JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 sebagai momentum memperkuat komitmen bersama dalam memenuhi hak serta melindungi anak-anak Indonesia. Peringatan HAN tahun ini mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”.
“Membangun masa depan Indonesia dimulai dari bagaimana kita memperlakukan anak-anak hari ini. Tidak ada Indonesia Emas 2045 tanpa anak-anak yang tumbuh sehat, bahagia, terlindungi, dan mendapatkan kesempatan mengembangkan seluruh potensinya,” ujar Arifah Fauzi, dalam Konferensi Pers HAN ke-42 Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026), sebagaimana dilansir media ini.
Menurut Arifah, Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama bahwa setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, serta memperoleh perlindungan dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi.
Ia menilai, tantangan yang dihadapi anak saat ini semakin kompleks, termasuk ancaman di ruang digital yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak. “Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Perlindungan anak dimulai dari keluarga sebagai pelindung pertama dan utama, kemudian diperkuat oleh sekolah, masyarakat, dunia usaha, media, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah pusat dan daerah, hingga anak-anak sendiri sebagai pelopor dan pelapor,” tandasnya.
Dalam momentum HAN 2026, pemerintah juga terus memperkuat Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) yang diperluas melalui Gerakan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN). Langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi Asta Cita dan program prioritas nasional.
Melalui gerakan tersebut, pemerintah mendorong terciptanya ruang yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan bagi anak, baik di rumah, sekolah, lingkungan bermain, maupun ruang digital.
Arifah menjelaskan, terdapat tujuh pesan utama dalam peringatan HAN ke-42, yakni menghentikan perundungan, membangun persahabatan tanpa kekerasan, menjaga kesehatan mental anak, mencegah perkawinan anak, menciptakan sekolah yang aman dan menyenangkan, meningkatkan literasi digital, serta menjauhkan anak dari penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza).
Berbagai kegiatan turut digelar secara desentralisasi agar lebih banyak anak dapat merasakan makna peringatan HAN. Kegiatan tersebut meliputi Lokakarya Forum Anak, Jelajah SAPA, kegiatan bersama Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), Festival Budaya Anak Indonesia di Universitas Indonesia, hingga puncak peringatan HAN 2026 yang akan digelar di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
“Saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan perlindungan anak sebagai gerakan bersama. Mari lebih banyak mendengar suara anak dan hentikan segala bentuk kekerasan terhadap anak di mana pun terjadi,” katanya.
Kepada seluruh anak Indonesia, Arifah juga menyampaikan pesan agar terus belajar, bermain, bermimpi, dan berani menyampaikan pendapat. “Jika mengalami atau melihat kekerasan, jangan takut bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya atau menghubungi layanan SAPA 129. Negara akan selalu hadir untuk melindungi kalian. Selamat Hari Anak Nasional. Sayang Anak, Sayang Indonesia,” pungkasnya. (*/din)







Komentar