oleh

Pemimpin Harus Melaksanakan Janji, Sumpah dan Amanahnya

Oleh : Karsidi Diningrat

DALAM kepemimpinan diperlukan adanya unsur pemimpin, yakni yang mempengaruhi tingkah laku pengikut-pengikutnya dalam sesuatu situasi. Ia mampu memberikan bentuk, warna dan arah, yang dilakukan dalam proses pengaruh mempengaruhi melalui komunikasi.

Seorang pemimpin haruslah merupakan pangkal penyebab daripada kegiatan-kegiatan, proses atau kesediaan merubah pandangan atau sikap (mental/phisic) daripada kelompok orang-orang, baik dalam hubungan organisasi formal maupun informal. Dengan mementingkan tindak-tanduk perbuatan, ia memiliki kepribadian panutan dan penuntun rakyat. Dirinya dapat mendatangkan keinginan rakyat atau pengikutnya untuk mencontoh atau mengikutinya, atau kepribadiannya memancarkan pengaruh tertentu, sesuatu kekuatan atau wibawa yang sedemikian rupa sehingga membuat rakyat atau sekelompok orang-orang mau melakukan apa yang dikehendakinya.

Amanah merupakan sifat sangat terpuji. Jika dia terdapat pada diri seseorang maka hal itu menandakan kebahagiaan akan menaungi kehidupannya selamanya. Orang itu akan dicintai Allah Swt., dicintai Rasulullah Saw., serta dicintai seluruh manusia. Lebih lanjut, dengan sifat terpuji inilah Rasulullah Saw., dikenal di kalangan anggota kaumnya jauh sebelum prediket kenabian disematkan Allah Swt. di dada beliau. Sifat jujur dan amanah yang terpatri kuat inilah yang menyebabkan orang-orang kafir, sekalipun tidak beriman kepada ajaran Islam, tetap mempercayakan urusan serta penitipan harta benda mereka kepada Rasulullah Saw.

Melihat urgensi amanah yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat inilah Rasulullah Saw. seringkali berwasiat kepada umatnya untuk memegang teguh sifat amanah ini. Beliau bahkan menggolongkan orang-orang yang tidak dapat menjaga amanah yang dipikulkan kepadanya sebagai orang munafik yang mesti diwaspadai sepak terjangnya. Karena hal ini sangat berbahaya, dan memainkan peranan besar dalam mengoyak-ngoyak kesatuan umat dan merusak individu dari dalam.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga yaitu, apabila berbicara dusta, berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Syaikhain melalui Abu Hurairah r.a.). Dalam hadits yang senada disebutkan, “Ada empat perkara, barang siapa yang dalam dirinya terdapat keempat perkara tersebut berarti ia seorang munafik yang militan, dan barang siapa yang dalam dirinya terdapat salah satu diantaranya, berarti ia menyandang sifat munafik, hingga ia meninggalkannya, yaitu: Apabila berbicara berdusta, apabila berjanji ingkar; apabila bersumpah melanggar; dan apabila bersengketa curang.” (HR. Syaikhain melalui Ibnu Umar r.a.).

Pada hadits pertama disebutkan bahwa ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berbicara dusta; bila berjanji ingkar; dan bila dipercaya berkhianat. Kemudian dalam hadits ini disebutkan empat macam pertanda orang munafik, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji ingkar, bila bersumpah melanggar sumpahnya, dan bila bersengketa curang atau tidak jujur. Barang siapa menyandang salah satu dari sifat tersebut, berarti dalam dirinya terdapat sebagian sifat munafik, hingga ia meninggalkannya. Dan apabila di dalam dirinya terdapat keempat sifat tersebut, berarti ia benar-benar orang munafik.

Jabatan Dipegang Bukan oleh Ahlinya , Akan Rusak

Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa, 4: 58). Dalam firman-Nya yang lain dinyatakan, “Dan janganlah kebencianmu pada suatu golongan menyebabkan engkau tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu mendekati taqwa.” (QS. Al-Maidah, 5: 8).

Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil, yaitu yang bersikap adil dalam mengadili dan kepada keluarganya maupun rakyatnya, (di hari Kiamat kelak) berada di dalam tempat dari cahaya. Dia juga ditempatkan di sisi kanan Allah, yang kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila amanat di sia-siakan maka tunggulah saat hari kiamat. Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimanakah menyia-nyiakannya, wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw. menjawab, “Apabila suatu perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari Kiamat.” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain Rasulullah Saw., disebutkan, “Apabila suatu perkara diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Pada hadits pertama telah disebutkan bahwa apabila amanat diserahkan bukan lagi kepada ahlinya, maka tunggulah saat hari kiamat, yakni hari kiamat sudah dekat masanya. Hal ini, Rasulullah menyebutkan tentang salah satu pertanda akan datangnya hari kiamat tersebut. Dalam hadits ini dijelaskan pula bahwa bilamana suatu perkara diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Dalam hadits pertama makna lahiriahnya menunjukkan kiamat kubra, sedangkan dalam hadits ini makna lahiriahnya menunjukkan pengertian kiamat shughra.

Dalam hadits lain Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada Amir (raja) maka Dia menjadikan untuknya seorang patih (pembantu) yang setia, apabila ia lupa, patih akan mengingatkannya dan bilamana ia ingat, patih membantunya. Apabila Allah menghendakinya selain dari itu, maka Dia menjadikan untuknya patih yang jahat, yaitu apabila ia lupa, patih tidak mengingatkannya, dan apabila ia ingat, patih tidak mau membantunya.” (HR. Imam Nasa’i).

Seorang Raja atau Presiden atau pimpinan bila ditakdirkan baik oleh Allah, maka Allah menjadikan baginya pembantu yang setia, bila ia keliru diluruskannya, dan bila benar dibantunya dengan tulus, sedangkan bila ia ditakdiran buruk oleh Allah, maka Dia menjadikan untuknya pembantu yang jahat, dalam arti kata bila ia keliru dibiarkannya, dan bila benar tidak dibantunya.

Dalam hadits yang lain Beliau Saw. bersabda, “Tiada sekali-kali Allah mengutus seorang Nabi, dan tiada sekali-kali Dia mengangkat seorang khalifah kecuali disertakan dua sahabatnya. Pertama, sahabat yang memerintahkannya kepada hal-hal yang ma’ruf serta memberinya semangat untuk mengerjakan perkara ma’ruf dan yang kedua, sahabat yang memerintahkannya kepada hal-hal buruk serta memberinya semangat untuk mengerjakannya. Adapun orang yang ma’shum adalah orang yang dipelihara oleh Allah Swt (dari keburukan tersebut).” (HR. Bukhari).

Setiap pemimpin pasti akan disertai oleh dua orang pembantunya. Yang pertama, menganjurkannya untuk berbuat kebajikan dan membantu untuk merealisasikannya. Dan yang kedua, menganjurkannya untuk berbuat keburukan serta membantu untuk mewujudkannya, karena itu hati-hatilah terhadap pembantu yang akan menjerumuskannya ke dalam keburukan. Orang yang dipelihara oleh Allah terhindar dari keburukan tersebut, seperti yang dialami oleh para Nabi dan Rasul.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tiada seorang hamba diberi kepercayaan oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak mengerjakan kepercayaannya itu dengan niat yang tulus ikhlas (demi karena Allah) kecuali ia tidak akan menemukan baunya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kecuali ia tidak dapat mencium bau surga. Makna yang dimaksud ialah bahwa ia tidak dapat masuk surga. Barang siapa yang dipercaya oleh Allah mengatur urusan suatu kaum, rakyat, tetapi ia tidak berlaku adil dalam tugasnya, maka surga itu haram baginya.

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt, akan menanyakan kepada setiap pengembala tentang apa yang telah digembalakannya, apakah dia memeliharanya ataukah menyia-nyiakannya, hingga seorang lelaki ditanyakan tentang keluarganya.” (HR. Ibnu Hibban melalui Anas r.a.).

Kelak di hari kiamat, setiap orang akan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan yang telah dikerjakannya sewaktu hidup di dunia. Pertanggungjawaban ini di hari kemudian melalui proses hisab yang dilakukan oleh Allah Swt. terhadap dirinya. Bilamana ia seorang pemimpin, maka ditanyakan kepadanya tentang rakyat yang dipimpinnya, apakah ia memelihara amanah terhadap rakyatnya ataukah menyia-nyiakannya. Setiap orang akan ditanyakan tentang gembalaannya sehingga seorang lelaki ditanya pula tentang keluarganya yang merupakan gembalanya, apakah ia membawa keluarganya ke arah petunjuk ataukah ia menyesatkan dan menjerumuskan mereka.

Tepati  Janji dan Sumpahmu

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Tunaikanlah amanah yang dipercayakan seseorang kepadamu, dan janganlah mengkhianati orang yang pernah berkhianat kepadamu.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadits lain disebutkan juga, “Tiada beriman orang yang tidak memegang amanat dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. ad-Dailami). Dalam Sabdanya yang lain disebutkan, “Jangan bersumpah kecuali dengan nama Allah. Barangsiapa bersumpah dengan nama Allah, dia harus jujur (benar). Barangsiapa disumpah dengan nama Allah ia harus rela (setuju). Kalau tidak rela (tidak setuju) niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (HR. Ibnu Majah dan Aththusi).

Adapun nifak yang dimaksud dalam hadits riwayat Syaikhain di atas adalah jenis nifak yang kedua yaitu nifak amali atau nifak amal perbuatan. Meskipun nifak ini tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi merupakan jalan menuju kekafiran. Siapa pun yang menghimpun empat perkara ini, maka terhimpun pada dirinya segala keburukan, dan sifat-sifat orang-orang munafik tertaman murni dalam dirinya.

Sebab, kejujuran, menunaikan amanah dan melaksanakan hak orang lain merupakan kumpulan kebaikan dan sifat khusus orang-orang beriman. Dan barang siapa yang tidak memiliki salah satu darinya, berarti dia telah merusak sebuah kewajiban Islam dan Iman.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Orang-orang yang melanggar janji kepada Allah setelah mereka berjanji, dan memutuskan sesuatu yang Allah Swt. perintahkan untuk disambungkan.” (QS, al-Baqarah, 2: 27). “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS. Al-Ahzaab, 33: 23).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Jaminlah untukku enam perkara dari kalian, niscaya kujamin surga untuk kalian, yaitu: apabila kalian berbicara jujurlah, apabila berjanji tepatilah, apabila diberi amanat sampaikanlah amanat itu, peliharalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan mata kalian, dan cegahlah kedua tangan kalian.” (HR. Baihaqi melalui Ubadah ibnush Shaamit).

Dalam hadits ini disebutkan kebalikannya dengan memakai kalimat perintah, yaitu jujurlah bila berbicara, tepatilah bila berjanji, sampaikanlah bila diberi amanat, seakan-akan hadits ini mengatakan berimanlah kalian dan janganlah kalian menjadi orang munafik.

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Jika pada dirimu telah terdapat empat buah sifat maka kamu tidak akan merugi sedikit pun meskipun dunia menjauhimu; pandai menjaga amanah, jujur dalam berucap, memiliki watak yang baik, serta selalu menjaga diri dalam kesucian.” (HR. Ahmad).

Salah satu fenomena negatif yang dapat kita saksikan ialah sebagian manusia memperlakukan janji sedemikian rupa sehingga tidak ubahnya seperti ucapan-ucapan biasa yang begitu saja keluar, dan kemudian menguap di udara. Jika kita telah berjanji kepada Allah, berjanji kepada diri sendiri, atau berjanji kepada orang lain, atau berjanji kepada rakyat, maka kita harus menepati janji itu selama janji itu tidak menghalalkan yang haram ataupun mengharamkan yang halal. Jadikanlah sifat menepati janji sebagai suatu kebiasaan.

Khalifah Ali bin Abi Thalib as berkata, “Jika kamu berjanji maka penuhilah … sesungguhnya janji adalah kalung yang tergantung di leher hingga datang hari kiamat. Barang siapa memenuhinya maka Allah pun akan memenuhi (kebutuhan)-nya … berpeganglah kepada janji sekuat-kuatnya.” Wallahu a’lam bish-shawwab.

-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *