POSKOTA.CO-Kondisi mata kering memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup seseorang, namun belum menjadi prioritas untuk diobati. Dewasa ini, sindroma mata kering yang diketahui sering terjadi pada lanjut usia bukan lagi merupakan penyakit yang hanya diderita lansia, namun juga dapat terjadi pada banyak lapisan masyarakat seperti usia produktif dan remaja.
“Meningkatnya penggunaan gawai (gadget) di kehidupan sehari-hari, kurangnya upaya menjaga kebersihan kelopak mata, dan semakin seringnya paparan pendingin ruangan merupakan beberapa gaya hidup yang menjadi faktor risiko terjadinya mata kering, sehingga peningkatan pengetahuan dan perhatian akan kondisi ini menjadi semakin penting,” kata Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM (K), Tim Dokter Dry Eye Clinic-RSCM Kencana di sela-sela launching Dry Eye Clinic, Jum’at (02/12/2022).
Menurut Prof. Ratna, lapisan air mata memiliki fungsi penting untuk melindungi permukaan mata dan menjaga kualitas tajam penglihatan seseorang. Kedua fungsi penting ini akan terganggu pada pasien dengan sindroma mata kering.Pasien akan merasakan kualitas hidup yang sangat menurun akibat rasa tidak nyaman pada mata dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.

Beberapa faktor dapat menyebabkan sindroma mata kering, antara lain lapisan air mata yang mudah menguap, produksi air mata yang menurun, serta daya lekat air mata pada permukaan mata yang turut berkurang.
Sementara itu dr. Sumariyono, Sp. PD-KR, MPH, Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan dan Penunjang RSCM mengatakan, beberapa gejala yang seringkali dirasakan pasien adalah mata yang terasa perih dan nyeri, mata yang terasa seperti berpasir, pandangan yang kabur terutama saat membaca maupun melakukan aktivitas sehari-hari, mata yang mudah merah, dan mata yang terasa lengket seperti banyak kotoran. Perlu diingat bahwa seringkali kondisi mata kering tidak berdiri sendiri namun dapat dipengaruhi oleh proses degeneratif (usia tua), gaya hidup, dan berbagai penyakit sistemis seperti diabetes mellitus, penyakit lupus, sindroma Sjögren, dan berbagai penyakit lainnya.
Berdasarkan studi, kondisi dry eye merupakan penyakit mata yang sering ditemukan pada praktik sehari-hari, dengan angka prevalensi global berkisar pada 5-50% dan di Indonesia berkisar 27,5%. “Dapat dibayangkan beban dan penurunan kualitas hidup yang dirasakan oleh pasien dengan gejala sindroma mata kering,” ujarnya.
Dr. Sumariyono menambahkan, pembukaan Dry Eye Clinic menolong memberikan yang terbaik mengingat angka prevalensi yang tinggi dengan perhatian yang masih kurang tentang kondisi sindroma mata kering. Kehadiran Dry Eye Clinic RSCM Kencana memiliki semangat tinggi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan sindroma mata kering.
Pelayanan Dry Eye Clinic RSCM Kencana dilakukan dari hari Senin hingga hari Sabtu oleh Professor dan Dokter-Dokter Sub-Spesialis dalam kesehatan mata. Pendekatan pelayanan yang diberikan berpusat pada upaya peningkatan kualitas hidup pasien, yakni untuk meningkatkan kenyamanan dalam menjalankan kesehariannya.
Tak hanya melalui konsultasi dengan pakarnya, Dry Eye Clinic RSCM Kencana juga dilengkapi dengan teknologi diagnosis terkini berupa IDRA. Pemeriksaan IDRA memiliki fungsi untuk menilai kualitas lapisan air mata secara rinci, sehingga akar permasalahan dan penyebab sindroma mata kering dapat ditemukan dan pemberian terapi menjadi lebih efektif.
Selain teknologi diagnostik yang mutakhir, Dry Eye Clinic RSCM Kencana juga dilengkapi dengan teknologi terapi terkini, yakni Intense Pulsed Light (IPL) yang dapat memperbaiki saluran dan fungsi kelenjar minyak air mata sehingga mengurangi keluhan pasien dengan sindroma mata kering. Melalui upaya diagnosis yang tepat dan presisi, disertai dengan perkembangan terapi terkini, diharapkan RSCM melalui Dry Eye Clinic RSCM Kencana dapat memberikan pelayanan yang terbaik dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan sindroma mata kering. (*/fs)







Komentar