oleh

Praktisi Intelejen Sebut Presiden Prabowo Sudah Tahu Ada Pengkhianat Sejak Tahun Lalu

JAKARTA – Aroma pengkhianatan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto sudah tercium dan terlihat sejak tahun lalu. Hal itu sudah terindikasi saat demo pada tahun 2025 lalu dan sudah terlihat ada musuh dalam selimut di negeri ini.

Hal itu yang sudah diketahui oleh Praktisi intelijen, Fauka Noor Farid yang juga sebagai mantan anggota Tim Mawar Kopassus. Menurutnya sebelum Bareskrim Polri mengungkap kasus, ia sudah menyampaikan wanti-wanti terkait keberadaan penghianat di lingkungan terdekat Prabowo. 

“Karena di lingkungan terdekat ada orang-orang yang menjadi musuh dalam selimut. Saya sudah pernah mengingatkan, dan Pak Prabowo pun tahu risiko dan sudah menyadari ada pengkhianatan di lingkungan beliau. Kegitan ini sudah terindikasi saat demo pada tahun 2025 tahun lalu,” kata Fauka saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (4/11/2026). 

Berdasarkan hasil penyidikan Bareskrim Polri ketiga tersangka melakukan penyadapan terhadap Prabowo, para pejabat negara, tokoh politik, Ormas sudah dilakukan sejak tahun 2025 hingga 2026. Penyadapan yang seharusnya dilakukan aparat penegak hukum untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana justru dilakukan untuk keuntungan kelompok tertentu. 

“Jadi ketika Presiden, pejabat negara disadap itu jangan dipikir hanya untuk menyerang secara pribadi. Kalau informasi ini diberikan kepada musuh bisa mengancam negara,” ujar Fauka.

Dikatakan Fauka, sebagai sosok yang lama berkecimpung di dunia intelijen, Prabowo pun menyadari bahaya pengkhianatan dari orang-orang di lingkungan terdekat. “Pak Prabowo pun tidak mengambil langkah gegabah seperti memberhentikan para tersangka dari jabatan yang dapat menimbulkan kegaduhan,” imbuhnya.

Langkah yang dilakukan Presiden, sambung Fauka, ternyata Prabowo memilih mempercayakan kepada proses hukum yang dilakukan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, dan jajarannya terhadap kasus melibatkan tiga oknum Pati Polri itu. 

“Karena ini menyangkut negara, bukan pribadi Presiden seorang. Terbukti sebelum akhirnya Mabes Polri memberikan pernyataan kemarin tidak ada kegaduhan internal,” ujar Fauka.

Menurut mantan anggota Tim Mawar Kopassus ini, dalam dunia intelijen penyadapan kegiatan yang kerap dilakukan untuk mencari tahu kelemahan musuh, dengan cara mengumpulkan berbagai informasi terkait. 

“Informasi yang dikumpulkan dalam rentan waktu tertentu ini berbahaya karena dapat digunakan untuk melakukan manipulasi dan dalam konteks pemerintah dapat membocorkan rencana kebijakan,” ungkap Fauka.

Seperti diketahui, tiga oknum perwira tinggi Mabes Polri, yakni eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP), Kadivkum Polri Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution (ASN), Widyaiswara Kepolisian Utama TK1 Sespim Lemdiklat Polri Irjen Eko Hadi Santoso (EH), sudah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. (Ifand/jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *