POSKOTA.CO – Budaya dan tradisi adat istiadat bila digabungkan dengan pariwisata tentu akan menjadi sebuah kolaborasi yang unik juga dahsyat. Instrumen-instrumen tersebut ada di Desa Penglipuran, Bangli. Setelah masa pandemi Covid-19 berlalu ke New Normal, kampanye We Love Bali Kemenparekraf/Baparekraf berupaya membangkitkan lagi energi pariwisata di Desa Penglipuran.
Ya, bagi Anda dan keluarga serta sahabat yang kepengin menikmati wisata budaya serta religi di Bali, khususnya kawasan utara Bali, langsung tancap gas ke Bangli, tepatnya ke Desa Penglipuran. Itu karena nama Penglipuran sudah dikenal dunia internasional atas kerja keras mereka menjaga adat istiadat dalam sebuah kawasan yang tertata betul kerapihannya.
Pada Senin (7/12/2020), rombongan peserta We Love Bali Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berkesempatan mengunjungi Desa Penglipuran yang dikenal sebagai contoh bentuk desa wisata pertama di Indonesia.
Kunjungan ke desa ini merupakan spot wisata kelima di kawasan utara Bali yang disambangi oleh peserta We Love Bali Trip 11. Perjalanan ke-11 ini juga merupakan pengujung dari kampanye We Love Bali yang dilaksanakan 6-8 Desember 2020.
Lalu mengapa Desa Penglipuran? Desa wisata di Bali ini sempat mendapatkan penghargaan Kalpataru. Pada 2016, Penglipuran terpilih sebagai desa terbersih ke-3 dunia versi majalah internasional Boombastic. Kemudian pada 2017, Desa Penglipuran mendapat penghargaan ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) 2017 dengan peringkat terbaik untuk kategori pelestarian budaya.
Selain menikmati keunikan wisata desa adat, setiap wisatawan yang mampir ke Penglipuran juga dapat menjelajahi sejumlah wisata edukatif lainnya. Diantaranya membuat anyaman bambu, membuat minuman Loh Cemcem yang terbuat dari bahan dasar sari daun Cem, hingga berpetualang di hutan bambu berhektar-hektar menggunakan sepeda. Wisatawan juga bisa menginap di Desa Penglipuran juga melakukan outbound.

Nah sejak Maret 2020, pariwisata di Desa Penglipuran mati suri. Baru pada pertengahan Oktober lalu, keran pariwisata di Desa Penglipuran baru diizinkan dibuka kembali oleh Pemerintah Provinsi Bali.
“Di Desa Penglipuran ini semua tradisi dari leluhur masih dijaga dan wajib dilestarikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini sebagai perwujudan upaya melestarikan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Bali yang dikenal sebagai umat Hindu yang religius,” beber Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani.
Adapun kampanye We Love Bali menerapkan protokol kesehatan di era New Normal, yakni Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability (CHSE) di seluruh spot wisata yang ada di Bali.
“Kemenparekraf/Baparekraf melalui We Love Bali berupaya mengkampanyekan lagi wisata-wisata yang ada di Bali, termasuk Desa Penglipuran. Pariwisata desa ini mesti bangkit lagi untuk menggerakan roda perekonomian era kebiasaan baru. Namun jangan dilupakan wisata saat ini memberlakukan protokol Kesehatan ketat,” imbuh Rizki.
SEKILAS DESA PENGLIPURAN
Pada awalnya Desa Adat Penglipuran hanya sebagai desa biasa layaknya desa-desa di Bali lainnya yang mempertahankan kekayaan budaya leluhur. Namun ketika datang mahasiswa UDAYANA untuk KKN pada tahun 1990, mereka membangun taman-taman kecil yang cantik serta penataan lingkungan.
Hingga pada akhirnya tahun 1991-1992 ada beberapa wisatawan yang datang mengunjungi desa. Dan akhirnya pada tahun 1993 sesuai Surat Keputusan (SK) Bupati No.115 tanggal 29 April 1993 maka ditetapkanlah sebagai Desa Wisata Penglipuran.
Siapa sangka, Desa Adat Penglipuran ini pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terbaik di dunia selain Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India. Desa ini sangat bersih, tak terlihat sampah berserakan. Kondisi ini dapat terbentuk karena tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan yang sudah ditanamkan sejak zaman nenek moyang dahulu.
Bahkan kendaraan bermotor tak boleh memasuki wilayah desa. Kendaraan bermotor bisa diletakkan di garasi namun melalui jalur yang berbeda. Anda juga tidak diperbolehkan merokok sembarangan. Jika ingin merokok harus dilakukan di tempat yang sudah disediakan.

Nama Desa Penglipuran berasal dari kata pengeling dan pura yang artinya mengingat tempat suci (para leluhur). Pada awalnya masyarakat desa berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Mereka bermigrasi ke Desa Kubu Bayung (sekarang menjadi desa Penglipuran) dan akhirnya menetap dengan senantiasa menjaga keluhuran falsafah budaya mereka.
Di setiap rumah mempunyai sebuah pintu gerbang disebut Angkul-angkul. Semua rumah di desa ini seragam tetapi tidak sama, hampir mirip bahkan. Untuk ukuran rumahnya sama persis. Tercatat ada 985 jiwa dalam 234 kepala keluarga yang tersebar pada 76 pekarangan, yang terbagi rata di setiap sisi dari luas total 112 hektar.
Adapun desa yang berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini dapat dikunjungi setiap harinya. Namun waktu terbaik untuk datang adalah ketika menjelang Hari Raya Galungan atau setelah Hari Raya Galungan.
Di hari itu Anda dapat melihat barisan penjor (pohon bambu panjang yang ujungnya dihias dan ditancapkan di depan rumah) yang menghiasi setiap rumah desa Penglipuran ini. Anda pun dapat menyaksikan gadis-gadis Bali berpakaian adat Bali dan membawa banten (persembahan) untuk menuju ke pura.
Desa Adat Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Dari Denpasar berjarak sekitar 45 kilometer, dekat dengan Kintamani atau Gunung Batur. (dk)







Komentar