oleh

MUI MATARAM SERUKAN JAGA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Simulasi teroris
Simulasi teroris

POSKOTA.CO – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mataram TGH Muhtar mengimbau warga di daerah itu tidak terpengaruh isu mengenai suku, agama, ras dan antargolongan atau SARA setelah penemuan buku-buku yang mencela Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT.

“Alhamdulillah buku-buku itu sudah diamankan dan tidak meluas ke masyarakat. Untuk itu, mari kita merapatkan barisan untuk terus menjaga kesatuan dan persatuan antarumat agar Kota Mataram bisa tetap aman dan kondusif,” katanya di Mataram, Selasa.

Pernyataan itu dikemukakannya setelah penemuan buku-buku yang intinya mencela Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT serta menyebutkan bahwa Tuhan yang benar adalah yang disembah oleh agama tertentu, beberapa waktu lalu.

Sebagai langkah atisipasi setelah ditemukannya buku-buku tersebut, MUI telah melakukan pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan menyampaikan hal tersebut kepada semua pimpinan umat.

“Dari pengakuan Pak Bambang (pimpinan umat Kristen di Kota Mataram), menyebutkan bahwa mereka tidak pernah menyebar buku-buku tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan, dari pimpinan umat Kristen sendiri menduga kemungkinan buku-buku itu disebar oleh orang luar. Hal itu terbukti setelah pimpinan umat Kristen melakukan penelusuran terhadap penyebaran buku-buku tersebut.

“Memang benar, ternyata penyebar buku-buku yang dikhawatirkan menimbulkan perpecahan antarumat itu dilakukan oleh pihak luar,” ujarnya.

Terkait dengan itu, Kota Mataram dengan penduduk yang heterogen harus mampu menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan, serta jangan mudah terprovokasi dengan berbagai isu yang mengarah ke perpecahan antarumat.

“Upaya-upaya sosialisasi dan imbauanpun terus kami sampaikan melalui berbagai ruang publik, terutama di tempat-tempat ibadah umat muslim,” katanya.

Begitu juga dengan upaya-upaya antisipasi yang dilakukan pemerintah kota melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Mataram dengan melibatkan forum kewaspadaan dini masyarakat (FKDM) yang beranggotan sekitar 500 orang tersebar pada 50 kelurahan di ibu kota provinsi ini.

Anggota FKDM ini merupakan ujung tombak pemerintah kota dalam melakukan deteksi dini terhadap indikasi adanya gejolak atau reaksi masyarakat yang akan timbul di tengah masyarakat.

“Anggota FKDM seperti `spionase` yang terus melakukan pengawasan dan pemantauan kondisi ketertiban masyarakat,” katanya.

Sebelumnya, pada Sabtu (24/1) petang, sekitar 200 anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Wilayah Nusa Tenggara Barat menggelar aksi damai berkeliling Kota Mataram, mengecam pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di majalah Prancis Charlie Hebdo, karena dianggap sebagai tindakan penghinaan terhadap umat Islam.

Aksi damai ini sebagai bentuk solidaritas HTI Wilayah NTB bersama kaum muslimin di seluruh dunia yang mengecam tindakan majalah Prancis Charlie Hebdo, yang memuat kartun Nabi Muhammad SAW, meskipun tahu bahwa itu menghina agama Islam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *