oleh

Luhut Sebut Indonesia Tengah Kembangkan Genome Sequence untuk Hasilkan Bibit Tanaman Unggul

JAKARTA – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marvest) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan Indonesia saat ini tengah mengembangkan genome sequence pada tanaman, bekerja sama dengan Tiongkok. Penelitian genome sequence pada tumbuhan sudah dilakukan di Danau Toba, Sumatera Utara setahun yang lalu.

Hal itu disampaikan Luhut pada peringatan 2 tahun BGSi dengan tema “Future Directions in Genomics: Setting the Agenda for the Next Decade” yang digelar di Jakarta pada Kamis (12/9/2024).

“Genome sequence merupakan metode sequencing untuk membaca urutan pada genome dari suatu organisme. Tujuan kerja sama itu, untuk memproduksi bibit unggul tanaman-tanaman tertentu,” ujar Luhut.

Ia yakin penelitian tersebut akan menghasilkan bibit unggul yang menjadikan hasil pertanian berkualitas. “Risetnya akan berjalan 1 tahun dan ini tahun kedua,” lanjut Luhut.

Menurutnya pertanian ini kuncinya ada tiga yakni bibit, pupuk, dan infrastruktur. Dengan teknologi genome ini diharapkan sekitar 2 tahun ke depan pertanian semakin baik karena bibit produksi lokal dan tidak perlu impor lagi.

Di kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan genome sequence pada DNA manusia juga dilakukan. Adapun sampel yang sudah diambil yakni dari 9 ribu, 6 ribu di antaranya sudah dilakukan genome sequencing. Dan sebanayk 4.500 sampel saat ini sudah dianalisis.

“Targetnya, akhir tahun mencapai 10 ribu sampel. Lalu dalam 5 tahun bisa mengambil 100 ribu sampel,” tuturnya.

Dengan sampel DNA tersebut, lanjut Menkes Budi, pengobatan yang disesuaikan genetik setiap individu atau pharmacogenomic bisa terealisasikan.

Menkes menjelaskan bahwa tidak semua metode pengobatan bisa cocok dengan setiap individu. Oleh karena itu, pharmacogenomic diharapkan bisa membantu pasien memilih jenis pengobatan yang lebih efektif.

“Guna mempercepat analisis dan penelitian, pemerintah juga telah membentuk clinical research center di tingkat nasional,” tutup Menkes Budi. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *