oleh

Teladan Keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si

Ibadah haji merupakan ibadah yang spesial dalam Islam. Karena ibadah haji mengandung nilai sejarah yang sangat penting dan berarti bagi umat Islam. Dari keterangan para ulama dikatakan bahwa ibadah haji adalah napak tilas jejak Nabi Ibrahim. Beliaulah sebagai peletak dasar dan asal usul ajaran Tauhid yang kini dianut oleh umat Islam serta praktik pelaksanaan ajaran tauhid tersebut.

Prosesi ibadah haji sendiri menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim menjalankan ajaran tauhidnya dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga, istri beliau Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail. Karena itu perlu kiranya bagi kita umat Islam untuk mengambil tauladan dari sekilas perjalanan beliau bersama anak dan istrinya. Sebagaimana Firman Allah Swt:“Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…” (QS. Al-Mumtahanah: 4).

Pencarian Tentang Tuhan

Teladan Nabi Ibrahim dapat dimulai ketika beliau merasa gundah gulana bercampur marah melihat manusia di sekelilingnya yang menjadikan berhala sebagai tuhan. Sangat disayangkan pula justru bapaknya sendiri yang bernama Azar, adalah seorang pembuat patung-patung yang dijadikan berhala tersebut. Namun di sisi lain nabi Ibrahim pun belum menemukan pasti bagaimana tuhan yang benar itu.

Dalam surat Al-An’am ayat 76-79, di’rekam’ bagaimana perjalanan beliau mencari Tuhan ‘ideal’ yang sepatutnya disembah oleh manusia. Bermula ketika pada malam hari beliau melihat gemerlap bintang-bintang bertebaran di langit yang indah. Beliau menyangka bahwa bintang-bintang inilah tuhan sebenarnya. Namun kemudian bintang-bintang itu lenyap dan muncullah bulan yang juga pada akhirnya juga lenyap. Saat itulah beliau berkata: “sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

Kemudian, saat siang hari beliau melihat matahari yang bersinar sangat terang dan lebih besar di banding dengan bulan dan bintang-bintang, beliau pun menganggap barangkali matahari inilah tuhan yang sesungguhnya, walaupun akhirnya matahari pun juga lenyap. Setelah pengalaman pencarian tuhan tersebut Nabi Ibrahim pun berkesimpulan bahwa semua itu bukanlah tuhan.

Bagi beliau tuhan yang sesungguhnya adalah Tuhan pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya. Nabi Ibrahim memasrahkan diri hanya kepada Tuhan yang sesungguhnya dan membantah keras jika berhala-berhala dijadikan sebagai tuhan. Kepasrahan itulah yang dinamakan dengan Islam dan nabi Ibrahimpun disebut sebagai muslim.

Setelah beliau memiliki keyakinan yang kuat dan kukuh terhadap Allah Tuhan yang sebenarnya, beliaupun mengajak ayahnya serta kaumnya yang terdiri dari rakyat jelata sampai raja yang berkuasa, Namruj, untuk menghentikan segalan bentuk kesyirikan termasuk menyembah patung berhala sebagai tuhan. Sebagaimana yang telah maklum di kalangan umat Islam ajakan Nabi Ibrahim kepada raja dan kaumnya ditolak mentah-mentah bahkan beresiko fatal dengan keputusan penguasa untuk membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup meskipun akhirnya Allah Swt menyelamatkan beliau dengan membuat api yang membakarnya tidak panas bahkan menjadi dingin (QS Al-Anbiya’: 69).

Keteladanan Pribadi Nabi Ibrahim

Dari kisah pencarian tuhan oleh Nabi Ibrahim ini dapat diambil beberapa teladan. Antara lain: pertama, Nabi Ibrahim adalah seorang yang memiliki kepribadian yang kuat meliputi kuat akal fikiran (Intelegent Quotion), kuat dalam mengelola emosi (Emotional Quotion) dan kuat dalam mengikuti hati nurani (Spiritual Quotion). Beliau menggunakan kekuatan akal yang diberikan Allah Swt untuk membedakan mana kebenaran dan mana kebatilan.

Jika menyembah berhala merupakan suatu bentuk kebatilan kenapa tidak ditentang dan dihindari. Saat Raja Namruj dan kaumnya marah melihat patung-patung berhala dihancurkan, Nabi Ibrahim malah mengajak mereka agar mempergunakan akalnya dengan baik dan benar. Saat beliau ditangkap dan dituduh telah menghancurkan patung-patung berhala, beliau menjawab bahwa yang melakukannya adalah merupakan patung yang besar. Hal itu dikatakan Nabi Ibrahim agar mereka benar-benar menggunakan akalnya dengan benar sesuai jawaban mereka: mana mungkin patung yang besar itu dapat menghancurkan patung-patung yang kecil karena memang mustahil. Sehingga terbukalah belenggu yang menutupi akal fikiran mereka.

Beliau juga dapat menggunakan kecerdasan emosinya dengan baik, terbukti meskipun ayahnya termasuk penyembah berhala, beliau tetap menyayangi dan menghormati ayahnya sebagai orang yang telah membesarkannya, meskipun secara pelan-pelan tetap menasihati ayahnya agar bertaubat atas kekeliruannya selama ini. Bahkan beliau sempat ingin mendoakan ayahnya agar diampuni dosa-dosanya kepada Allah swt meskipun juga pada akhirnya ketika jelas ayahnya tidak bisa dinasihatinya Nabi Ibrahim berlepas diri dari ayahnya. Dalam hal ini Nabi Ibrahim dipuji oleh Allah swt dalam Al-Qur’an Surat At-Taubat ayat 114: “…Sungguh, Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Nabi Ibrahim juga orang yang pandai mendengarkan bisikan kebenaran dari hati nuraninya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: “Istaftii Qalbak, mintalah fatwa kepada hati nuranimu.” Di saat berada kebimbangan di antara berbagai pilihan Rasulullah mengajarkan agar bertanya di kedalaman hati sanubari yang akan memberi jawaban yang baik dan benar, sesuai fitrah kemanusiaan sebagai makhluk berketuhanan. Di sinilah kematangan spiritual Nabi Ibrahim sehingga mampu berpegang pada hati nurani di saat situasi kondisi yang tidak kondusif untuk mempertahankan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Implementasi Teladan Nabi Ibrahim Masa Kini

Nabi Muhammad saw bersabda: “akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR Tirmidzi). Apa yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim menghadapi kaum yang ingkar kepada Tuhannya dan merasa nyaman berada dalam kesesatan juga dialami saat ini oleh mereka yang berpegang teguh dengan ajaran agama, berusaha mengikuti kata hati dan selalu menjunjung tinggi moralitas dan akhlakul karimah. Meskipun tentu dalam konteks yang berbeda. Jika Nabi Ibrahim menghadapi mayoritas para penyembah berhala saat itu dan mengajak mereka kepada tauhid, yaitu hanya menyembah Allah Swt sebagai Tuhan yang sebenarnya, maka orang-orang yang beriman saat ini menghadapi orang-orang yang tidak mengikuti ajaran tauhid, meskipun secara identitas sudah bertauhid (KTP nya beragama Islam).

Saat ini yang terjadi adalah orang yang sudah bertauhid, yakin bahwa Allah Swt satu-satunya Tuhan, namun prilakunya seperti orang yang tidak memiliki Tuhan. Masih terdapat mereka yang beragama namun kesalehannya baru terlihat di masjid, mushollah, majelis ta’lim dan di lembaga-lembaga agama. Namun saat berada di kantor, baik pemerintah maupun swasta, kesalehannya belum terbawa sempurna. Masih maraknya korupsi, berebut kekuasaan, jabatan yang tak jarang nyawa sampai melayang. Begitu pula ketika berada di tempat usaha dan di manapun juga.

Kita baru menjadikan agama hanya urusan akhirat. Ketika banyak berbuat dosa cukup membersihkan diri di masjid atau paling mewah pergi haji dan umroh untuk menebus dosa. Kemudian sepulangnya dari umroh dan haji kembali berbuat dosa dan maksiat. Na’udzubillah.

Kita diminta sama Allah swt untuk mengambil teladan dari Nabi Ibrahim dalam hal tetap berpegang teguh kepada kebenaran secara konsisten (istiqomah) meskipun situasi dan kondisi selalu menggoda kelembah kebatilan dan kemungkaran. Oleh karena itu kita diajarkan doa, “Ya Allah tunjukanlah kepadaku yang benar itu benar dan beri kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kebatilan itu batil nyatanya dan berilah kemampuan untuk menjauhinya.”

Bagi mereka yang konsisten menjaga imannya dengan baik, Allah menjanjikan baginya sebagaimana dalam firman-Nya: “sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami Allah’ kemudian konsisten, maka malaikat akan turun kepadanya dengan mengatakan: jangan kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Al-Fussilat: 30).

Orang yang beriman akan senantiasa didampingi oleh malaikat saat-saat diperlukan. Di antaranya pada saat meninggal dunia, di dalam kubur dan dihisab di akhirat nanti, sehingga kesulitan yang mereka hadapi terasa ringan. Malaikat juga menyampaikan kabar yang menggembirakan, memberi segala yang manfaat, menolak kemudaratan dan menghilangkan duka cita yang mungkin di temui dalam urusan dunia maupun di akhirat. Dengan demikian dadanya menjadi lapang dan tentram, tidak ada kekawatiran pada diri mereka. Demikian makna ayat tersebut dari beberapa penafsiran para ulama tafsir. Semoga kita bisa istiqamah dalam iman, Islam dan amal saleh. Amin Ya Robbal Alamin. (ta)

*Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.

(Bagian Kesatu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *