oleh

Semangat Hijrah Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si

ALHAMDULILLAH kita telah memasuki Tahun Baru 1445 Hijriyyah. Semarak mepringati Tahun baru Hijriyah di negeri kita cukup semarak. Ada yang pawai obor keliling jalan-jalan untuk mengaak warga bahwa tahun baru sudah dimulai dan segera sing-singkan lengan baju untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Ada pula yang memperingatinya dengan mengundang orang untuk hadir di masjid, musholla dan majelis ta’lim untuk mendengarkan ceramah dan berbagai cara lainnya masyarakat memperingati Tahun baru hijriyyah.

Berdasarkan informasi sejarah, tahun baru Islam Hijriyyah pertama kali dicetuskan oleh sahabat Umar Bin khattab. Saat tu umat Islam kesulitan untuk mengetahui tahun mana ketika sebuah peristiwa terjadi tidak memiliki tanggal yang lengkap. Akhir para sahabat bermusyawarah untuk menentukan kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan kelahiran Nabi Muhammad saw, ada pula berdasarkan awal turunnya wahyu, dan bahkan ada pula yang berdasarkan wafatnya Nabi Muhammad saw. Namun semua itu ditolak dan Akhirnya disepakati awal kalender hijriyah adalah didasarkan saat Hijrahnya nabi muhammad saw dari Mekkah ke Madinah.

Kenapa Umar Bin Khattab akhirnya memutuskan menjadikan Hijrahnya rasul sebagai permulaan perhitungan kalender Islam? Jawabnya karena sebagai peneguhan bahwa agama Islam lebih mementingkan prestasi kerja dibanding ketokohan seseorang. Bukan sekadar tokohnya yang penting melainkan prestasinya. Dan memang kenyataan sejarah mengatakan diawali hijrahnya Nabi Muhammad saw itulah awal dari kemajuan Islam.

Di saat Nabi saw tidak begitu dihormati di kampung halamannya di Mekah karena disangka orang aneh dan membawa kepercayaan yang berbeda dengan kepercayaan nenek moyang mereka. Namun setelah beliau berhijrah di Madinah, disambut dengan sambutan yang hangat, hormat dan bersahabat dari sahabat Ansor yang rela akan mengorbankan dirinya untuk membela dakwah Nabi Muhammad saw. Jadi penamaan “hijriyah berasal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Semangat etos Hijrah

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki ) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasulnya, kemudian kematian menimpa (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sesunguhnya pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah swt. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (QS An-Nisa: 100).

Dalam tafsir Al-Qur’an kementerian agama dijelaskan terkait ayat di atas adalah bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang yang berhijrah meninggalkan kampung halamannya karena menaati perintah Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya, mereka akan memperoleh tempat tinggal yang lebih makmur, lebih tenteram dan aman dan lebih mudah menunaikan kewajiban-kewajiban agama di daerah yang baru, yaitu Madinah. Janji yang demikian itu sangat besar pengaruhnya bagi mereka yang hijrah. Sebab umumnya orang-orang Islam di Mekah yang tidak ikut hijrah itu penuh dengan penderitaan dan daerah yang dituju itu memberikan kelapangan hidup bagi mereka.

Allah akan memberikan kelapangan hidup di dunia dan akan memberikan pahala yang sempurna di akhirat kepada orang-orang yang hijrah dan meninggal dunia sebelum sempat sampai ke Madinah. Amat jelas janji Alah kepada mereka yang berhijrah dibandingkan dengan janji kepada mereka yang tidak berhijrah karena uzur, sebab bagi golongan yang terakhir ini pengampunan Allah tidak disebut secara pasti. Pengampunan dan kasih sayang Allah sangatlah besar terhadap muhajirin yang dengan ikhlas meninggalkan kampung halaman mereka untuk menegakkan kalimat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la dengan sanad yang baik dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Damrah Bin Jundub pergi dari rumahnya “Bawalah aku dan keluarkanlah aku dari bumi orang-musyrik ini (Mekah) untuk menemui Rasulullah saw.” Maka pergilah dia, dalam perjalanan dia meninggal sebelum berjumpa dengan Nabi Muhammad saw lalu turunlah ayat ini.

Prof Nurcholis Madjid pernah menulis tentang Imam Sysafi’I yang madzhabnya diikuti sebagian besar kaum muslimin di Indonesia, pernah menulis syair yang indah tentang hijrah: ”pergilah, maka kamu akan mendapatkan ganti dari yang kamu tinggalkan, lihatlah kayu yang wangi itu (kayu cendana), di tempatnya sendiri hanyalah kayu bakar saja.” Maksudnya banyak orang yang mungkin tidak berharga kalau masih berada di tempatnya sendiri, dia akan berharga kalau pindah ke tempat lain.

Banyak orang yang bisa membuat kreativitas dan karya-karya besar justru setelah mereka pindah. Sebaliknya, jarang sekali orang yang bisa menjadi besar di tempatnya sendiri, karena terkungkung oleh masyarakat dan budayanya sendiri.

Jadi, hijrah memang merupakan suatu cara untuk memperoleh pelajaran dari Allah dengan memperhatikan masyarakat-masyarakat yang jauh. Itulah sebabnya mengapa umat Islam dulu sangat dinamis. Mereka mengembara ke seluruh muka bumi, dan menemukan berbagai hal yang baru yang unik kemudian diislamkan. Saat nabi saw tiba di madinah beliau mengubah nama kota itu dari Yatsrib menjadi Madinah alias kota yang berperadaban.

Faktor Utama Keberhasilan Hijrah

Namun di sisi lain hijrah bukan hanya persoalan pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, melainkan juga persoalan komitmen niat dan perjuangan. Nabi saw bersabda: “tidak ada hijrah setelah kota Mekah ditakhlukkan akan tetapi hijrahnya adalah berupa jihad dan niat.” (HR.Bukhari Muslim).

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw tersebut bahwa hijrah saat ini bukan sekadar pindah tempat adalah benar adanya. Saat ini yang perlu digaungkan adalah bagaimana kau muslimin selalu menghadirkan perjuangan untuk mewujudkan niat melakukan perubahan. Allah berfirman: “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri..”(QS. Al Ra’du: 11). Ayat ini tegas sekali mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengubah nasib kita, baik pribadi maupun kelompok, bahkan sebuah bangsa jika memang tidak memiliki niat dari diri sendiri untuk mengubahnya. Di sinilah pentingnya sebuah tekad dan perjuangan terus dikobarkan jangansampai ‘api’ semangat untuk merubah menjadi mudah padam yang akan menjadi musibah bagi diri sendiri atau bagi kaum muslimin.

Karena itulah Nabi saw selalu mengingatkan bahwa barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin mereka itulah yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama seperti kemarin mereka adalah orang yang merugi, dan barangsiapa yang hari ini ternyata lebih buruk dibanding hari ini itulah orang yang terlaknat. Alangkah memalukan jika kita menjadi orang terlaknat karena hari demi harinya penuh dengan keburukan, bahkan lebih buruk dari hari-hari sebelumnya. Na’udzubillah.

Nabi saw mengajarkan satu doa kita untuk mengatasi ketidakberdayaan menghadapi kelemahan diri sendiri untuk kemudian bangkit menjadi pribadi yang dinamis dan senatiasa bergerak untuk melakukan perbaikan dan kemaslahatan bagi diri dan masyarakat.

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kikir, dan dari lilitan hutang dan penindasan orang.”

Terkahir Allah swt mengingatkan kepada hamba-Nya bahwa masuk surga itu tidak ‘gratis’ melainkan harus ditepuh dengan perjuangan dan kesabaran. Firman Allah swt: “ apakah engkau mengira akan masuk surga sampai Allah mengetahui mereka yang berjuang di antarankamu dan yang bersabar.” (QS. Ali Imran: 142). (ta)

*Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *