oleh

Pilihlah Pemimpin yang Tepat

Oleh : Karsidi Diningrat

SYAIKH Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa setidaknya ada tiga (3) cara dalam mempertimbangkan pilihan: (1) jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya. (2) Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik. (3) Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya”.

Allah Swt. telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai pemimpinmu, mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim”. (Q.S. Al-Maidah, 5:51).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta suatu jabatan atau kedudukan, karena jika engkau diberi karena meminta engkau akan ditelantarkan. Tetapi jika engkau diberi tanpa permintaan darimu engkau akan dibantu dalam melaksanakannya. Apabila engkau telah bersumpah atas sesuatu, kemudian engkau melihat perkara lain lebih baik darinya, maka lakukanlah yang lebih baik dan bayarlah kaffarat sumpahmu.” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Kepemimpinan dan Jabatan yang Tidak Pantas Diminta

Berkata, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, “bahwa kepemimpinan dan jabatan yang lainnya tidak pantas diminta atau menawarkan diri untuk mendapatkannya. Bahkan dia harus berdoa memohon keselamatan kepada Allah, karena dia tidak mengetahui apakah jabatan tersebut baik bagi dirinya atau bahkan buruk bagi dirinya? Dia juga tidak tahu apakah dia sanggup melaksanakannya ataukah tidak?

Jika dia memintanya dan berambisi mendapatkannya dia akan ditelantarkan, dan ketika hamba ditelantarkan dia tidak mendapatkan taufik, kemudahan, dalam perkaranya, dan tidak pula mendapatkan pertolongan dalam melaksanakannya, karena permintaannya dibangun di atas dua larangan: pertama, Kerakusan pada dunia dan kepemimpinan, sementara kerakusan hanya mengakibatkan kecemasan dalam mengeruk kekayaan Allah dan sombong terhadap hamba-hamba Allah. Kedua, Padanya terdapat sikap bersandar pada diri sendiri dan memutuskan diri dari bersandar dan memohon kepada Allah. Oleh karenanya Rasulullah bersabda, “Engkau akan ditelantarkan.”

Sedangkan bagi orang yang tidak berambisi mendapatkannya dan tidak pula menginginkannya, tetapi dia memperolehnya tidak karena meminta-minta, dan dia melihat dirinya tidak mampu melaksanakannya, maka Allah akan menolongnya dan tidak melantarkannya, karena dia tidak menginginkan bala’, barang siapa yang mendapatkan bala’ bukan karena pilihannya dia akan diringankan dan mendapat taufik untuk melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini dia harus menguatkan tawakalnya kepada Allah Swt. Bila seorang hamba melaksanakan sebuah sebab dengan bertawakal kepada Allah niscaya dia akan berhasil.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin tidak akan terpatuk (binatang berbisa) dua kali pada lubang yang sama.” (HR. Muttafaqun ‘alaih melalui Abu Hurairah). Hadits ini adalah perumpamaan yang dibuat Nabi Saw. dalam rangka menjelaskan kesempurnaan seorang mukmin dalam menjaga diri. Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bersikap cerdas dan teliti, serta waspada juga kuat dalam menghadapi segala persoalan, dan diantara tanda-tandanya adalah berusaha mengetahui perbuatan yang bermanfaat untuk kita kerjakan, dan berusaha mengetahui sebab-sebab yang berbahaya, mudarat untuk menghindarinya.

Selain itu, hadits ini menganjurkan untuk menjauhi segala bentuk keraguan yang dikhawatirkan bisa menyebabkan jatuh pada keburukan. Allah Swt telah memperingatkan kaum mukminin agar tidak jatuh dalam godaan setan dan mengulang keburukan, kekeliruan, seraya berfirman, “Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya jika kamu beriman.” (QS. An-Nur, 24:17).

Kehati-hatian Datang dari Allah

Karena itu, orang-orang yang telah bertobat, sadar yang pernah merasakan kejahatan, kesalahan, kebenciannya lebih besar dan waspadanya lebih tinggi terhadap keburukan, kemaksiatan, karena telah mengalaminya dan merasakan pengaruh-pengaruh keburukannya. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Kehati-hatian datangnya dari Allah, dan tergesa-gesa datangnya dari setan. Tidak ada yang sabar melainkan orang yang pernah terjatuh, keliru, dan tidak ada yang bijaksana melainkan orang yang berpengalaman.” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits yang lain Beliau bersabda, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.” (HR. Hakim).

Target akhir yang diinginkan Islam dari seorang muslim bukanlah sekedar melakukan kebaikan, tetapi lebih lanjut adalah sikap istiqamah dalam kebaikan tersebut. Hal ini yang dapat kita tangkap dari berbagai wasiat yang banyak disampaikan Rasulullah Saw.

Diriwayatkan bahwa Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafiy r.a. berkata, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah saw., beri tahunkanlah kepada saya suatu perkataan dan perbuatan yang menjadi ajaran (inti) Islam yang saya tidak akan pernah lagi menanyakan hal yang sama kepada siapa pun sesudah engkau?” Rasulullah saw., lalu menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah swt. kemudian beristiqamahlah (dalam keyakinan tersebut).” (HR. Muslim).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw. bersabda, “Tinggalkanlah hal yang meragukanmu untuk mengerjakan hal yang tidak meragukanmu, karena sesungguhnya jujur itu mendatangkan thuma’ninah (ketenangan) dan sesungguhnya dusta itu mendatangkan kebimbangan.” (HR. Ahmad, Nasa’i dan lain-lainnya).

Tinggalkan Hal yang Meragukan Dirimu

Lakukanlah hal yang yakin pada dirimu karena sesungguhnya keyakinan itu membawa kepada ketenangan, dan tinggalkanlah hal yang meragukan dirimu karena sesungguhnya hal yang meragukan itu mengakibatkan kepada rasa waswas dan tidak tenang, terlebih lagi dalam masalah ibadah. Maka seseorang harus melaksanakan hal yang yakin dan meninggalkan hal yang masih meragukan.

 

Dan juga dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda, “Kerjakanlah kebajikan dan jauhilah kemungkaran. Pikirkanlah dahulu hal yang akibatnya disukai oleh pendengaran telingamu, agar kelak kaum tidak mengataimu bila engkau tiada dari mereka, bila telah engkau pikirkan akibatnya yang baik, maka kerjakanlah hal itu. Dan pikirkanlah dahulu hal yang akibatnya tidak disukai oleh pendengaran telingamu, bila akibatnya buruk maka tinggalkanlah agar kelak kaummu tidak mengata-ngataimu jika engkau tinggalkan mereka.” (HR. Jamaah).

Makna ‘Kerjakanlah kebajikan, jauhilah kemungkaran’, maksudnya apabila kita akan mengerjakan sesuatu hendaklah dipikirkan terlebih dahulu dampak positifnya agar kelak kita tidak mendengar kata-kata yang tidak enak dari orang lain. Apabila hal itu telah dipikirkan dengan matang, dan jika dikerjakan akan berdampak positif, maka kerjakanlah. Akan tetapi apabila akan berdampak negatif, maka jauhilah.

Dan dalam hadits yang senada disebutkan, “Apabila engkau hendak mengerjakan suatu perkara, maka pikirkan dahulu akibatnya, apabila akibatnya baik kerjakanlah, apabila akibatnya buruk tinggalkanlah.” (HR. Ibnul Mubarak).

Dalam hadits riwayat Jamaah maknanya agak terinci, yaitu menyangkut masalah hubungan antara sesama manusia, sedangkan dalam hadits riwayat Mubarak ini kata-katanya singkat tetapi maknanya lebih luas, yaitu mencakup masalah kebaikan dan keburukan secara umum. Jangkauan makna yang terkandung di dalam hadits ini bukan hanya terbatas kepada pengertian kebaikan dan keburukan di dunia saja, melainkan mencakup pula pengertian kebaikan dan keburukan yang berkaitan dengan masalah akhirat.

Agar Selalu Bersikap Tenang

Rasulullah Saw. menganjurkan kepada kita agar selalu bersikap tenang dan tidak terburu-buru dalam segala hal karena sikap ini merupakan sifat Allah. Dan melarang kita bersikap terburu-buru karena sikap ini merupakan sifat setan; dan setan itu menjerumuskan manusia kepada kekufuran, kedurhakaan, dan kebinasaan. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Tenang merupakan sifat Allah, sedangkan tergesa-gesa merupakan sifat setan.” (HR. Baihaqi melalui Anas r.a.). Dan hadits lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah menyukai sikap hati-hati dalam semua perkara.” (HR. Imam Bukhari). Kesimpulan makna dua hadits ini ialah menganjurkan kita agar dalam segala tindak-tanduk harus berhati-hati. Barang siapa yang bersikap hati-hati dan lemah-lembut dalam mengerjakan sesuatu, niscaya ia akan berhasil menyelesaikannya.

Dalam hidupnya, Rasulullah saw, sering kali berdoa agar diberikan keteguhan jiwa serta tekad yang kuat dalam menyelesaikan segala urusan. Sebagai bukti, di dalam shalatnya beliau sering membaca doa berikut, “Ya Allah sesungguhnya saya mohon kepada Engkau agar diberikan keteguhan dalam setiap urusan dan tekad yang kuat (untuk tetap berjalan) di atas petunjuk. Saya juga memohon agar senantiasa menjadi hamba yang bisa menyukuri nikmat-Mu serta sebaik mungkin beribadaha kepada-Mu. Saya memohon kepada-Mu hati yang lurus dan lisan yang jujur. Saya juga memohon segala yang baik menurut ilmu Engkau, berlindung dari segala yang jelek menurut ilmu Engkau, serta memohon ampun dari (segala dosa) yang Engkau ketahui.” (HR. Nasa’i). Wallahu a’lam bish-shawwab.

-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Wakil Ketua 1 Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *