oleh

Santuni dan Cintai Fakir Miskin

DI ANTARA perkara yang dicela dan dilarang ialah, merendahkan taraf orang miskin karena kemiskinannya, atau menghinanya. Sedang kemiskinan adalah syi’ar para Nabi dan sifat para hamba Allah yang terpilih. Termasuk dicela dan dilarang ialah menyombongkan diri atas kaum fakir miskin, menghina mereka, tidak memperhatikan urusan mereka, dan mengutamakan orang kaya melebihi mereka disebabkan materinya. Semua itu merupakan perbuatan yang terlarang, maka jagalah diri kita daripadanya.

Jika hendak menghormati seseorang, hormatilah menurut kadar penghormatan terhadap Allah dan Rasul-Nya dengan mendirikan segala kewajiban agama, dan mengenal segala hak dan batasan Allah dan Rasul-Nya, tanpa memandang apakah ia dari golongan kaya ataupun miskin. Apabila antara orang kaya dengan orang miskin terdapat persamaan dalam urusan agama, maka hendaklah orang miskin dilebihkan karena kemiskinannya, kerapuhan hatinya dan karena kurangnya perhatian orang banyak terhadapnya. Berbeda dengan orang kaya, biasanya pribadi orang yang lalai kerap memberikan penghormatan yang berlebihan kepada orang kaya, disebabkan kebesaran dunia yang ada dalam genggaman tangan mereka.

Allah subhanahu Wa taala telah berfirman, “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?, (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al-Balad, 90:12-17)

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Bagi setiap sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin dan orang-orang fakir.” (HR. Ibnu La-al dari Ibnu Umar r.a.).

Kunci surga itu ialah cinta kepada kaum fakir miskin. Dikatakan demikian karena kebanyakan orang yang masuk surga itu terdiri atas kalangan mereka. Dalam hadits lain disebutkan bahwa mula-mula orang-orang masuk surga ialah kaum fakir miskin dari kalangan Muhajirin. Dan Rasulullah Saw. sendiri pernah berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, serta masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang miskin.” Makna yang dimaksud ialah masukanlah aku ke dalam surga bersama-sama dengan golongan orang-orang yang miskin. Ahli Shuffah yaitu orang-orang yang hidup di pinggiran masjid, tidak mempunyai sanak keluarga dan harta benda, mereka adalah kekasih-kekasih Nabi Saw.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang yang benar-benar miskin itu bukanlah seseorang yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain, lalu ia pergi setelah diberi sesuap atau dua suap makanan, dan sebiji atau dua biji buah kurma. Tetapi orang yang benar-benar miskin itu ialah orang yang tidak memiliki kecukupan yang menjaminnya, dan keadaannya pun tidak diketahui sehingga tidak diberi sedekah, dan ia pun tidak mau bangkit untuk meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Syaikhan).

Orang miskin yang sesungguhnya ialah orang yang tidak memiliki kecukupan persediaan makanan untuk makan sehariannya, dan ia tidak menampakkan kemiskinannya, yakni tidak suka meminta-minta kepada orang lain.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Hai anak Adam, Aku sakit tetapi ternyata kamu tidak menjenguk-Ku”. ….. Hai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu tetapi kamu tidak memberi-Ku makan.” ….. Hai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberi-Ku minum.” Anak Adam menjawab, “Wahai Rabbku, bagaimana aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?” Allah menjawab, “Hamba-Ku yang bernama Fulan meminta minum kepadamu tetapi kamu tidak memberinya minum, tidakkah kamu ketahui, seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu menjumpai (pahala) hal tersebut berada di sisi-Ku.” (HR. Muslim melalui Abu Hurairah r.a.).

Hadits ini bermakna begitu menyayat dan pilu perasaan seorang fakir dan miskin yang mengalami sakit, mengalami lapar dan kehausan digambarkan melalui perasaan Allah Swt lewat sabda Nabi Muhammad Saw., dan di hadits ini kebesertaan rahmat, pertolongan, dan pahala-Nya selalu menyertai orang-orang tersebut.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Cintailah manusia (orang lain) seperti mencintai dirimu sendiri.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang muslim itu hendaknya mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Dan dalam hadits ini disebutkan secara menyendiri melalui kata perintah, yaitu, “Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.” Barang siapa yang mengerjakan hal ini, berarti ia adalah orang muslim.

Abu Hurairah menceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan mengadukan kesesatan hatinya (tidak mudah tersentuh terhadap penderitaan orang lain). Beliau kemudian menasihatinya seraya berkata, “Jika kamu ingin hatimu menjadi lembut maka beri makanlah orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang di antara umat sebelum kalian menjalani perhitungan amal perbuatan, ternyata ia tidak memiliki amal kebaikan barang sedikit pun kecuali ia (mendapat amal kebaikan) karena ia seorang yang kaya dan gemar bergaul dengan orang banyak; ia selalu memerintahkan kepada semua pelayannya agar memaafkan orang-orang miskin (yang berhutang kepadanya). Maka Allah Swt. berfirman kepada para malaikat-Nya, “Kami lebih berhak untuk melakukan hal tersebut daripadanya; kalian harus memaafkannya.” (HR. Bukhari).

Barang siapa yang memaafkan orang yang tidak mampu membayar utang kepadanya, maka dosa-dosanya dimaafkan oleh Allah Swt., seperti yang disebutkan dalam hadits ini mengenai kisah salah seorang dari kalangan umat terdahulu. Ketika orang tersebut (orang kaya) mati dan diperiksa ternyata pada dirinya tidak terdapat suatu amal baik pun, tetapi dia adalah seorang kaya raya dan banyak menolong orang lain. Ia memerintahkan kepada para pembantunya agar memaafkan orang yang tidak mampu membayar utangnya atau menangguhkannya sampai ia mampu membayar tanpa embel-embel bunga. Maka Allah berfirman, “Aku lebih berhak untuk melakukan hal itu terhadapnya, maka berilah dia maaf.” Allah Swt. telah berfirman, “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2:280).

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Nabi Daud a.s. telah berkata, “Engkau masukkan tanganmu ke mulut seekor naga hingga batas siku lalu naga itu mengunyahnya; hal ini lebih baik bagi engkau daripada engkau meminta sesuatu kepada seseorang yang tidak punya apa-apa, kemudian sesuatu itu diada-adakannya.” (HR. Ibnu Asakir melalui Abu Hurairah r.a.).

Hadits ini menceritakan bahwa meminta-minta merupakan perbuatan tercela, terlebih lagi jika meminta kepada orang yang tidak punya, lalu karena tidak enak maka orang yang tidak punya itu terpaksa memberikan apa yang dimintanya. Dalam hadits lain dikatakan bahwa tangan yang di atas itu lebih baik dari tangan yang di bawah. Atau dengan kata lain, orang yang memberi itu lebih baik daripada orang yang meminta. Wallahu A’lam bish Shawabi.

Drs.H.Karsidi Diningrat M.Ag

* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.
* Mantan Anggota PB Al Washliyah Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *