah discan, topi sudah dibuka. Kantong kosong, ikat pinggang tidak dipakai dan sebagainya, pendek kata bodi stril menurut saya, tapi begitu menghadap kamera khusus pemeriksaan, saya lihat ada garis merah. Agak curiga sih, ada apa ini? Namun saya boleh masuk setelah pintu elektroniknya terbuka. Namun saya kaget, seorang petugas pria berbadan serdadu menarik lengan saya dan meminta berdiri di pojok bangunan dan terpisah dari rombongan.

Pikiran saya jadi kacau, apa yang terjadi dan kenapa ini? Saya antre karena ada dua atau tiga orang lagi di depan, yang kemungkinan senasib seperti saya. Paspor saya diambil dan diserahkan kepada petugas wanita muda yang berada di balik loket kaca. Istri saya [Yayah Nahdiyah] datang menghampiri dan menanyakan ada masalah apa? Saya belum bisa menjawab. Malah istri saya disuruh agak menjauh. Makin ketar-ketir di hati.

Selama menunggu panggilan, sambil berdiri saya berpikir yang aneh-aneh dan mencekam. Ada apa ya? Apakah pihak imigrasi ini mempunyai catatan khusus tentang aktivitas pribadi atau profesi saya di tanah air? Atau apa ya? Padahal saya bukan ustad radikal, bukan ahli demonstran. Saya hanya purnawirawan jurnalis Indonesia di DKI Jakarta, member pemula MCI, dan aktifis organisasi kemasyarakatan Islam [Al Washliyah]. Saat pikiran bergelut ke mana-mana, saya tersentak karena nama saya dipanggil oleh petugas, “Syamsir Bastian” katanya sambil melihat paspor, dan menatap wajah saya dengan menebar senyum. Setelah itu disuruh menghadap kamera ukuran kecil dengan posisi tegap dan sigap. Padahal di pintu pemeriksaan sebelumnya, saya merasa sudah dengan posisi berdiri sigap layaknya sorang tentara, hehe hehe. Ya sudah lah.

Proses pemeriksaan tiket dan dokumen kemigrasian di pelabuhan tersebut, kami jalani dengan senang hati. Sekali-kali saya tidak lupa menenggak minuman bioglass yang sengaja saya bawa dalam tumbler. Dapat menghilangkan haus dan menambah energi terhadap tubuh saya. Airnya habis dapat diisi ulang, asal bioglass mini tetap berada di dalam tumbler.  Sekadar info bahwa MCI ini adalah MLM yang mampu bertahan kokoh ketika Covid-19 menghantam Indonesia dan dunia.

Selanjutnya cerita di dalam kapal mewah…[syamsir/bagian 3]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.