oleh

Manfaat I’tikaf Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

SALAH satu ibadah yang istimewa bisa ditemui di dalam bulan Ramadhan adalah I’tikaf. I’tikap adalah ibadah yang biasa dilakukan Rasulullah, terutama pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Memang, tidak ada larangan melakukan i’tikaf selain hari itu. Tapi selpuluh hari terakhir itu adalah hari terbaik untuk mendekatkan diri pada Allah. Bukan saja untuk Rasulullah, tapi juga untuk kita.

Awalnya Rasulullah beri’tikaf di gua-gua seperti kebiasaannya menyendiri sebelum diangkat menjadi Rasul. Namun, setelah itu berkembang dan pindah ke masjid.

I’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang bisa berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui i’tikaf, satu di antaranya adalah menghisab diri, untuk kemudian mengambil hikmah yang tersirat maupun yang tersurat. Berikut ini beberapa manfaat i’tikaf:

1. Salah satu cara melakukan i’tikaf adalah jika kita telah melakukan shalat fardhu secara kontinyu dan berjamaah, tanpa ada kendala. Tapi bukan berarti kita tak bisa melakukan i’tikaf jika belum bisa shalat secara berjamaah kontinyu dan tepat waktu.

Karena jika kita melakukan sebuah kebajikan insya Allah, Allah akan membukakan pintu kebajikan yang lainnya seperti yang disabdakan Rasulullah, “Mengerjakan satu kebaikan itu membuka pintu kebaikan yang lain.”

2. Membantu pelaksanaan shalat dengan khusyu’. Karena satu kebaikan membuka kebaikan lainnya. Orang yang melakukan i’tikaf telah biasa memutuskan perhatian selain Allah, melepas segala kesibukan dan segala pemikiran duniawi atau apa pun yang dapat menghilangkan kejernihan hati serta ketentraman jiwa.

Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, [yaitu] orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tak berguna.” [QS. Al-Mu’minun: 1-3].

3. Memancing ibadah sunnah lainnya. Orang yang melakukan i’tikaf adalah orang yang menyibukkan dirinya bercinta dengan Allah dengan berbagai bentuk ibadah.

Orang yang seperti ini mengkonsentrasikan pikiran dan jiwanya hanya kepada Allah, ia akan merasa tentram dan tenang karena kedekatannya dengan yang Maha memberi ketenangan, salah satunya dengan cara bersujud.

Rasulullah Saw bersabda, “Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Rabbnya adalah ketika ia tengah bersujud, maka perbanyaklah [saat sujud] dengan berdo’a.” [HR. Muslim].

Dalam sabdanya yang lain disebutkan, “Tidaklah seorang hamba bersujud kepada Allah satu kali sujud, kecuali pasti Allah mencatatnya sebagai kebaikan, dan dihapuskan kesalahannya, serta diangkat satu derajat. Karena itu, perbanyaklah sujud.” [HR. Ibnu Majah].

4. Mendapat keuntungan pahala shaf pertama. Orang yang melakukan i’tikaf mendapat pahala seperti pahala orang yang duduk di shaf pertama dalam shalat berjama’ah. “Kalau saja manusia mengetahui keutamaan yang ada pada adzan dan shaf pertama, maka mereka tidak mendapatkan dirinya kecuali pasti akan mementingkannya.” [HR. Bukhari].

Rasulullah Saw juga bersabda, “Sebaik-baik shaf bagi kaum laki-laki adalah yang pertama, dan yang paling buruk bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Dan sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling belakang, sedang yang paling buruk bagi kaum wanita adalah shaf pertama.” [HR. Muslim].

5. Mendapat pahala menunggu datangnya waktu shalat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tetap akan mendapat pahala shalat, selama menunggu shalat [berikutnya]. Dan para malaikat pun akan mendo’akan, “Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, berilah dia rahmat, selama belum beranjak dari tempat shalatnya atau sebelum terkena hadats.” [HR. Bukhari].

6. Membiasakan jiwa untuk senang belama-lama tinggal di masjid, dan menggantungkan hati pada masjid. Dalam hadits yang sangat masyhur, imam Bukhari dan muslim meriwayatkan sabda Rasulullah Saw tentang tujuh golongan manusia yang kelak mendapat naungan selain naungan-Nya. Diantara ketujuh golongan itu adalah orang yang menggantungkan hatinya pada masjid.
7. Memudahkan sholat malam. Salah satu ibadah yang berat dilakukan adalah sholat malam, kecuali bagi yang dimudahkan Allah SWT. Sebab, setan berupaya keras menghalangi setiap hamba yang ingin menjalankan amal shaleh seperti sholat, khususnya sholat malam.

Dalam hadits disebutkan, ‘Sesungguhnya dalam surga itu ada sebuah kamar yang dalamnya terlihat dari luar. Dan luarnya terlihat dari dalam. Kamar itu disediakan Allah bagi orang-orang yang suka memberi makan dan orang-orang yang senang memberi salam dan orang yang senang melakukan sholat malam pada saat orang lain tidur lelap.” [HR. Ibnu Hibban].

8. Membiasakan hidup sederhana, zuhud dan tidak tamak terhadap dunia yang membuat orang tenggelam dalam kenikmatannya. Banyak orang yang tersesat dari jalan kebenaran karena mencintai dunia dan lupa akan kehidupan akhirat.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” [QS. An-Nisa: 77].

9. Membantu seorang mencapai kesempurnaan puasa, sebab i’tikaf sangat kondusif untuk memelihara diri dari perbuatan dosa sekecil apa pun, seperti mengumpat, berdebat, berkata kotor, dan sebagainya.

I’tikaf juga menjadi sarana untuk menjaga pandangan mata dari yang diharamkan. I’tikaf juga sarana memelihara telinga dari suara lagu yang diharamkan, baik kemaksiatan yang ada dalam syair, atau karena membayangkan lenggak lenggok penyanyinya.

Puasa yang ganjarannya surga pelakunya selalu waspada dan menjaga diri dari segala kemaksiatan yang mungkin terjadi. Dan i’tikaf bisa memudahkan kita meraih predikat bersih setelah bulan Ramadhan.

10. Mendidik bersabar dan istiqamah dalam amal shaleh. Dengan I’tikaf, kita bukan saja diperintahkan menjalankan amal shaleh, tapi juga sabar dalam menjalankannya. Sabar untuk selalu melakukan dan menjaganya.

11. Menahan diri dari kemaksiatan. I’tikaf adalah salah satu sarana mendidik kita untuk menahan diri dari kemaksiatan dan bersabar darinya. Seorang dapat saja meninggalkan kemaksiatan, tapi yang lebih penting adalah sabar dalam menghadapi san teguh dalam meninggalkannya.

Menahan keinginan untuk berbuat maksiat dan berlaku sabar dalam menghadapinya adalah perjuangan berat yang membutuhkan kesungguhan. Wallahu A’lam Bishshawab.

Aswan Nasution, Tinggal di Lombok, NTB.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.