oleh

Dihadiri Ratusan Dokter dari Tujuh Negara, PTDI Gelar Munas VIII dan Pertemuan Ilmiah Tahunan 2025 di Jakarta

JAKARTA – Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI) secara resmi menggelar Musyawarah Nasional (Munas) VIII sekaligus Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) 2025 di Hotel Shangri-La, Jakarta. Kegiatan yang dihadiri ratusan dokter dan paramedis transfusi darah berlangsung selama tiga hari mulai 30 Juli hingga 1 Agustus.

Acara ini mengangkat tema ‘Collaboration in Blood Services for Global Health’ sebagai upaya memperkuat layanan darah nasional dan regional. Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para dokter dan ahli transfusi darah dari dalam dan luar negeri untuk berbagi ilmu, berdiskusi, serta membangun kolaborasi lintas sektor demi peningkatan mutu layanan transfusi di Indonesia. Pembukaan dimeriahkan hiburan yang menampilkan Duta Donor Darah, Krisdayanti alias KD.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Muhammad Jusuf Kalla menegaskan pentingnya peran manusia dalam rantai layanan darah. Ia mengingatkan bahwa teknologi belum mampu menciptakan darah buatan, sehingga donor darah sukarela tetap menjadi kunci. “Profesor paling hebat pun belum bisa menciptakan darah. Hanya manusia yang bisa mendonorkannya. Itu sebabnya kolaboratif seperti ini sangat penting,” ujar Jusuf Kalla, Rabu (30/7).

Senada dengan itu, Beky Mardani, Ketua PMI Daerah Khusus Jakarta (DKJ) yang baru dilantik menyambut antusias pertemuan ini. Ia menyebut ajang ilmiah ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman mengenai keamanan dan ketersediaan darah, terutama di Jakarta yang membutuhkan sekitar 1.500 kantong darah setiap harinya. “Ini jadi momen perdana saya setelah resmi dilantik. Saya melihat langsung pentingnya kolaborasi dalam menjamin ketersediaan darah yang aman dan cukup,” kata Beky.

Beky juga bangga karena Kepala Unit Transfusi Darah PMI DKI dr. Niken Ritchie yang kini sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum PDTDI. Ia yakin pengalaman Jakarta bisa menjadi acuan nasional dalam pengelolaan transfusi darah yang modern dan efektif.

Sementara itu, dr Niken menjelaskan bahwa Munas VIII kali ini juga berskala internasional, dihadiri pakar dari tujuh negara antara lain Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, hingga Belanda, termasuk Indonesia. Partisipasi mereka mencerminkan tingginya minat dalam membangun standar layanan darah di kawasan Asia dan West Pacific. “Kini Indonesia berada di bawah wilayah West Pacific WHO, bukan lagi South East Asian. Ini momentum penting untuk menyelaraskan standar layanan transfusi darah secara regional,” terang Niken selaku ketua panitia kegiatan.

Berbagai topik penting dibahas dalam PIT PDTDI 2025, mulai dari strategi perekrutan donor sehat, pemrosesan komponen darah, hingga pemanfaatan plasma sebagai bahan baku obat dalam negeri, seperti albumin dan IVIG. Ini selaras dengan upaya Indonesia dalam meningkatkan kemandirian farmasi nasional.

Jakarta, menurut Niken, telah melampaui target WHO terkait ketersediaan darah, yakni 2% dari total populasi. “UTD PMI Jakarta juga menjadi yang terdepan dalam penerapan teknologi transfusi, seperti uji saring molekuler (NAT-PCR), serta penyediaan produk darah berkualitas tinggi,” papar Niken. Acara dihadiri 400-an undangan, termasuk sejumlah pakar transfusi dari tujuh negara.

Selain seminar dan pelatihan, rangkaian acara juga diisi dengan pameran teknologi transfusi darah dari sejumlah perusahaan dan industri. “Melalui pameran yang dibuka untuk umum, masyarakat diajak memahami pentingnya donor darah dan proses pengolahan darah yang aman bagi pasien. “Kami ingin menunjukkan bahwa produk darah bisa terus dikembangkan demi menjamin transfusi yang aman dan efektif,” tutupnya. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *