oleh

Ketum Kowani Kampanyekan Ibu Bangsa pada Forum International ICW di Perancis

POSKOTA.CO – Kedudukan perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa menjadi salah satu hal yang dikapanyekan pada event The ICW-CIF 36th General Assembly yang berlangsung di Avignon City Hall, Kota Avignon, Prancis 16-21 Mei 2022. Konsep Ibu Bangsa yang hanya ditemukan di Indonesia tersebut telah mengantarkan Ketua Umum Kowani Dr Ir Giwo Rubianto Wiyogo kembali terpilih menjadi salah satu dari lima Vice President International Council of Women (ICW) untuk periode 2022-2024.

“Kami kampanyekan Ibu Bangsa di mata dunia. Ibu Bangsa menjadi ikon dari organisasi Kowani,” kata Giwo di sela halal bi halal Kowani, Jumat (27/5/2022).

Menurut Giwo, Ibu Bangsa terinspirasi dari pergerakan perempuan Indonesia yang dimulai dengan penyelenggaraan Kongres Wanita 1 di Yogyakarta pada 22 Desember 1928 dan posisi Ibu Bangsa dikukuhkan pada 1935. Sebagai induk dari organisasi Kowani, tentu negara-negara anggota ICW perlu untuk mengetahui tentang konsep Ibu Bangs aini.

Pada general assembly tersebut, Kowani lanjut Giwo juga menyampaikan beberapa catatan yang penting untuk ditindaklanjuti diantaranya fasilitasi perdagangan antara Paris-Indonesia dan sebaliknya Indonesia-Paris. Usulan yang terkait untuk di follow up Kowani diantaranya memperkuat sosialisasi, edukasi dan fasilitasi untuk memasuki pasar di Paris melalui Galeries Lafayette, dengan persyaratan yang ketat yang ditetapkan negara Eropa. Beberapa produk yang diunggulkan adalah fashion, furniture, dan food.

“Selain itu Kowani juga memperjuangkan harapan dari diaspora Indonesia agar mendapatkan dwi kewarganegaraan dengan ketentuan khusus,” tambah Giwo.

Menurut Giwo, GA ICW di Perancis memberikan setidaknya 9 poin penting yang menjadi fokus perhatian negara-negara anggota ICW. Mulai dari persoalan korupsi, aborsi sebuah hak yang rentan, orang tua pengganti, peminjaman rahim, perlindungan perempuan dan anak perempuan dari paparan internet, peningkatan status perempuan di pedesaan dan daerah tertinggal, akses perempuan terhadap energi, dan lainnya.

“Dari sekian banyak pembahasan, ada delegasi yang pro ada juga yang kontra,” tegas Giwo.

Kejahatan Seksual Bermodus Grooming

Dalam kesempatan tersebut, Giwo yang didampingi Ketua Kowani Erry Simanjuntak dan Ketua Bidang Humas Joice Yasmin Anshory mengingatkan akan bahaya internet bagi anak. Akses yang tanpa batas yang kini banyak diberikan kepada anak oleh orang tua  justru sangat membahayakan anak.

Ketum Kowani Giwo Rubianto (duduk) didampingi Ketua bidang Humas Joice Yasmin Anshory, Ketua Kowani Heryana Hutabarat dan Sekjen Kowani Titin Pamuji di tengah halal bi halal Kowani. (ist)

“Internet tidak selamanya membawa hal yang positif. Tentu dampak negative seperti paparan pornografi, kekerasan dan radikalisme penting untuk diwaspadai semua orang tua,” kata Giwo.

Ia mencontohkan maraknya kejahatan seksual dengan modus grooming. Kejahatan seksual dengan modus grooming selama ini menjadi bentuk kejahatan yang sulit untuk dikenali oleh orang tua maupun masyarakat. Sebab pelaku menyembunyikan kejahatannya dengan sikap yang sangat ramah kepada anak yang menjadi calon korban. Pelaku membangun kedekatan dengan anak-anak tidak hanya dalam satu atau dua hari, bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan hitungan tahun.

Menurut Giwo, media sosial kini menjadi hal lumrah dan banyak diakses oleh anak-anak. Mereka bahkan memiliki akun pribadi yang kadangkala orang tua tidak mengerti atau tidak mengetahuinya.

Akses terhadap media sosial inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan grooming untuk menyasar korbannya di kalangan anak-anak. Mereka sering menggunakan akun palsu yang mencatut nama atau foto orang yang sangat familiar dengan anak-anak. Kadang guru, kadang publik figure, artis atau tokoh yang banyak diidolakan oleh anak-anak. Dengan figur-figur yang dikenal anak, maka pelaku akan jauh lebih mudah untuk menarik simpati dan perhatian anak-anak. Apalagi melalui media sosial, komunikasi bisa dilakukan pelaku kapan saja, tidak terbatas oleh waktu dan tempat.

Demi mendapatkan simpati sang anak, pelaku juga tak segan memuji-muji korban, bersikap ramah, bersedia menampung keluh kesah anak dan menjadi teman curhat anak. Komunikasi yang dilakukan secara intensif ini lambat laun akan membuat hubungan keterikatan antara anak dengan pelaku.

Ketika sudah terbangun ‘kedekatan’ dengan anak, pelaku akan meminta anak berfoto atau merekam video cabul baik dengan cara yang santun maupun memaksa dan penuh ancaman.

Giwo menyebut dampak kejahatan grooming ini amat serius, karena anak korban kejahatan grooming bisa menunjukkan gejala psikologis yang memburuk, emosi yang tidak terkontrol dan juga gangguan secara fisik. Anak menjadi lebih sensitive, dan suka menyendiri.

Mengingat bahaya kejahatan grooming ini, Giwo mengimbau orang tua untuk mewaspadainya. Jangan mudah percaya pada orang asing yang memiliki hubungan baik dengan anak. “Jika ada orang asing yang gemar memberikan hadiah pada anak, mengajak anak jalan atau hal-hal lain diluar kewajaran, sebaiknya hati-hati. Cek media sosial anak, cari tahu siapa kawan atau orang yang dekat dengan anak,” tegas Giwo.

Dan hal yang paling penting ada membatasi akses anak terhadap internet. Jika memang anak harus mengakses internet, maka orang tua wajib melakukan pendampingan. “Jangan biarkan sebebas-bebasnya anak bermain internet,” tutup Giwo.

Delegasi Kowani pada The ICW-CIF 36th General Assembly dipimpin Giwo Rubianto dengan anggota delegasi terdiri atas Uli Silalahi, Heryana Hutabarat, Tantri, Liesye, Sharmila dan Farah Savira. Mereka menyempatkan diri berkunjung ke KBRI dan UNESCO. Kunjungan ke UNESCO, delegasi Kowani diterima dan berdialog dengan Ms. Danielle Cliche, Chief, Policies, and Strategies for Gender Equaity. Kunjungan ke UNESCO ini pertama kali dilakukan Kowani dalam sejarah, guna mempererat hubungan kerjasama internasional dan kolaborasi program dengan UNESCO. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.