oleh

Ajari dan Awasi Anak Istri dengan Adab (2)

Oleh : Karsidi Diningrat

DIRIWAYATKAN dari Sulaikan bin Bilal, dari Abdullah bin Yasar Al-A’raj, dari Salim bin Abdullah, dari bapaknya, bahwa Nabi bersabda, “Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, dayyuuts (suami yang rela atas kerusakan moral yang terjadi pada istrinya), dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Hakim).

Orang yang mendengar kabar penyelewengan atau perselingkuhan yang dilakukan istrinya, kemudian diam saja karena beberapa alasan seperti kuatnya rasa cinta, merasa berhutang kepada istrinya, merasa terbebani mahar yang sangat tinggi, memiliki banyak anak, masalah ekonomi, bukan termasuk orang yang mampu mendidik istrinya. Sama sekali tidak ada kebaikan bagi seorang laki-laki yang tidak mempunyai rasa cemburu.

Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Cemburu itu sebagian dari iman. Sedangkan pergaulan bebas antara pria dan wanita bukan muhrim adalah sebagian dari kemunafikan.” (HR. Muslim melalui Abi Sa’id al-Khudri). Kata Imam Halimi, “Yang dimaksudkan dengan Midza ialah berkumpulnya kaum pria dengan kaum wanita dan dibiarkan bergaul bebas antara mereka dengan terlepas, sebagaimana kita melepaskan ternak, diumbar begitu saja.” Dalam hadits senada disebutkan, “Ghiirah (cemburu) merupakan sebagian dari iman. Mempermainkan (wanita) merupakan sebagian dari nifak.” (HR. ad-Dailami). Lafadz Al-Madzaa, sama wazannya dengan lafadz as-Samaa, artinya lelaki yang mempermainkan wanita, yakni perbuatannya.”

Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan, bahwa “telah sesat sekelompok orang yang hanya sibuk menumpuk, menjaga, dan mengawasi harta. Mereka mencurahkan pikiran dan tenaga dengan mengorbankan waktu istirahat dan tidur mereka. Mereka pun melupakan nasib keluarga dan anak-anak mereka. Harta yang mereka tumpuk jauh lebih tinggi harganya dibandingkan keluarga dan anak-anak mereka. Bukankah sebaiknya mereka meluangkan waktu dan tenaga untuk mendidik anak-anak dan keluarga. Jika hal itu dilakukan, niscaya mereka termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah dan melaksanakan perintah-Nya.”

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Tanggung Jawab Mendidik Keluarga

Allah telah memberikan wewenang, kekuasaan, dan membebankan kepada kita tanggung jawab mendidik keluarga. Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka yang mengerikan. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk menjaga diri sendiri, tetapi memelihara diri dan keluarga kita.

Rasulullah Saw. bersabda, “Didiklah wanita-wanitamu dengan melucutinya dari pakaian dan perhiasan yang indah-indah, karena sesungguhnya sebagian wanita itu bila memiliki pakaian yang banyak dan perhiasan yang bagus-bagus mereka suka keluar.” (HR. Ibnu ‘Abdi melalui Anas r.a.).

Makna yang dimaksud ialah jadikanlah sarana ini untuk mendidik wanita-wanita kalian agar mereka tidak suka keluar rumah. Bila salah seorang dari mereka diberi pakaian dan perhiasan yang bagus-bagus, maka mereka senang keluar, dan hal ini tentu banyak mudharatnya daripada manfaatnya kecuali jika karena hal yang penting dan disertai atau ditemani oleh muhrimnya.

Hadis ini mengandung pengertian larangan bagi kaum wanita menampakkan perhiasan kepada lelaki lain, seperti yang diungkapkan dalam firman-Nya, “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerundung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ….” (QS. An-Nur [24]: 31).

Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua golongan manusia yang akan menjadi penghuni neraka yang belum pernah aku lihat (saat ini). (Pertama) suatu kaum yang memiliki cambuk laksana ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Kedua) para wanita yang mengenakan pakaian, namun mereka telanjang (karena tipis dan transparan). Mereka berjalan berlenggak-lenggok dan kepala mereka terangguk-angguk bagai punuk unta (karena sanggul yang mereka kenakan). Mereka tidak masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan baunya tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

Wanita yang Mendapatkan Laknat

Di antara perbuatan wanita yang juga mendapatkan laknat karenanya adalah memperlihatkan bahkan memamerkan perhiasan, emas, perak, mutiara, atau lainnya yang semestinya berada di balik kerudung. Termasuk saat menggunakan minyak wangi dan parfum dengan berbagai jenisnya. Demikian pula ketika ia keluar rumah mengenakan pakaian berwarna-warni yang mencolok, baju-baju lain yang tidak sopan, serta berbagai perbuatan memalukan lainnya. Makna yang dimaksud bukan melarang mereka untuk berhias, tetapi melarang mereka sering keluar. Dalam suatu riwayat disebutkan,  “Seorang wanita yang memakai minyak wangi lalu lewat di tengah-tengah kaum dengan maksud agar mereka menghirup bau harumnya maka wanita itu adalah pelacur.” (HR. Annasai).

Setiap kepala rumah tangga wajib mengawasi setiap gerak gerik istri dan anak-anak. Kita wajib mengetahui semua seluk beluknya; waktu kepergian dan kepulangannya; menyelidiki sahabat dan teman-temannya, agar kita mengetahui dengan pasti segala tindak tanduk dan perjalanan hidupnya. Setelah mengetahui, kita dukung hal baik yang kita lihat dan kita cegah kemungkaran yang kita temukan.

Hendaknya kita berkomunikasi dengan mereka secara terbuka, menerima pendapat, dan berusaha meluruskan kesalahan mereka. Hendaknya kita tidak mudah marah dalam membimbing. Apalagi berpaling dan menelantarkan mereka. Hal itu hanya akan menambah besar bencana dan kerusakan yang dihadapi.

Jika seorang suami tidak mengawasi istri dan anak-anaknya, serta tidak mendidik mereka dengan baik, lantas siapa yang akan melakukannya? Apakah orang-orang jauh yang akan mendidik mereka? Ataukah orang yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka? Ataukah kita tega membiarkan mereka terombang-ambing oleh pikiran-pikiran sesat, kelompok-kelompok menyimpang, dan terpengaruh akhlak yang bejat?

Akibatnya, dari mereka tumbuh generasi yang rusak. Generasi yang tidak menjungjung tinggi kehormatan, baik terhadap Allah maupun manusia dan tidak juga menjaga hak-hak-Nya. Generasi yang bobrok yang tidak mengetahui kebaikan dan mengingkari kemungkaran. Mereka merasa terbebas dari segala bentuk perbudakan kecuali dari perbudakan setan. Mereka lepas dari setiap ikatan kecuali syahwat dan kejahatan. Demikianlah akibat yang pasti terjadi jika keadaan kita tidak mendidiknya, kecuali Allah berkehendak lain.

Seandainya kita bertakwa kepada Allah sejak awal dan mendidik mereka sesuai aturan Allah yang diperintahkan, niscaya Dia akan memperbaiki urusan kita di dunia dan di akhirat. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71).

Istri yang Dijamin Masuk Surga

Rasulullah sallallahu Alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila seorang mengerjakan salat lima waktu, mengerjakan shaum sebulan, dan memelihara kemaluannya serta mentaati suaminya, niscaya dia masuk surga.” (HR. Imam Bazzar melalui Anas r.a.). Dalam sabdanya yang lain disebutkan, “Sesungguhnya dunia seluruhnya benda dan sebaik-baik benda ialah wanita (istri) yang shaleh”. (HR. Muslim). Dunia ini merupakan kesenangan, yakni kesenangan yang memperdaya, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali-Imran: 185). Sebaik-baik kesenangan dunia ialah istri yang saleh.

Bilamana seorang wanita ingin memasuki surga dengan mudah, maka disyaratkan hendaknya ia mengerjakan empat perkara dengan baik, yaitu menunaikan salat lima waktu, mengerjakan shaum bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya dari perbuatan zina dan hal-hal yang menjurus ke arahnya, dan berbakti kepada suaminya. Dalam hadis lain disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda kepada kaum wanita yang sedang belajar kepadanya, “aku melihat kebanyakan penghuni neraka terdiri atas kalian (kaum wanita).” Salah seorang dari mereka bertanya, “Mengapa kebanyakan penghuninya dari kalangan kaum wanita, wahai Rasulullah?” Rasul Saw. menjawab, “Karena mereka banyak mengingkari kebaikan suaminya.” Atau dengan kata lain, mereka banyak tidak taat kepada suaminya bahkan kebanyakan dari mereka sering menyakitinya. Tentunya suami yang saleh. Rasulullah bersabda, “Allah Swt. kelak tidak akan memandang (memperhatikan) seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya meskipun selamanya dia membutuhkan suaminya.” (HR. Al-Hakim).

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita adalah yang memelihara kehormatannya lagi penurut, yakni dia memelihara kehormatannya dan penurut terhadap suaminya.” (HR. ad-Dailami melalui Anas r.a.). Istri yang paling baik ialah yang teguh dalam memelihara kehormatannya dan sangat mencintai suaminya.

Dalam hadis lain disebutkan, “Seandainya aku diperkenankan untuk menyuruh seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan kaum wanita untuk bersujud kepada suami-suami mereka, karena besarnya kewajiban yang dibebankan atas para istri terhadap suami-suami mereka.” (HR. Abu Dawud).

Istri harus berbakti kepada suaminya, hingga digambarkan dalam hadis ini seandainya seseorang boleh bersujud kepada orang lain, niscaya wanita diperintahkan untuk bersujud kepada suaminya. Dikatakan demikian mengingat kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang istri terhadap suaminya sangat besar.

Juga dalam hadis lain dinyatakan, “Tiada yang lebih baik manfaatnya bagi seorang mukmin sesudah takwa kepada Allah daripada istri yang saleh; apabila suaminya memerintahkannya niscaya ia mentaati perintahnya, apabila suaminya memandang kepadanya niscaya ia membuat suaminya senang, apabila suaminya membagi gilirannya niscaya ia mentaatinya, dan apabila suaminya pergi, maka ia memelihara kehormatannya dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam uraian di atas telah disebutkan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini merupakan kesenangan yang memperdayakan, tetapi sebaik-baik kesenangan ialah mempunyai istri yang saleh. Kemudian dalam hadis ini disebutkan definisi dari wanita yang saleh, yaitu apabila suami memerintahnya, maka ia mentaatinya; jika suami memandangnya, ia membuatnya gembira; jika suami membagikan giliran kepadanya, ia rela menerimanya; serta jika suami tidak ada maka ia memelihara kehormatan dirinya dan menjaga harta benda suaminya. Alangkah bahagianya orang mukmin yang bertakwa dan dianugerahi istri yang saleh.

Sifat Wanita Surga

Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Seandainya salah seorang wanita penghuni surga diturunkan ke bumi, niscaya bumi ini penuh dengan bau wangi minyak kasturi, sinar matahari, dan rembulan akan lenyap.” (HR. Dhiya dari Said ibnu Amir). Wanita dunia yang masuk surga jauh lebih cantik daripada bidadari-bidadari yang ada di surga, hingga dikisahkan dalam hadis ini seandainya salah seorang dari mereka yang masuk surga itu diturunkan ke bumi, niscaya bumi ini penuh dengan wewangiannya dan matahari pun redup karena cahayanya. Wallahu a’lam bish-shawwab.

-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah.

-Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *