oleh

Pegang Agama Islam dengan Kuat, Jangan Terlepas

Oleh : Karsidi Diningrat

RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu masa, orang yang berpegang pada agamanya seperti orang yang memegang bara.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadits yang lain disebutkan, “Umatku akan pecah menjadi tujuh puluh golongan lebih, fitnah yang paling besar menimpa umatku adalah kaum yang mengqiyaskan (menggukur) segala urusan dengan akalnya, mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.” (HR. Bazzar, Thabrani, Baihaqi).

Rasulullah Saw. bersabda, “Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta benda dunia.” (HR. Abu Daud).

Nabi Muhammad Saw. memberitahukan kepada kita bahwa di akhir zaman kebaikan dan segala sarananya menjadi sedikit, sedangkan keburukan, kejahatan dan segala sarananya menjadi banyak. Pada saat itu orang yang berpegang teguh pada agamanya hanya berjumlah sedikit sekali. Jumlah yang sedikit ini berada dalam kondisi yang sulit dan sangat berat, sebagaimana orang yang menggenggam bara api.

Hadits di atas adalah petunjuk bagi Umat Islam agar mengetahui dan menyiapkan diri demi menyambut kondisi seperti ini. Dan barang siapa yang mampu menghadapi tantangan ini dan sabar di atas agama dan imannya, niscaya akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah. Dan Allah akan menolong umat-Nya sesuai dengan ridha dan cinta-Nya, karena pertolongan disesuaikan dengan kadar usaha kita.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saff, 61: 9).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Akan datang satu masa, hati seorang mukmin cair sebagaimana cairnya timah dalam api disebabkan melihat bala dan peristiwa yang merugikan agamanya tetapi dia tidak mampu merubahnya atau menolongnya.” (HR. Aththusi). Dalam hadits lain disebutkan, “Agama itu kokoh dan kuat. Masuklah dengan lunak dan jangan sampai timbul dalam dirimu kejenuhan beribadah kepada Rabbmu.” (HR. Al-Baihaqi).

Para musuh baik lahir maupun batin senantiasa bergerak dengan rahasia atau terang-terangan dalam rangka menghabisi Islam. Para atheis dan penyembah materi senantiasa mengalirkan arus kesesatannya dan mengempaskan gelombang-gelombang dahsyatnya kepada umat Islam, propaganda-propaganda yang merusak moral dan akhlak, propaganda-propaganda perusak pemikiran, propaganda pemurtadan, serta usaha menghabisi sisa-sisa nafas terakhir agama.

Pada saat ini manusia terpesona oleh keindahan dunia. Sehingga dunia menjadi pengetahuan tertinggi mereka. Menjadi cita-cita tertinggi dan semangat terbesar mereka. Dunia menjadi standar ridha dan murka mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tiada seorang pun yang mencoba-coba untuk memperketatkannya melainkan agama pasti dapat mengalahkannya. Maka luruskanlah diri kalian, dekatkan diri kalian, dan bergembiralah serta mintalah pertolongan dengan mengerjakan (salat sunat) di pagi hari dan sore hari serta sedikit waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari).

Sesungguhnya agama Islam ini mudah karena tiada sekali-kali Allah menghendaki kesukaran dalam urusan agama, melainkan kemudahan belaka. Barang siapa yang mencoba-coba untuk memperketat dirinya dengan peraturan agama, niscaya agama akan mengalahkannya.

Dalam hadits yang senada Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam masalah agama, karena sesungguhnya Allah Swt. telah menjadikan agama mudah. Karena itu amalkanlah agama semampu kalian; sesungguhnya Allah Swt. menyukai amal saleh yang dikerjakan secara terus-menerus sekalipun ringan.” (HR. Abul Qasim).

Mati di Dalam Islam

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”, ayat ini merupakan perintah Allah kepada hamba-Nya agar mati di dalam agama Islam. Sebab, Islam adalah agama yang diakui Allah sebagai agama yang benar di dalam Kitab-Nya, al-Qur’an, dan bahwa Dia tidak akan menerima selainnya yang datang dari manusia. Dan karena Islam adalah satu-satunya agama yang telah Dia ridhakan bagi rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya dari kaum Mu’minin. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran, 3: 19).

Manusia memang tidak berkuasa untuk mematikan dirinya di dalam agama Islam, tetapi Allah telah melapangkan baginya jalan itu. Jika ia menghendaki yang demikian itu, maka hendaklah ia menjalankan perintah yang diwajibkan kepadanya, dan senantiasa mengikuti segala petunjuk-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran, 3: 85). Dan firman-Nya yang lain. “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah, 5:3).

Dengan itulah Allah menyifatkan para Nabi-Nya dan orang-orang shalihin dari hamba-hamba-Nya. Allah berfirman menceritakan tentang diri Nabi Yusuf bin Yakub ‘alaihis-salam, “Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf, 12: 101).

Begitu pula Allah telah menceritakan tentang para ahli sihir yang beriman kepada-Nya, lalu Fir’aun mengancam mereka dengan siksaan. Allah berfirman, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf, 7:126).

Kemudian, Allah menceritakan pula tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam dan Nabi Ya’kub ‘alaihi salam, yang keduanya telah berwasiat kepada anak-cucunya agar mati di dalam agama Islam. Allah berfirman, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub (Ibrahim berkata), ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah, 2: 132).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Kaum Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Yang satu akan masuk surga, sedangkan yang tujuh puluh akan masuk neraka. Dan kaum Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Yang tujuh puluh satu akan masuk neraka, sedangkan yang satu masuk surga. Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Yang satu masuk surga, sedangkan yang tujuh puluh dua masuk neraka.” Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga) itu? Beliau menjawab, ‘Al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat lain disebutkan, “… yakni orang-orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.” (HR. Turmudzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya pengikut dua kitab (Yahudi dan Nashrani) terpecah mengenai agama mereka menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat (Islam) ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yakni al-ahwa (mengikuti hawa nafsu). Semunya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu al-jama’ah. Sungguh akan muncul dikalangan umatku golongan-golongan yang akan diikuti oleh hawa nafsu seperti anjing kejar-kejaran bersama kawanannya. Tidak ada urat dan persendian yang tak dimasukinya. Demi Allah, wahai bangsa Arab! Jika kalian tidak menegakkan ajaran nabi kalian, maka bangsa lain lebih pantas untuk tidak menegakkannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, al-Hakim, dan lain-lain.).

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa (Yesus) serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 136).

Golongan Membela Kebenaran

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Islam muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” Abdullah berkata, “Dikatakan, “Siapakah orang-orang yang terasing itu?” beliau menjawab, “Orang-orang yang memisahkan diri dari kelompok-kelompok (yang sesat).” (HR. Muslim). Hadits ini merupakan pemberitahuan Rasulullah Saw. kepada umatnya bahwa pada akhir zaman Islam akan kembali datang dalam keadaan terasing. Dan orang-orang yang masuk ke dalam keterasingan itu akan lebih beruntung.

Dari Abdullah bin Amru, dia berkata. “Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah Saw, lalu beliau bersabda, “Akan datang suatu kaum kepada Allah pada hari kiamat nanti. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abu Bakar berkata. “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan, tapi kalian mempunyai banyak kebaikan. Mereka adalah orang-orang fakir yang berhijrah. Mereka berkumpul dari berbagai penjuru bumi.” Kemudian beliau bersabda, “Kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang terasing itu?” Beliau Saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shaleh, yang jumlahnya sedikit di antara manusia yang buruk. Orang yang menentang mereka lebih banyak daripada orang yang menaatinya.” Al-Hasan r.a. berkata, “Orang beriman di dunia seperti orang asing tidak takut akan penghinaan, dan tidak bersaing dalam kemuliaannya.”

Dalam hadits ini difahami dari penyifatan Ghuroba’ yang berkaitan dengan keterasingan mereka karena keterasingan Islam adalah mereka orang yang berpegang teguh dengan syariat dan sunnah di tengah-tengah kaum muslimin; mereka adalah orang yang mengajak dan menyeru di antara mereka yang berpegang teguh dengan syariat dan sunnah. Dalam Abdillah bin Amr bin Ash bahwa mereka adalah, “manusia shaleh di tengah manusia jahat yang banyak, orang yang menentang mereka lebih banyak daripada orang yang mentaati mereka.”

Rasulullah Saw bersabda, “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang menjalankan perintah Allah. Mereka tak peduli akan orang-orang yang merendahkan dan menentang mereka, hingga datang keputusan Allah. Dan mereka lebih unggul dari yang lainnya.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam bish-shawwab.(*/fs)

-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *