oleh

Jangan Menumpahkan Kehormatan Orang Lain

RASULULLAH Saw. bersabda, : “Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya dengan tidak menzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya dan tidak merendahkannya.  Letak taqwa ada di sini (Nabi Saw menunjuk ke dada beliau sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan saudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya. (HR. Muslim).

Menumpahkan air muka (kehormatan) orang lain, merendahkan, menjelekkan nama baik orang lain, memandang rendah orang lain tidak diperkenankan oleh Islam. Islam memerintahkan kita untuk menjaga kehormatan dan harga diri orang lain. Islam memerintahkan kita untuk menjaga dan tidak melukai perasaan orang lain.

Dalam hal ini Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Orang muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidak boleh menganiayanya dan tidak boleh membiarkannya disakiti. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah membantu kebutuhannya. Barangsiapa melepaskan suatu kesusahan di antara beberapa kesusahan dunia seorang mukmin, maka Allah melepaskan darinya suatu kesusahan di antara beberapa kesusahannya di hari Kiamat nanti. Barangsiapa menutupi cela seorang muslim, maka Allah menutupi celanya nanti di hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perbuatan yang termasuk menumpahkan air muka orang lain ialah mencaci, mencela, merendahkan, dan mempermalukan orang lain, dengan cara menyebarkan berita yang negatif, memberi bantuan atau teguran yang menyakitkan, terutama apabila dilakukan di hadapan banyak orang.

Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, : “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkan menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baiknya). (HR. Muslim).

Dan dalam hal ini juga Rasulullah Saw. bersabda, “Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling intai-mengintai, dan janganlah kalian saling berprasangka, dan janganlah kalian saling bersaing, dan jangan pulalah kalian saling dengki-mendengki, dan janganlah kalian saling benci-membenci, serta janganlah kalian saling jerumus-menjerumuskan, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah r.a.).

Makna hadis ini merupakan kesimpulan dari makna yang terkandung dalam firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat, 49: 10-12.).

Mungkin saja perkataan yang kita ucapkan kepada seseorang, yang kita anggap perkataan biasa, membuatnya luka dan sakit perasaannya.

Supaya pergaulan kita dengan sesama manusia harmonis dan bijaksana, maka kita harus berusaha menjaga kehormatan dan harga diri orang lain, dan tidak menumpahkan kehormatannya dan menyakiti perasaannya, sebagaimana kitapun menginginkan orang lain memperlakukan kita demikian.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Barangsiapa membela (nama baik dan kehormatan) saudaranya tanpa kehadirannya maka Allah akan membelanya di dunia dan di akhirat. (HR. Al Baihaqi). Juga pada hadits yang lain, Beliau bersabda, : “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya dia segera memperbaikinya. (HR. Al Bukhari).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Setiap Muslim terhadap Muslim lainnya, haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” Sabda yang lainnya berbunyi: Riba itu ada tujuh puluh dua pintu. Yang ringan di antaranya ialah, seperti seorang lelaki menikahi ibu sendiri. Dan peringkat riba yang paling tinggi ialah, perkosaan seorang manusia terhadap kehormatan saudara muslimnya.

Dalam hadits yang lain lagi, Nabi Saw. bersabda, : “Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi (membicarakan) aib-aib orang lain. (HR. Adailami).

Khalifah ke 4 (Ali bin Abi Thalib) berkata : “Tikaman lidah lebih tajam daripada tikaman anak panah.” Sangat betul memang, luka yang diakibatkan anak panah dapat disembuhkan, namun luka yang disebabkan lisan tidak dapat disembuhkan. Wallahu A’lam bish-Shawabi.

Drs.H. Karsidi Diningrat M.Ag.

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah Jakarta.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *