JAKARTA – On Point Ballet School sukses menyelenggarakan Beyond Nutcracker, sebuah teater musikal balet selama dua hari di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat. Gelaran tersebut menghadirkan total 706 penampil dari tiga pertunjukan dan disaksikan 2.000 penonton.
Dari kketiga pertunjukan tersebut seluruh tiket terjual habis (sold out). Ester Manurung selaku Founder dan Artistic Director On Point Ballet School, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak sehingga acara berlangsung sukses. “Terima kasih kepada semua pihak yang mendukung suksesnya Beyond Nutcracker,” kata Ester kepada wartawan di Jakarta, Minggu (1/11).
Menurutnya produk teatrical ini menjadi bagian dari perjalanan hampir 23 tahun pendidikan seni Indonesia On Point Ballet School yang dikelolanya. Produksi ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa misi memperluas akses terhadap seni pertunjukan dan meningkatkan literasi serta apresiasi masyarakat.
Salah satu keistimewaan produksi ini adalah keterlibatan penari dari usia dua hingga 61 tahun. Keberagaman tersebut mencerminkan filosofi On Point Ballet School bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan berkembang melalui seni, sesuai tahapan kemampuan masing-masing.
Persiapan pertunjukan berlangsung sekitar satu tahun, termasuk enam bulan latihan intensif. Para penampil menjalani proses penguasaan teknik, koreografi, musikalitas, koordinasi kelompok, ekspresi artistik, dan disiplin panggung. “Bagi sekolah, pengalaman tampil merupakan kelanjutan dari pendidikan di studio, bukan sekadar hasil akhir latihan,” ujar Ester.
Kisah klasik dalam pengalaman teatrikal terinspirasi dari The Nutcracker, Beyond Nutcracker mengajak penonton mengikuti petualangan Clara dan Nutcracker menuju dunia fantasi, termasuk pertemuan dengan Mouse Troops, kehadiran Mother Fairy, dan perjalanan ke Kingdom of Sweets.
Rangkaian adegan seperti Snowflakes, Waltz of the Flowers, Sugar Plum Fairies, Spanish Dance, Chinese Tea, dan Candy Cane dipersembahkan melalui perpaduan balet klasik, karakter teatrikal, kostum, musik, serta tata visual panggung. Produksi ini juga melibatkan Daria Olefirenko dari Jerman sebagai Co-Artistic Director, yang turut memperkuat pengembangan artistik dan pertukaran pengalaman internasional.
Bagi Ester Manurung, tantangan pendidikan seni bukan hanya membentuk pelaku seni yang terampil. Penonton juga membutuhkan pengetahuan dan pemahaman untuk menikmati pertunjukan, mengenali nilai sebuah koreografi, dan menghargai proses panjang di balik panggung.
Ester menambahkan dengan jaringan pendidikan yang menjangkau Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cikarang, hingga Karawang, On Point Ballet School melihat masih adanya kebutuhan untuk memperluas kesempatan masyarakat menikmati produksi seni pertunjukan. Akses terhadap pengalaman menonton balet di gedung teater belum selalu mudah dijangkau oleh keluarga dari berbagai wilayah.
Melalui Beyond Nutcracker yang digelar pada tanggal 24-25 Oktober 2026, sekolah On Point berupaya menghadirkan ruang pertemuan antara murid, keluarga, dan masyarakat dengan seni pertunjukan yang disiapkan secara serius. Selama hampir 23 tahun, On Point Ballet School mengembangkan pendidikan balet yang menekankan fundamental teknik, disiplin, tanggung jawab, dan pertumbuhan artistik. “Para murid turut berpartisipasi dalam berbagai ajang, termasuk Asia Open Dance Championship, Artistry Ballet ID, dan Dancepreneur Indonesia, dengan pencapaian beasiswa serta posisi tiga besar dalam kategori anak-anak dan remaja,” jelas Ester.
Namun, sekolah menempatkan prestasi kompetisi sebagai salah satu bagian dari proses, bukan satu-satunya tujuan. Kemampuan menerima koreksi, ketekunan, kerja sama, dan keberanian tampil merupakan nilai pendidikan yang sama pentingnya. Melalui BEYOND NUTCRACKER, On Point Ballet School menegaskan komitmen untuk berkontribusi pada pendidikan karakter sekaligus pengembangan ekosistem seni pertunjukan Indonesia. (jo)







Komentar