oleh

Pilkada Serentak di Masa Darurat Covid-19, antara Manfaat dan Mudharat

DESAKAN penundaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak kian menguat ke permukaan beberapa hari terakhir ini. Positif-negatif atau manfaat dan mudhoratnya Pilkada serentak jadi pembicaraan serius di warung kopi hingga ke gedung parlemen.

Sebagai pensiunan wartawan ibukota, penulis berpendapat bahwa melakukan penundaan Pilkada serentak lebih terhormat daripada membuka peluang penularan penyakit di masa darurat kesehatan atau Covid-19 seperti saat ini.

Penulis memahami kekhawatiran beberapa pengurus Ormas Keagamaan bahwa konsentrasi massa pada tahapan kampanye sulit terhindarkan, meski pun peraturan protokol kesehatan super ketat.

Munculnya desakan penundaan bukan tanpa alasan kuat, apalagi Pilkada tersebut akan berlangsung di daerah zona merah Covid-19. Ngeri sekali!!

Sebaiknya Komisi Pemilihan Umum (KPU), Pemerintah dan DPR merespon ini dengan cepat, karena melaksanakan Pilkada pada masa darurat kesehatan seperti sekarang ini berarti bertolakbelakang dengan upaya pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus Corona di tanah air.

Penulis berpendapat bahwa apabila Pilkada serentak tetap dipaksakan, khususnya pada daerah zona merah Covid, maka kebijakan pemerintah tidak konsisten untuk menyelematkan warganya dari cengkaraman virus corona. Sebaiknya pengambil kebijakan negara berpikir ulang dan menganalis sejauhmana manfaat dan mudhoratnya Pilkada yang berbiaya besar ini, karena akhirnya rakyat lah yang terpapar virus.

Apabila ditunda sebenarnya akan berdampak positif kepada semua pihak, apalagi anggaran Pilkada tersebut dapat dialokasikan kepada penanganan Covid secara nasional. Kemudian seluruh perangkat fokus menangani Covid-19 yang telah berbulan-bulan berada di Indonesia ini.

Andai ditanya, penulis akan lebih cenderung memilih Pilkada Serentak ditunda hingga darurat Covid-19 berakhir. Bukan berarti batal tapi hanya ditunda.

Kalau sekarang, sesuai jadwal dan tahapan Pilkada. mudhorat (negatif) nya lebih besar dibanding manfaat. Wassalam (syamsir/pensiunan wartawan ibukota)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *