oleh

Diduga Korban Penipuan, Nenek 62 Tahun Mencari Keadilan Hukum

POSKOTA. CO – Di usianya yang senja dengan penglihatan yang tidak lagi jelas, seorang ibu di Bogor mengalami penipuan. Berawal dari pinjam meminjam lalu muncul dugaan memasukan keterangan palsu ke dalam bukti otentik yang dilakukan notaris, membuat Endang Puspitasari Treineni (62), mencari keadilan hukum.

Korban Endang lalu meminta bantuan hukum atas peristiwa yang dialaminya ke Advokat dan Konsultan Hukum Abdulah SH yang tergabung dalam Pablo Benua & Co, Counsellor at Law.

Kasus hukumnya kini sudah bergulir di Unit 4 Satreskrim Polres Bogor. Dalam laporan polisinya, korban Endang Puspitasari Treineni melaporkan terduga dengan inisial BL atas dugaan tindak pidana memasukan keterangan palsu dalam akta otentik.

Pablo Putra Benua, kuasa hukum korban dalam keterangannya ke Poskota online Rabu (16/6/2021) mengatakan, laporan dugaan tindak pidana memasukan keterangan palsu ke dalam akta otentik, sudah dilaporkan ke Polres Bogor Selasa (15/6/2021) kemarin.

“Kami selaku kuasa hukum ibu Endang Puspitasari Treineni sudah lapor polisi. Kami berharap, laporan polisi No Pol LP/B/939/VI/2021/JBR/RES BOGOR, dengan terlapor saudara BL dapat di proses demi keadilan hukum di negara Indonesia,”kata Pablo.

Pablo berharap, laporan memasukan keterangan palsu ke dalam bukti otentik, bisa berkembang ke bukti penipuan.

Menurut Pablo, BL patut diduga telah melakukan tindak pidana memasukan keterangan palsu ke dalam akta otentik, pada hari Jumat tanggal 8 Juli 2020.
Ini berlangsung di jalan Palimanan Golf No.36 Meditrania III Setul City, RT 003/008, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Saat itu korban Nyonya Endang meminjam uang ke BL yang baru dikenal lewat perantara S sebesar Rp1 miliar.
Agar proses pinjam meminjam berlangsung, korban menjaminkan sertifikat rumahnya. Namun saat pencarian, dari kesepakatan Rp1 miliar, korban hanya menerima Rp800 juta.

Dalam perjalanan, korban tak mampu mengembalikan pinjaman. Saat inilah BL datang bersama notaris dan beberapa orang menyodorkan surat perjanjian perikatan jual beli dan meminta korban yang dalam kondisi tidak lagi bisa melihat dengan jelas, agar menanda tangani surat tersebut.

“Jadi perjanjian perikatan jual beli yang diminta BL dan notaris agar korban tanda tangan, seolah-olah rumah korban jadi jaminan. Ibu Endang, klien kami jelas di bohongin. Sudah tak bisa melihat dengan jelas, diminta tanda tangan surat. Ini zolim namanya,”ujar Pablo.

Pablo membenarkan, jika saat pertama pinjaman, ada ponakan korban yang ikut mendampingi ketika dilakukan tanda tangan oleh korban. Namun saat tanda tangan perikatan perjanjian jual beli yang di sodorkan notaris dan BL, korban hanya didampingi asistennya. Kuat dugaan, asisten korban ini juga dibawa pengaruh BL sehingga tidak mencegah saat majikannya hendak menandatangani surat penting tersebut.

“Kami ada bukti semua. Ada bukti transfer. Ada bukti perjanjian perikatan jual beli. Sekali lagi ini perbuatan zolim. Wanita yang sudah tua dengan penglihatan yang tak lagi jelas, masih saja di tipu,”tegasnya.

Pablo juga mempertanyakan, bahwa dalam akta otentik yang tertuang dalam perjanjian perikatan jual beli, ada tertuang korban menerima Rp2,5 miliar. Bahkan BL bilang jika dirinya telah menyerahkan Rp4 miliar ke korban. Sayangnya pengakuan BL ini tidak bisa dibuktikan, karena hingga kasus ini bergulir di kantor polisi, klien nya tak pernah menerimanya.

“Ini keterangan palsu dan tak sesuai fakta,” tegasnya.

Untuk kebenaran dan demi keadilan hukum, maka Irene selaku asisten korban, Santi sebagai mediator dan Firda Firdaus yang berperan sebagai mediator, harus dimintai keterangan oleh penyidik Polres Bogor.

Rumah korban seharga Rp7 miliar, kini sudah dikuasai pelaku. Atas kejadian tersebut, korban dan kuasa hukum meminta kepada pihak kepolisian untuk segera menindaklanjuti laporan agar segera diproses hukum sesuai aturan yang berlaku.

“Saya ajak kita semua termasuk rekan-rekan wartawan, mari kita bantu ibu Endang. Kita cari pahala ya, karena mau menolong korban yang sudah tua, tidak punya siapa-siapa dan korban juga memiliki dua orang anak yatim piatu. Jadi saya merasa ini menzholimi korban. Dimana orang sedang sakit dan tidak lagi bisa melihat dengan jelas dibohongi,” tegas Pablo Benua. (yopi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *