JAKARTA – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menggelar Kongres ke-26 tahun 2024 dengan tema “Kowani Sebagai Ibu Bangsa Memperkuat Komitmen Mewujudkan Indonesia Emas 2045” di Jakarta pada Rabu (4/12/2024). Kongres yang diikuti perwakilan dari 111 organisasi perempuan di bawah federasi Kowani tersebut dibuka resmi oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi.
Hadir Ketua Umum Kowani periode 2019-2024 Giwo Rubianto Wiyogo dan jajaran pengurus DPP Kowani, Dewi Motik, Linda Agum Gumelar, Ketua Panitia Kongres ke-26 Eryana dan sejumlah tokoh perempuan lainnya.
Dalam saambutannya, Menteri Arifatul Choiri mengatakan perempuan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Dan ini menuntut perempuan lebih aktif dalam pengambilan keputusan di berbagai sektor pembangunan.
“Perempuan tidak hanya berperan sebagai pemilih cerdas dalam pemilu untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan tapi juga perlu memperjuangkan keterwakilan perempuan di posisi pengambil keputusan,” kata Menteri Arifatul Choiri.
Langkah ini penting kata Arifatul, agar kepentingan perempuan dan anak tersuarakan dalam penyusunan kebijakan, program, dan anggaran. Dengan karakter cenderung peduli dan merasa bertanggung jawab untuk membantu sesama yang menghadapi kesulitan, keterlibatan perempuan yang berdaya dalam ruang-ruang pembangunan dipercaya sebagai kunci dalam mewujudkan Indonesia yang inklusif dan berdaya saing dengan manfaat yang dapat dinikmati oleh semua pihak .
Oleh sebab itu, Kowani sebagai payung organisasi bagi 111 organisasi wanita di seluruh Indonesia sangatlah penting untuk terus menguji dan mengembangkan peran strategisnya agar perempuan di seluruh penjuru nusantara dapat berpartisipasi secara aktif dan positif dalam pembangunan bangsa.
“Kehadiran Kowani, mengingatkan kita bahwa perjuangan perempuan harus menyesuaikan dengan tantangan zaman membuka akses seluas-luasnya bagi perempuan untuk mengeluarkan potensi terbaik serta mendukung keutuhan dan kemajuan NKRI dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Arifatul juga mengingatkan Asta Cita Presiden Prabowo yang menjadi panduan dalam pembangunan bangsa. Salah satu poin penting dari Asta Cita tersebut adalah kombinasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya perempuan agar mampu bersaing secara global. Kowani dengan kapasitas sebagai payung organisasi perempuan terbesar di Indonesia memegang peran strategis untuk mendukung implementasi cita-cita ini.
Ke depan Menteri Arifatul berharap Kowani juga harus menjadi referensi bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan di tengah gempuran teknologi informasi dan penetrasi budaya. Kowani mempunyai tugas menguatkan budaya bangsa menjaga karakter bangsa seperti Pidato Soekarno tahun 1963 yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Menurut Menteri Arifatul, setelah melewati tahap revolusi fisik dan tahap survival saatnya Indonesia berinvestasi dalam sumber daya manusia dan yang lebih penting bagaimana membangun mental masyarakat dan bangsa Indonesia yang akan memukul rasa cinta tanah air membangun karakter untuk mewujudkan kedaulatan bangsa Indonesia di berbagai sektor
“Saat ini menjadi penting untuk membangun kedaulatan pangan, kedaulatan energi serta sektor lainnya untuk menjamin kemakmuran dan persatuan serta mengurangi ketergantungan terhadap bangsa lain,” ujarnya.
Dalam konteks ini Kongres KOWANI ke-26 sangat relevan sebagai ibu bangsa, perempuan Indonesia diharapkan mampu memperkuat keutuhan dan kedaulatan negara sebagaimana diamanatkan dalam Asta Cita. Peran Kowani sangat penting untuk terus mendorong kebijakan yang mendukung partisipasi perempuan di semua sektor termasuk dalam membangun kedaulatan pangan, energi dan ekonomi yang menjadi pilar utama menuju Indonesia yang mendiri dan berdaya saing di tingkat global.
Miliki 111 Anggota Organisasi
Sebelumnya, Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo dalam sambutannya mengatakan saat ini, Kowani yang merupakan organisasi federasi perempuan yang terbesar dan tertua di Indonesia mewadahi 111 anggota organisasi di tingkat pusat dengan lebih dari 100 juta anggota perempuan dari seluruh Indonesia. Ini merupakan pencapaian pertambahan jumlah organisasi yang signifikan pada 2 periode terakhir (sekitar 25 organisasi yang telah bergabung).
“Ini menunjukkan kepercayaan yang semakin besar terhadap Kowani, berhasil menggerakkan ormas perempuan untuk lebih banyak berbuat, berdaya dan terlibat dalam garis pengabdian untuk anak dan perempuan indonesia di berbagai sektor, baik pendidikan, kesehatan, politik, lingkungan dan sebagainya,” ujar Giwo.
Kesuksesan dan kebehasilan Kowani tersebut diakui Giwo tidak lepas dari kepemimpinan para pendahulu, mulai dari Lasiyah Soetanto, A. Sulasikin Moerpratomo, Mien sugandi, Enny Busiri Suryowinoto, Inne soekaryo, Linda Agum Gumelar, dan Dewi Motik Pramono. “Terimakasih telah banyak mengukir sejarah panjang kongres Wanita Indonesia,” lanjut Giwo.
Selain itu, Giwo juga menyampaikan terima kasih kepada organisasi-organisasi yang telah menjadi pendiri Kowani, yaitu Aisyiyah, Taman Siswa, dan Wanita Katolik RI. Mereka adalah tonggak sejarah yang telah meletakkan dasar bagi berdirinya Kowani dan telah memberikan kontribusi luar biasa dalam perjalanan panjang ini.
“Hingga saat ini, Aisyiyah, Taman Siswa, dan Wanita Katolik RI tetap setia bergabung dan aktif berkontribusi dalam Kowani. Keberlanjutan keanggotaan dan komitmen mereka adalah bukti nyata dari dedikasi untuk kemajuan kaum perempuan,” tegas Giwo.
Dalam kesempatan tersebut Giwo juga menyampaikan sejumlah pencapaian Kowani baik dalam tingkat nasional, regional juga dunia. Di tingkat nasional, Kowani memiliki kepanjang tanganan sampai tingkat akar rumput melalui BKOW di provinsi dan GOW di kabupaten/kota. Di tingkat regional Kowani menjadi inisiator berdirinya ACWO sejak 1981 dan menjadi salah satu anggota.
“Dan di tingkat internasional Kowani menjadi anggota ICW, dimana saya terpilih menjadi vice president selama 2 periode. Kowani juga menjadi anggota UN/PBB yang mendapatkan “special consultative status of the ECOSOC” sejak 1998. Yang berarti bahwa, anggota organisasi Kowani, BKOW dan GOW secara tidak langsung adalah bagian dari ‘besarnya’ Kowani,” katanya.
Giwo berharap Kongres ke-26 tidak hanya menghasilkan rekomendasi yang strategis, tetapi juga dapat menghasilkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang lebih sesuai dengan kebutuhan saat ini dan ke depan. Tidak kalah pentingnya adalah memilih siapa yang akan menjadi nahkoda kapal besar ini, yang menjadi Ketua Umum Kowani yang baru.
“Dalam perjalanan ini, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Kita semua memiliki satu niat yang sama, yaitu untuk membawa Kowani, perempuan, dan anak Indonesia ke arah yang lebih baik. Dengan kepemimpinan sosok Ibu Bangsa yang penuh kasih dan dedikasi, InsyaAllah Kowani akan semakin kuat dan memberikan manfaat yang lebih besar,” tandas Giwo.







Komentar