BATAM — Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) tengah menyiapkan langkah penguatan layanan rehabilitasi medis agar dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat Puskesmas. Penguatan tersebut dilakukan seiring kebijakan pemerintah yang mendorong pelayanan rehabilitasi dasar hingga ke fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Pusat PERDOSRI, DR. Dr. Rumaisah Hasan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PERDOSRI ke-25 yang berlangsung di Batam pada 23-26 September 2026.
PERDOSRI, kata Rumaisah, tengah menyiapkan kurikulum untuk meningkatkan kapasitas dokter di Puskesmas sekaligus merumuskan standar pelayanan rehabilitasi dasar. “Harapan kami, seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari perkembangan rehabilitasi medis tanpa ada yang tertinggal,” ujar Rumaisah.
Menurutnya, peningkatan kualitas dan pemerataan layanan menjadi bagian penting dari pengembangan kedokteran fisik dan rehabilitasi di Indonesia. Tidak hanya memperkuat kompetensi dokter spesialis, PERDOSRI juga ingin memastikan perkembangan ilmu dan praktik rehabilitasi dapat diterapkan lebih luas di masyarakat.
Hal tersebut menjadi salah satu tujuan penyelenggaraan PIT PERDOSRI yang tahun ini memasuki edisi ke-25. Sekitar 1.700 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam kegiatan yang berlangsung di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam. Sejumlah sejawat medis dari Malaysia, Kanada, dan Australia juga turut hadir.
Mengusung tema “Connecting Discovery to Practice: Rehabilitation Research for Community Empowerment”, kegiatan tersebut menjadi forum bagi para dokter untuk memperbarui kompetensi dan keterampilan sekaligus mendiskusikan perkembangan terbaru dalam bidang rehabilitasi medis.
Rumaisah menjelaskan, PIT PERDOSRI secara rutin digelar dengan lokasi yang berpindah setiap tahun. Pola tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk mempererat hubungan antaranggota, tetapi juga membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah di lokasi penyelenggaraan.
“Acara ini sengaja dibuat berpindah-pindah lokasi setiap tahunnya. Tujuannya bukan hanya memperkuat silaturahmi antaranggota, tetapi juga membangun ikatan yang kuat dengan pemerintah daerah setempat,” katanya.
Penguatan layanan rehabilitasi tersebut juga diiringi dengan peningkatan jumlah tenaga spesialis. Ketua Panitia PIT PERDOSRI XXV, Dr. Suroso Agus Widodo, menyebut jumlah anggota aktif PERDOSRI saat ini mencapai 1.362 dokter dan terus bertambah setiap semester.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pengembangan pusat pendidikan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi juga terus dilakukan. Saat ini terdapat tujuh senter pendidikan yang telah menghasilkan lulusan, lima senter baru telah dibuka, dan lima lainnya masih dalam proses. Ke depan, terdapat rencana penambahan 10 senter pendidikan.
Rangkaian PIT PERDOSRI XXV turut diisi workshop untuk meningkatkan keterampilan klinis, simposium mengenai perkembangan ilmu terbaru, serta kegiatan bakti sosial bagi masyarakat Batam. Panitia juga menyediakan partisipasi secara daring agar pelayanan di rumah sakit daerah tetap berjalan selama kegiatan berlangsung.
Selain memperkuat layanan di dalam negeri, PERDOSRI juga akan membawa kiprah rehabilitasi medis Indonesia ke forum internasional. Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah Kongres International Society of Physical and Rehabilitation Medicine (ISPRM) di Bali pada 12–17 Juni tahun depan.
Bagi PERDOSRI, rangkaian penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat rehabilitasi medis, mulai dari peningkatan kompetensi tenaga kesehatan hingga memastikan layanan dasar dapat diakses masyarakat secara lebih merata.
Batam Hadapi Tantangan Kota Industri
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Anggrainie Nawang Wulan dalam sambutannya mengatakan karakteristik Batam sebagai kota industri dan kawasan dengan mobilitas tinggi membuat kebutuhan terhadap layanan rehabilitasi medik semakin penting. Tingginya aktivitas kendaraan serta jumlah pekerja di kawasan industri menjadi salah satu faktor yang mendorong kebutuhan terhadap dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (SPKFR).
Menurut Anggrainie kondisi geografis dan karakteristik kota industri turut menghadirkan tantangan kesehatan yang membutuhkan penanganan rehabilitatif. “Infrastruktur bandara hingga jalan di Batam sangat lebar mencapai lima lajur. Sayangnya, hal ini sering memicu angka kecelakaan akibat laju kendaraan,” ujarnya.
Selain risiko kecelakaan lalu lintas, keberadaan kawasan industri dengan jumlah pekerja lokal maupun internasional yang besar juga menghadirkan potensi penyakit dan kecelakaan akibat kerja.
Kondisi tersebut, kata Anggrainie, pada akhirnya meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan rehabilitasi medik, baik untuk memulihkan fungsi tubuh maupun membantu pasien kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Pemerintah Kota Batam pun membuka peluang bagi dokter maupun investor, termasuk lulusan luar negeri, untuk mengembangkan fasilitas kesehatan yang bergerak di bidang rehabilitasi medik.
Pemkot Batam juga menyatakan memiliki alokasi anggaran untuk membantu menutup biaya pelayanan kesehatan esensial yang belum sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan.







Komentar