JAKARTA – Konflik internal organisasi perempuan Kowani memasuki babak baru. Setelah konflik internal Kowani secara terbuka mengemuka ke publik saat 19 Dewan Pimpinan Kowani (hasil Kongres Tahun 2024) melakukan mosi tidak percaya kepada Ketua Umum pada 18 November 2025, satu bulan kemudian muncul 4 kubu yang mengancam eksistensi federasi organisasi Perempuan terbesar di Indonesia.
Ke-4 kubu tersebut adalah kubu Ketumbar alias Ketua Umum Baru yang beranggotakan 4 Dewan Pimpinan hasil Kongres, kubu 19 Dewan Pimpinan yang beranggotakan mayoritas Dewan Pimpinan hasil Kongres 2024, kubu Pendiri Kowani yang beranggotakan 3 organisasi pendiri Kowani yakni Aisyiah, Wanita Katolik Republik Indonesia dan Taman Siswa, dan kubu Organisasi Anggota.
Menyelesaikan konflik berkepanjangan tersebut, Marlinda Irwanti, Ketua Umum Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia dan Korp Perempuan MDI mendukung adanya Kongres Luar Biasa (KLB). Namun, mantan Anggota DPR RI ini mengajukan opsi adanya kepemimpinan presidium dalam organisasi Kowani.
“Kami sampaikan, kalau konfliknya berkepanjangan bisa mengakibatkan kami-kami akan keluar dari anggota federasi Kowani. Dan Kami bisa membuat Federasi Perempuan yang baru,” ujar Marlinda Irwanti, dalam keterangan tertulisnya.
Marlinda mengingatkan perempuan (adalah) kekuatan besar kalau bisa berkolaborasi dan saling mendukung bukan saling menjatuhkan. “Kongres Kowani kemarin adalah bukti nyata, perempuan sulit maju karena hobbynya tetap saling menjatuhkan, apakah itu Kodrat Perempuan,” tekan Marlinda.
Lebih lanjut ia mengingatkan bahwa Kowani adalah organisasi federasi milik 120 organisasi perempuan. Karena itu, sudah saatnya dikembalikan kepemilikannya tersebut. Jangan dikuasia oleh tokoh sentral sehingga leluasa mengambil kebijakan organisasi dan mengabaikan asas kolektif kolegial,” tegas Marlinda.
Menurut Marlinda, saat ini KLB adalah solusi untuk penyempurnaan AD/ART. Kongres 2024 silam menyisakan Pekerjaan Rumah karena pembahasan AD/ART belum tuntas.
Selain itu, dalam AD/ART Kowani hasil KLB nanti juga memastikan bahwa organisasi federasi ini bisa menjawab tantangan zaman. Kowani harus tampil menjadi organisasi federasi yang inovatif dan inklusif.
Kongres Kowani 2024 menjadi pelajaran dan membuka mata kita agar memilih pemimpin yang berkualitas, bukan semata yang hanya bisa menghadapkan posisi suami.
“Syarat menjadi Ketua Umum harus pernah masuk dalam jajaran Dewan Pimpinan minimal 1 periode,” ujar Marlinda
Marlinda prihatin, para pihak yang berkonflik saling sebar kebencian kepada organisasi anggota. Ia menegaskan bahwa ada tata kelola organisasi yang salah disebabkan kurangnya pengalaman kepemimpinan dalam organisasi plural.
“Mereka yang berkonflik itu satu kubu saat Kongres 2024. Mereka satu barisan tim pemenangan Ketumbar. Jadi tidak benar kalau konflik disebabkan oleh pihak yang kalah Kongres,” tandas Marlinda. (fs)







Komentar