JAKARTA – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI bergerak cepat mengamankan kerja sama strategis dengan Timur Tengah melalui penandatanganan Statement of Intent (SOI) pertahanan bersama Qatar, Selasa (2/6/2026). Langkah konkret ini diambil oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin saat menerima kunjungan resmi Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Negara Urusan Pertahanan Qatar Sheikh Saoud bin Abdurrahman Al Thani di Kantor Kemenhan, Jakarta.
Kesepakatan ini menjadi ‘jembatan hukum’ resmi untuk mempercepat lahirnya Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA) yang utuh antara kedua negara. Langkah taktis ini sekaligus menegaskan posisi tawar Indonesia di kancah global. Pertemuan yang berlangsung hangat ini bukan sekadar urusan diplomasi di atas kertas, melainkan sebuah komitmen mendalam dua negara bersahabat untuk saling memperkuat kedaulatan dan pertahanan.
Ada momen sarat makna yang menyentuh hati sebelum kedua menteri memasuki ruang sidang utama. Usai upacara jajar kehormatan militer dan lagu kebangsaan dikumandangkan, Menhan Sjafrie mengajak Sheikh Saoud berjalan beriringan menuju patung Proklamator sekaligus Presiden Pertama RI Sukarno.
Di hadapan patung ‘Bung Karno’ –sang arsitek diplomasi bebas aktif yang mendunia– kedua pemimpin menghentikan langkah dan memberikan hormat takzim. Momen ini menjadi penanda kuat bahwa hubungan bilateral yang dibangun hari ini berdiri di atas fondasi sejarah yang kokoh dan rasa saling menghormati yang tinggi (mutual respect).
Bagi Menhan Sjafrie, kehadiran Sheikh Saoud terasa sangat bermakna. Ini adalah kunjungan balasan dari lawatan yang pernah dilakukan Sjafrie ke Doha pada 12 April 2025 lalu. “Hari ini kami merasa sangat terhormat menerima kunjungan beliau. Kita menandatangani satu kesepakatan jembatan menuju DCA, yang akan mengikat kerja sama militer, latihan, pendidikan, hingga industri pertahanan kita,” ujar Sjafrie dengan nada mantap yang merefleksikan rasa nasionalisme tinggi, dalam keterangan yang didapat media ini, Selasa (2/6/2026).
Meski draf besar DCA masih dalam proses pematangan oleh tim teknis, kedua negara enggan membuang waktu. Langkah nyata langsung ditunjukkan di sektor kemandirian industri pertahanan. Di hadapan kedua menteri, ditandatangani pula nota kesepahaman (MoU) antara raksasa industri pertahanan Qatar, Barzan Holding, dengan industri pertahanan dalam negeri yang dijembatani oleh Badan Logistik Pertahanan (Kabalohan) Kemenhan.
”Indonesia meyakini kolaborasi ini akan menghasilkan mutual benefit (keuntungan bersama). Kita akan memperkuat kapasitas dan kerja sama pertahanan kita di masa yang akan datang, khususnya pada matra darat dan matra laut,” tambah Sjafrie.
Mendengar hal itu, Sheikh Saoud menyambutnya dengan kalimat yang sangat bersahabat dan menyentuh. Ia berulang kali menyebut Sjafrie sebagai ‘saudaraku’. “Hubungan antara Indonesia dan Qatar sangat strategis, khususnya di bidang pertahanan. Kami telah mendiskusikan banyak hal dengan sahabat saya kemarin bersama Bapak Presiden, dan hari ini kami membahasnya secara lebih terperinci. Insya Allah, langkah ini akan menuntun kita pada Perjanjian Pertahanan yang kokoh di masa depan,” ungkap Sheikh Saoud tulus.
Sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas kontribusi dan komitmen Qatar dalam memperkuat persahabatan serta mendukung stabilitas perdamaian internasional, Menhan Sjafrie menganugerahkan Penghargaan Dharma Pertahanan kepada Sheikh Saoud di akhir acara.
Pemandangan menarik dan tak biasa juga tersaji selama protokol penyambutan militer pagi itu. Di barisan depan pengawalan tamu VIP, tampak prajurit Polisi Militer (PM) perempuan berdiri gagah memimpin pergerakan. Kehadiran srikandi berseragam militer ini menjadi buah bibir positif di lingkungan Kemenhan.
Kehadiran mereka bukan sekadar pemanis formalitas, melainkan sinyal tegas dari TNI kepada dunia internasional mengenai kesetaraan gender. Di bawah panji NKRI, baik prajurit pria maupun wanita memiliki ruang, fungsi, dan ketangguhan yang setara dalam menjalankan tugas-tugas kenegaraan yang sakral.
Penjelasan Teknis Kantong Informasi
Guna menyajikan informasi yang akurat dan meluruskan berbagai pertanyaan media di lapangan, Kepala Biro Humas Setjen Kemenhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait memberikan poin-poin penjelasan teknis sebagai berikut:
- Sifat Kerja Sama Industri: Hubungan kerja sama antara Barzan Holding (Qatar) dan industri pertahanan Indonesia saat ini masih bersifat penjajakan awal (non-binding / belum mengikat). Fokus kolaborasi ke depan diarahkan pada penguatan teknologi sektor matra darat dan matra laut, bukan pada transaksi jual-beli instan.
- Isu Alutsista yang Tidak Dibahas: Brigjen Rico menegaskan bahwa dalam forum bilateral tersebut tidak ada pembahasan mengenai pengadaan tank Raf untuk korps Marinir, maupun rencana pengembangan kerja sama Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat Hercules se-Asia Tenggara di Kertajati.
- Mekanisme Pendidikan dan Latihan: Implementasi konkret mengenai program latihan taktis bersama dan pengiriman personel militer akan digodok lebih detail oleh Tim Kelompok Kerja (Working Group). Saat ini belum ada pembicaraan spesifik mengenai penggunaan fasilitas Morotai International Training Center.
- Absennya Menhan di Forum Shangri-La: Menjawab pertanyaan wartawan terkait ketidakhadiran Menhan Sjafrie di forum internasional Shangri-La Dialogue Singapura pada akhir pekan lalu, Karo Humas menjelaskan bahwa Menhan memiliki agenda khusus di dalam negeri yang sangat mendesak dan tidak dapat ditinggalkan. Oleh karena itu, Menhan mendelegasikan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) untuk menghadiri dan mewakili Indonesia dalam forum tersebut. (*/aga)







Komentar