oleh

Menjaga Langit Nusantara, TNI AU Gariskan Estafet Jiwa Dirgantara Lintas Generasi

YOGYAKARTA – Di bawah naungan deretan pesawat bersejarah yang pernah membelah angkasa Indonesia, suasana hangat penuh khidmat menyelimuti Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta, Selasa (28/7/2026). Di tempat inilah, para ksatria langit dari berbagai era berkumpul menghubungkan masa lalu, hari ini, dan masa depan penjaga kedaulatan udara Indonesia.

​Dalam rangka memperingati Hari Bakti ke-79 TNI Angkatan Udara (TNI AU), ajang bertajuk ‘Sambung Rasa’ digelar bukan sekadar sebagai agenda tahunan. Lebih dari itu, forum ini menjadi momentum krusial penyerahan tongkat estafet semangat pengabdian antargenerasi.

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menegaskan bahwa Sambung Rasa merupakan wadah strategis untuk menjaga kesinambungan pengabdian di lingkungan TNI AU. Forum tersebut mempertemukan para senior, prajurit aktif, dan generasi penerus dalam satu ruang yang sarat nilai sejarah guna mewariskan pengalaman, nilai, dan semangat perjuangan.

​Di hadapan para purnawirawan dan prajurit aktif, Kasau mengingatkan bahwa TNI AU saat ini tengah melangkah cepat memasuki fase akselerasi pembangunan kekuatan udara. Ia menekankan bahwa secanggih apa pun alutsista yang dimiliki, keberhasilan pembangunan kekuatan udara sangat ditentukan oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). TNI AU membutuhkan prajurit yang unggul, berkarakter, profesional, adaptif, serta memiliki kemampuan tinggi dalam menghadapi dinamika zaman.

​Semangat kebangsaan kian menggebu saat Kepala Staf Angkatan Udara ke-14 Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim menyampaikan wejangannya bertajuk ‘Membangun Jiwa Dirgantara: Profesionalisme, Teknologi, Kepemimpinan, dan Kebanggaan Korps’.
​Tokoh senior TNI AU tersebut menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kokoh di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Menurutnya, Jiwa Dirgantara dibangun melalui karakter yang kuat, profesionalisme, disiplin, budaya keselamatan, kerja sama, integritas, keteladanan, literasi, serta semangat belajar sepanjang hayat.

​”Teknologi dan organisasi akan terus berkembang, tetapi Jiwa Dirgantara harus tetap menjadi landasan pengabdian bagi setiap insan TNI Angkatan Udara,” tegas Chappy Hakim. (aga/jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *