oleh

Bamsoet ‘Sentil’ Menkeu Sri Mulyani Jelaskan Kemanfaatan Utang Luar Negeri

POSKOTA.CO – Indonesia masuk urutan ke-7 dari 10 negara berpendapatan kecil menengah dengan utang luar negeri terbesar versi Bank Dunia membuat galau Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo. Ia meminta Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menjelaskan pemanfaatan utang luarnegeri bagi kesejahteraan rakyat.

Indonesia urutan ke-7 dari 10 negara pengutang terbesar, dan kenyataan ini membikin galau Ketua MPR Bamsoet. ‘’Kita semua berharap dan terus mengingatkan menteri keuangan untuk tetap berhati-hati dan bijaksana dalam mengelola utang luar negeri. Sudah puluhan tahun Indonesia berstatus sebagai debitur pada sejumlah lembaga keuangan multilateral seperti Bank Dunia, IMF atau Bank Pembangunan Asia,” kata Bamsoet, dalam keterangan media, Kamis (22/10/2020).

Indonesia, katanya, sudah memiliki pengalaman yang mumpuni dalam mengelola utang luar negeri, namun tetap harus diperlukan kehati-hatian dan transparansi. Rilis Bank Dunia terkait International Debt Statistics (IDS) yang menyebutkan Indonesia di posisi tujuh dari daftar 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan utang luar negeri terbesar. Per 2019, utang luar negeri Indonesia tercatat 402,08 miliar dolar AS, akumulasi dari utang luar negeri pemerintah, BUMN dan swasta.

Surat Utang Tenor 50 Tahun 

Awal April 2020, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia menerbitkan Global Bond sebesar US$ 4,3 miliar dalam 3 bentuk surat berharga global yaitu Surat Berharga Negara (SBN) seri RI1030, RI 1050, dan RI0470.

Seri RI1030 memiliki tenor 10,5 tahun yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2030 diterbitkan sebesar US$ 1,65 miliar dengan yield global sebesar 3,9%. Seri kedua yaitu RI1050 dengan tenor 30,5 tahun atau jatuh tempo 15 Oktober 2050. Nominal yang diterbitkan juga US$ 1,65 miliar dengan yield 4,25%. Seri ketiga adalah RI0470 dengan tenor 50 tahun, jatuh tempo 15 April tahun 2070 sebesar US$ 1 miliar dengan tingkat yield 4,5%. Seri ini merupakan global bond pertama yang diterbitkan dengan tenor 50 tahun.

Penerbitan SBN itu bagian dari kebijakan relaksasi yang dilakukan Menkeu Sri Mulyani. “Penerbitan SBN dengan tenor 50 tahun ini juga merupakan tenor terpanjang oleh Pemerintah Indonesia, yang secara implisit menunjukkan kepercayaan investor terhadap track record kondisi ekonomi dan pengelolaan keuangan negara,” ujar Menkeu Sri Mulyani, seperti diungkap CNBC Indonesia, Rabu (8/4/2020). (dk)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *