oleh

Menyikapi Krisis Akibat Pandemi Covid-19

HIDUP manusia tidak selamanya stabil. Suatu saat memperoleh nikmat, disaat yang lain mendapat musibah.

Pada hari kemarin hidup senang, hari ini hidup cukup, esok mengalami kekurangan.

Begitu dinamika kehidupan, manusia tidak dapat menolak dan menghindarnya.

Semuanya perlu dihadapi sebagai bagian dari perjalanan di dunia fana ini.

Demikianlah kehidupan umat dan bangsa Indonesia, beberapa waktu lalu menikmati kehidupan yang cukup, ekonomi stabil, harga barang terjangkau, keperluan pangan tersedia dan lainnya.

Tetapi pada saat ini, ekonomi tergoncang, krisis memuncak, dan krisis ekonomi yang dialami bangsa Indonesia kali ini memang sangat berat.

Krisis ekonomi akibat diterjang Covid-19 kali ini benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat di wilayah Indonesia dimana pun ia berada.

Krisis ekonomi di masa pandemi Covid-19 ini telah dirasakan oleh seluruh rakyat, baik lapisan atas di kota besar, terlebih-lebih dan paling menderita adalah rakyat kecil di pelolosok pedesaan.

Krisis kali ini benar-benar merupakan cobaan yang berat dan multidimensi (dalam berbagai bidang) dalam kehidupan manusia.

Cobaan yang meliputi rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Terkait dengan dampak krisis ekonomi di masa Civid-19 ini, orang sekarang benar-benar dalam keadaan ketakutan dengan melihat krisis ekonomi yang sedemikian parah.

Mereka takut tidak dapat memenuhi keperluan hidupnya, membeli barang kebutuhan pokok untuk makan sehari-hari.

Mereka takut keadaan ini terus berlangsung sehingga hidupnya yang sudah menderita bertambah menderita.

Mereka juga takut tingkat kriminalitas juga meningkat yang dapat mengancam ketenangan dan kedamaian hidupnya.

Mereka juga takut kehilangan mata pencaharian karena sulitnya pekerjaan dan sumber-sumber ekonomi dan keuangan. Dan masih banyak ketakutan yang terjadi pada diri mereka.

Bagi umat Islam cobaan yang menimpa kehidupan sekarang ini tentunya harus diterima dengan sikap dan jiwa yang tenang, tidak perlu panik.

Selain itu perlu dihadapi dengan penuh kesabaran. Sabar dalam arti menerima cobaan itu dengan tetap berusaha mencari jalan dan bekerja dengan serius guna mengatasi krisis dan keluar dari keadaan yang sulit itu.

Oleh karena itulah umat dan bangsa Indonesia perlu bekerja keras dan bersama-sama dengan persatuan dan kesatuan yang kokoh mengatasi krisis di tengah-tengah pandemi Covid-19 di negeri ini.

Namun tidak mustahil musibah dan krisis berkepanjangan yang terjadi sekarang ini, adalah tidak terlepas dari ulah dan perbuatan dosa-dosa kita sendiri, yang lupa dan lalai bersyukur kepada Allah SWT.

Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya kemaksiatan dalam masyarakat. Begitu pula kemungkaran dibiarkan merajalela dalam tubuh bangsa ini.

Mulai dari atas adanya korupsi, kolusi dan nepotisme, sampai kebawah, begi juga perzinaan, perselingkuhan, kezhaliman,penyalahgunaan wewenang, hukum belum di tegak secara adil dan lain sebagainya.

Keadaan seperti ini tidak mustahil menyebabkan umat dan komponen bangsa di negeri ini mendapat cobaan dari Allah untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah).

Oleh karena itu introspeksi sangat perlu terus menerus dilakukan dan berusaha untuk memperbaikinya dengan kembali kepada jalan yang benar

Selain itu umat dan bangsa Indonesia yang mengaku beriman dan bertaqwa.

Demikian pula dalam membangun negeri ini, yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan benar-benar direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bukan hanya sebagai slogan semata. Sebab dengan iman dan taqwa inilah suatu negeri itu akan memperoleh solusi dari Allah SWT.

Allah SWT. berfirman “Apabila suatu penduduk negeri beriman dan bertaqwa maka akan dilimpahkan barokah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96).

Semoga bermanfaat…
Wallahu a’lam bish shawab.

Aswan Nasution

Penulis: Alumni 79′ Pelajar Al-Qismula’ly Al-Washliyah, Ismai’liyah, Medan, Sumatera Utara.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *