oleh

Akhlak Kepemimpinan

MENGINGAT besarnya tanggungjawab menjadi pemimpin di dalam lingkungan masing-masing, tiap-tiap orang dalam kehidupan ini mempunyai fungsi kepemimpinan, sesuai dengan ruang lingkup dan daerah kekuasaan masing-masing, maka syarat-syarat, sifat dan akhlak untuk menjadi pemimpin haruslah dimiliki dan dikembangkan.

Fungsi kepemimpinan ini dipertegas dan diperinci lagi dalam suatu hadits yang menyatakan, “Tiap-tiap orang adalah menjadi pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin, kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang lelaki adalah pemimpin istrinya, kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya, kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang pelayan adalah pemimpin bagi harta tuannya, kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Seorang anak adalah pemimpin atas hartabenda orangtuanya, kelak dia akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Kalian semua adalah pemimpin, kelak akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim secara ittifaq melalui Ibnu Umar r.a.).

Pada kesempatan ini, bisa kita lihat satu rangkaian dari akhlak kepemimpinan yang diperlukan, yang dituangkan dalam pidato kenegaraan yang diucapkan oleh Khalifah Abu Bakar Siddik tatkala dilantik menjadi Kepala Pemerintahan setelah Rasulullah wafat. Pidato kenegaraan itu adalah sebagai berikut:

“Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah dilantik (menjadi Khalifah) bukanlah karena saya lebih baik daripada kamu sekalian. Jika saya berbuat baik, bantulah, dan kalau saya berbuat buruk, luruskanlah. Jujur itu adalah satu amanah; bohong adalah satu perbuatan khianat. Orang-orang yang lemah diantara kamu kuat pada sisi saya karena saya akan melindungi hak-haknya. Orang yang kuat di antara kamu lemah pada sisi saya sampai saya mengambil hak-hak daripadanya. Janganlah kamu meninggalkan perjuangan, karena akibat sikap yang demikian akan ditimpakan Allah kehinaan di atas pundak kamu. Patuhlah kepada saya selama saya patuh kepada Allah dan Rasul-Nya; jika saya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidaklah wajib bagi kamu menta’ati saya. Berlaku adillah terhadap orang yang berhubungan (bergaul) dengan kamu, semoga Allah Swt. akan mengasihi kamu.”

Dari pidato kenegaraan Khalifah Abu Bakar Siddik itu dapat disimpulkan ada beberapa macam akhlak kepemimpinan yang perlu dicontoh oleh setiap orang yang memegang pimpinan yang bertanggungjawab, baik pemimpin lingkungan maupun pemimpin masyarakat, lebih-lebih bagi pemimpin Negara. Di antara macam akhlak yaitu:

1. Rendah hati atau tawadhu.

Kesombongan merupakan salah satu sifat yang paling dibenci Islam sebaliknya sikap rendah hati adalah salah satu yang paling disukai. Islam mengharamkan seorang muslim takabur dan memerintahkannya untuk tawadhu. Karena tawadhu adalah sifat terpuji secara syariat bagi pemiliknya. Rasulullah Saw. telah bersabda, “Allah memerintahkan aku agar bertawadhu, agar jangan sampai ada salah seorang yang menyombongkan diri pada orang lain dan jangan sampai ada yang congkak pada orang lain.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Banyak pemimpin-pemimpin yang pada mulanya dekat kepada masyarakat, turun ke bawah, integrasi kepada kaum yang lemah. Tapi, begitu dia sudah mempunyai kedudukan, timbullah apa yang disebutkan dalam peribahasa: kalau hari sudah panas, lupa kacang dikulitnya. Sikap sombong, congkak, tinggi hati sudah nampak kelihatan. Bukan hanya sekedar itu, tapi kadang-kadang dia sampai hati pula menginjak-nginjak kuduk orang yang telah berjasa menaikkannya, “mengorbitkannya”.

Abu Bakar Siddik menyatakan bahwa pada hakekatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda daripada rakyat biasa. Bukan karena ia orang istimewa. Tapi, hanya sekedar orang yang didahulukan selangkah, yang mendapat kepercayaan dan dukungan yang banyak. Di atas pundaknya terpikul satu tanggung jawab yang besar dan berat, baik terhadap umat dan masyarakat pada umumnya, lebih-lebih lagi terhadap Allah Swt. Sifat rendah hati itu bukanlah merendahkan kedudukan seorang pemimpin, malah sebaliknya mengangkat martabatnya dalam pandangan orang banyak dan masyarakat.

2. Terbuka menerima koreksi.

Setiap pemimpin memerlukan dukungan dan partisipasi rakyat banyak. Bagaimanapun kepemimpinannya, ia tak bisa melaksanakan tugas-tugasnya tanpa partisipasi orang banyak. Jika orang banyak bersifat apatis, tak mau tahu, masa bodoh terhadap segala anjuran dan tindakannya, maka hal yang demikian merupakan tantangan yang berat.

Oleh karena itulah, di samping melakukan introspeksi, seorang pemimpin harus terbuka untuk menerima kritik, mau menerima kritikan yang dilontarkan orang lain. Orang yang mau menerima kritikan orang lain adalah orang yang memiliki jiwa positif dan konstruktif. Mau menerima kritikan orang lain adalah pertanda kelapangan dada, kesabaran, kemampuan mengendalikan diri, kedalaman akal dan hikmah serta perbaikan terhadap perbuatan dan tingkah laku, dan kemajuan di medan amal. Asal saja sifat kritik itu sehat, membangun, konstruktif. Jangan hendaknya orang yang melontarkan kritik itu dianggap sebagai lawan yang perlu “dibungkamkan.” Malah orang yang berani mengemukakan kritik, menunjukkan kesalahan atau kekurangan seseorang pemimpin, justru itulah yang merupakan partisipasi yang sejati.

3. Amanah dan jujur.

Sifat amanah, yaitu dipercaya dan memelihara kepercayaan orang banyak adalah salah satu sifat kepemimpinan Islam yang penting. Agama Islam mewajibkan kepada setiap kaum Muslimin untuk memelihara amanah. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Allah memerintahkan kepada kamu untuk menunaikan amanah kepada ahlinya (yang berhak mempunyainya).” (QS. An-Nisa, 4:58).

Penyelewengan terhadap sesuatu amanah bukan saja merugikan orang yang terkena penyelewengan tersebut, tetapi akan mempunyai akibat matarantai yang buruk di dalam masyarakat. Dalam pengertian memelihara amanah itu termasuk juga menyerahkan sesuatu urusan atau tanggung jawab kepada orang-orang yang mampu dan cakap, yang memenuhi syarat-syarat. Dalam hal ini Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila amanat disia-siakan maka tunggulah saat kehancurannya. Salah seorang sahabat bertanya: “Bagaimanakah menyia-nyiakannya, wahai Rasulullah? Rasulullah Saw. menjawab, “Apabila perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Ada kisah seorang penduduk pegunungan pernah bertanya kepada Rasulullah Saw.: Apakah ajaran Islam yang paling rendah dan apa pula yang paling berat? Rasulullah bersabda, “Ajaran Islam yang paling mudah ialah mengucapkan kalimah syahadat; dan yang paling berat ialah memelihara amanah. Tidak diterima (pengakuan) keagamaan orang yang tidak ada amanah, tidak diterima shalat dan zakatnya.” (HR. Al-Bazar).

Dalam hal ini, seorang pemimpin harus berlaku jujur (sidiq). Dalam hal ini Imam Ghazali membagi sifat jujur ada enam macam, yaitu: jujur atau lurus dalam perkataan; lurus kemauan; lurus dalam niat; lurus memenuhi tekad; lurus dalam perbuatan; dan lurus dalam menegakkan kebenaran dan menjalankan agama. Allah Swt. berfirman, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS, al-Ahzaab, 33:23).

Jujur artinya apa yang kita katakan sesuai dengan apa yang ada dalam hati kita. Tentunya, hal itu harus sesuai dengan apa yang telah Allah Swt. tetapkan. Kejujuran adalah pilar utama keimanan. Kejujuran adalah kesempurnaan kemuliaan, saudara keadilan, roh pembicaraan, lisan kebenaran, sebaik-baik ucapan, hiasan perkataan, sebenar-benarnya pembicaraan, kebaikan segala sesuatu. Pada kejujuran terdapat kelezatan rohani yang tidak akan dirasakan seorang pendusta. Sementara dusta lawan dari jujur -sangat tercela, baik besar maupun kecil.

4. Berlaku adil.

Yang dimaksud dengan adil ialah menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan cara yang sama dan serupa, tidak berat sebelah. Lawannya ialah zalim. Agama Islam meletakkan soal menegakkan keadilan itu dan menjauhi kezaliman sebagai satu sikap hidup yang essensial. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil, yaitu yang bersikap adil dalam mengadili dan kepada keluarga maupun rakyatnya, (di hari kiamat kelak) berada di dalam tempat dari cahaya. Dia juga ditempatkan di sisi kanan Allah, yang kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim).

Keadilan itu haruslah diterapkan dalam segala bidang kehidupan tanpa memandang orangnya. Bahkan juga harus berlaku adil terhadap diri sendiri. Abu Bakar Siddiq menegaskan, bahwa orang yang lemah harus dibela dan dilindungi; orang-orang yang kuat tidak boleh berlaku kejam dan sewenang-wenang.

Orang yang adil adalah orang yang meletakkan sesuatu pada tempatnya. Atau, dengan kata lain, memberikan kepada yang berhak hak-hak mereka. Berbuat semaksimal mungkin atas dasar nilai-nilai keadilan pada semua aspek kehidupan kita. Dan awasilah diri kita di dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Kemurkaan Allah bertambah terhadap orang yang berbuat zalim terhadap seseorang yang tidak mempunyai penolong selain Allah.” (HR. ad-Dailami melalui Ali k.w.). Dalam hadits lain Nabi Saw. menegaskan, “Takutlah kalian terhadap doa orang yang teraniaya karena doa orang teraniaya itu dikabulkan Allah Swt.”
Wallahu A’lam bish-Shawab.

 

Drs.H.Karsidi Diningrat, M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung
* Wakil Ketua Majelis Pendidikan PB Al Washliyah

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *