Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si
Haji Ibadah Istimewa
ALHAMDULILLAH jamaah haji telah menjalani prosesi ibadah haji dengan menunaikan segala rukun dan wajib haji. Bagi jamaah gelombang pertama tentu akan bersiap-siap untuk pemulangan ke Tanah air. Sedangkan bagi jamaah haji gelombang kedua masih melanjutkan untuk ziarah ke Makam Nabi Muhammad saw di Masjid Nabawi, Madinah Almunawwarah.
Ibadah haji adalah ibadah yang istimewa. Meskipun berat dalam pelaksanaan (cukup bekal, sehat jasmani) namun siapapun yang merasa dirinya muslim pasti akan tetap memendam rasa keinginan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Hal ini karena memang ibadah haji merupakan panggilan Allah swt. Melalui hamba-Nya, Nabi Ibrahim, Allah swt berfirman: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Alhajj: 27).
Dalam riwayat tafsir, Nabi Ibrahim sempat menyatakan jika suaranya tidak akan terdengar oleh manusia. Namun Allah swt. perintahkan agar serukan saja nanti Allah yang akan memperdengarkannya. Kenyataannya bahwa sampai saat ini dan juga tentu yang akan datang Mekah Almukarramah, di mana di situ terdapat Ka’bah Baitullah, tidak akan pernah sepi dari umat Islam yang berkunjung, baik untuk keperluan Haji maupun Umroh.
Haji itu sendiri adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk beribadah kepada Allah swt dengan syarat-syarat dan rukun-rukun serta beberapa kewajiban tertentu dan dilaksanakan dalam waktu tertentu.
Tujuan beribadah haji, seperti ibadah-ibadah lainnya, adalah secara ikhlas menyembah Allah swt, memperhambakan diri kepada-Nya dan mematuhi perintah-Nya. Bagi umat muslim, perjalanan ibadah haji tidak sekedar perjalanan fikis akan tetapi juga merupakan perjalanan spiritual yang dapat memberi pencerahan spiritual bagi umat muslim yang menunaikannya. Bahkan, para ulama mengatakan ibadah haji merupakan puncak ibadah kaum muslimin.
Karena itu, sebagaimana ibadah lainnya, seperti sholat, puasa dan zakat, ibadah haji pun memiliki hikmah yang terkandung di dalamnya. Hikmah dalam pengertian memperoleh pengetahuan dan wawasan, hikmah untuk mengambil pelajaran, maupun hikmah berupa keberkahan yang diperoleh dari hasil menunaikan ibadah haji.
Hikmah Ibadah Haji
Ada banyak sekali hikmah ibadah haji yang dapat kita petik, namun di sini beberapa saja yang dikemukakan.
Pertama, dengan menunaikan ibadah haji kita belajar menapaktilasi dan bahkan merenungi perjalanan ‘Sang Tauladan’ nabi ibrahim dan keluarganya. Dari berbagai pendapat ulama yang berdasarkan Al-Qur’an maupun Hadits didapati bahwa Nabi Ibrahim as merupakan seorang pribadi yang istimewa di sisi Allah swt dan juga dalam pandangan manusia. Wajar jika Allah Swt menjuluki beliau sebagai ‘Habibullah’,yang dicintai Allah dan ‘Khalilullah’, yang dipilih Allah swt. Beliau dicintai Allah swt karena beliau juga terbukti mampu mencintai Allah secara tulus dan murni. Keberaniannya menegakkan Tauhid dan memberantas kemusyrikan dengan taruhan nyawa,
ujian menjauhkan anak dan istrinya di tempat yang jauh, gersang, tidak ada kehidupan karena tidak ada pepohonan dan air, dan perintah harus menyembelih anak remajanya Ismail, adalah ujian-ujian keimanan yang berhasil dilalui dengan baik oelh beliau.
Nabi Ibrahim juga dijuliki dengan khalilullah karena mampu menjalankan perintah Allah untuk membuat peradaban masa depan manusia yang bertauhid, yang dibuktikan bersama anaknya Ismail dengan membangun Ka’bah dan membersihkannya dari segala kemusyrikan. Meskipun Mekah saat merupakan suatu tempat yang jauh dari peradaban, namun dengan kekuatan doa Nabi Ibrahim menjadi kota yang sangat ramai dan banyak dikunjungi orang di berbagai penjuru dunia.
Dalam Surat Ibrahim ayat 35-37, beliau berdoa: “Tuhan. Kutinggalkan sebagian anak-cucuku di lembah yang tidak tumbuh satu pun di sana, di sisi rumah-Mu yang suci itu. Oleh karena itu, buatlah mereka patuh mengerjakan sholat, dan buatlah sebagian manusia mencintai mereka, serta berilah mereka rezeki buah-buahan, semoga mereka berterimakasih.”
Doa beliau ini dikabulkan Allah Swt. Kota Mekah saat ini adalah kota yang sangat makmur. Di sana dengan mudah ditemukan buah-buahan dari segenap penjuru. Kemakmuran itu lebih kentara lagi dengan kenyataan bahwa kandungan dan produksi minyak Saudi adalah di antara yang terbesar di dunia.
Hikmah ibadah haji yang kedua adalah mengambil pelajaran tentang bagaimana seharusnya kehidupan di dunia ini dijalankan sesuai yang telah digariskan Allah swt. Pelajaran kehidupan tersebut dapat kita lihat dari prosesi pelaksanaan ibadah haji yang mengandung makna yang mendalam. Antara lain adalah miqat. Miqat berarti batas, yaitu batas tempat mulai menunaikan haji (miqat makani) dan batas waktu mulai ibadah haji (miqat zamani). Saat miqat inilah jamaah haji harus pasang niat tulus akan menjalankan haji semata-mata karena Allah swt.
Selain itu juga harus memakai pakaian ihram yang tak berjahit dan cukup dua helai yang mengandung arti menghilangkan segala identitas keduniaan, kesombongan dan keangkuhan yang disimbolkan dengan pakaian yang berwarna-warni dan beraneka ragam. Dalam hidup sehari-hari sepatutnya kita dapat mencontoh miqatnya jamaah haji. Hidup harus dengan tulus ikhlas sebagaimana digambarkan dalam doa iftitah ketika sholat: sesungguhnya sholatku, ibadahku, pengerbananku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tidak yang lain.
Jamaah haji juga harus wuquf di Arafah. Sebuah lapangan yang sangat luas yang seluruh jamaah haji yang jumlahnya jutaan kumpul menjadi satu pada waktu yang juga bersamaan. Wuquf inilah puncak ibadah haji, yang tidak akan sah ibadah haji seseorang jika tidak wuquf di Padang Arafah, meskipun harus ditandu, diantar dengan ambulan karena sakit. Secara spiritual, dengan wuquf di Arafah jamaah haji semakin mengenali dirinya sendiri yang bukan siapa-siapa kecuali hanya hamba Allah. Di Arafah inilah jamaah haji banyak yang meneteskan airmata karena mengingat dosa dan segala kesalahannya dan bertekad untuk memulai kehidupan selanjutnya dengan penuh kesucian dan akan berusaha memperjuangkan kesucian lahir batin.
Demikian pula dengan mabit di Muzdalifah, melontar jumroh di Mina, melakukan tawaf, sa’i sampai dengan tahallul mempunyai makna-makna spiritual yang tinggi, yang jika dijiwai dan direnungkan akan benar-benar menjadikan jamaah haji menjadi mabrur dan maqbul dengan terihat adanya perubahan lebih baik dalam hidup selanjutnya.
Kemudian hikmah haji yang ketiga adalah kesadaran bahwa dunia hanyalah ‘jembatan’ menuju kehidupan akhirat. Dunia bukan tujuan akhir kehidupan, dunia hanya untuk bercocoktanam kebaikan yang hasil utamanya di akhirat kelak.
Dalam sebuah hadits Riwayat Ibnu Majah dikisahkan: Pada suatu hari Usman bin Affan bercerita, “Suatu ketika di tengah hari, aku melihat Zaid bin Tsabit keluar dari istana Marwan. Dalam hati, saya bertanya-tanya, ada apakah ia gerangan pada saat seperti ini? Aku yakin, pasti ada sesuatu yang penting dia bawa.” Usman mendekati Zaid dan langsung bertanya, “Ada apa gerangan wahai Zaid? Zaid menjawab, “Aku membawa sesuatu yang aku dengar langsung dari Nabi SAW.”
Usman bertanya lagi, “Apa yang Nabi SAW sabdakan kepadamu?” Zaid menjawab, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menjadikan dunia sebagai ujung akhir ambisi hidupnya, Allah akan pisahkan dia dengan yang diinginkannya yaitu dunia, lalu Allah akan menjadikan kefakiran membayang di pelupuk kedua matanya. Padahal Allah sudah pasti akan memberikan dunia kepada setiap manusia. Akan tetapi, siapa yang menjadikan akhirat sebagai ujung akhir ambisi hidupnya, maka Allah akan mengumpulkan dan mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Lebih dari itu, Allah akan membuat hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya.” (HR Ibnu Majah).
Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW mengungkapkan, “Siapa yang menjadikan ambisinya semata-mata untuk meraih akhirat, Allah akan mencukupi kebutuhan dunianya. Akan tetapi siapa yang ambisi meraih dunianya bermacam-macam, Allah tidak akan pernah peduli dengan yang ia inginkan. Ia justru akan menemui kehancurannya sendiri.” (HR Ibnu Majah).
Karena itulah kita harus bisa memastikan apa yang kita ucapkan, kita lakukan, semuanya itu mengandung kebaikan dan pastikan pula bahwa semua kebaikan yang kita lakukan apa pun bentuknya semata-mata karena Allah, mencari ridha Allah dan rahmat Allah demi kebahagiaan kehidupan yang kekal dan abadi di akhirat.
Menjaga Kemabruran Haji
Sudah sepatutnya pada saat tiba kembali ke Tanah Air bagi jamaah haji adalah merenungkan dan memikirkan serta membuat rencana aksi sebagai realisasi kemabruran haji dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Beberpa langkah penting tersebut adalah:
Pertama, rajin menuntut ilmu dengan rajin meminta nasihat orang-orang alim melalui berbagai media, seperti majelis ta’lim, lembaga kursus agama atau pun secara pribadi mendatangi orang alim untuk diajarkan agama. Semua itu penting untuk menjaga stabilitas spiritual pasca haji dan tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan yang tidak mendukung.
Kedua, rajin beribadah melebihi rajinnya saat sebelum menunaikan ibadah haji. Sholat lima waktu di masjid dan musholla, menambah dengan sholat-sholat sunnah serta rajin berdzikir untuk selalu ingat dengan Sang Pencipta.
Ketiga, ikutilah silaturrahmi dan pergaulan baru yang mendukung untuk selalu istiqamah dalam iman, Islam dan akhlakul karimah, dan,
Keempat, berdoalah selalu memohon bimbingan dari Allah swt agar selalu ditunjuki kebenaran, di jauhi kebatilan dan memohon konsistensi dalam ketakwaan.
Semoga kita memperoleh hikmah ibadah haji dan dapat mewujudkan kemabruran haji dalam kehidupan sehari-hari demi meraih sukses di dunia dan bahagia di akhirat. Amin Ya Raobbal Alamin. (ta)
-Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.






Komentar