oleh

Ditengah Pandemi Covid-19, Api Kebudayaan Harus Tetap Berkobar

POSKOTA.CO – Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang diundangkan pada 29 Mei 2017 menempatkan pemerintah sebagai fasilitator warga negara untuk memajukan kebudayaan. Perubahan paradigma ini sudah lama ditunggu. Namun, empat tahun berlalu, belum banyak amanat UU yang terealisasi.

Sesuai pasal 1 Ayat (3) UU No 5/2017, pemajuan kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Anggota DPR Fraksi Partai Golkar RI Komisi X, Ferdiansyah, SE.,MM mengatakan Kebudayaan dan kearifan lokal menjadi kekayaan dan identitas Indonesia yang harus dimanfaatkan keberadaannya. Budaya harus dijadikan investasi untuk menjadi daya pikat Indonesia.

“Kita akan memberikan pemahaman yang lebih luas dan lebih baik kepada masyarakat bahwa budaya itu jangan diartikan sempit hanya sebatas seni budaya tari-tarian,” kata Ferdiansyah pada acara Sosialisasi Strategi Meningkatkan Ketahanan Budaya Di Masa Pandemi Covid-19, berlangsung di Grand Metro Hotel Tasikmalaya, Jumat (25/6) dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat peserta diwajibkan untuk tes antigen, mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

Menurut Ferdiansyah, Kemajuan kebudayaan merupakan upaya meningkatkan ketahanan budaya. “Jadi sekali lagi Budaya jangan diartikan sempit  hanya seni tari, seni membaca puisi dan sebagainya. Termasuk dengan adanya Pandemi Covid-19 ini satu abad kedepan hampir dipastikan ada budaya baru karena diawali dengan kebiasaan,” ungkap Ferdiansyah.

“Indonesia harus bangkitkan Kebudayaan dan kearifan lokal yang menjadi kekayaan dan identitas Indonesia. Infiltrasi budaya atau penyusupan budaya luar yang sengaja maupun tidak sengaja merasuk dan mempengaruhi budaya lokal. Ini yang kita khawatirkan,” tegasnya.

Lebih lanjut Ferdiansyah menambahkan Budaya adalah pembentuk karakter bangsa dan juga budaya dapat menyelesaikan benturan sosial budaya menjadi haluan pembangunan nasional. Masyarakat adalah subjek kebudayaan, budaya modal peningkatan kesejahteraan. Budaya bukan biaya, tapi investasi.

“Kami mengimbau kepada masyarakat khususnya warga Tasikmalaya lebih peduli dengan budayanya masing-masing. Budaya jangan diartikan sebagai biaya, namun investasi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Ditjen Kebudayaan, Fatwa Yulianta mengatakan di masa pandemi Covid-19 ini api kebudayaan harus tetap menyala.

“Untuk itu baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah berserta seluruh komponen masyarakat harus bergotong royong dalam upaya pemajuan kebudayaan,” kata Fatwa.

Acara Sosialisasi Strategi Meningkatkan Ketahanan Budaya Di Masa Pandemi Covid-19 di Tasikmalaya, Jawa Barat, di ikuti sebanyak 200 peserta terdiri dari para seniman, budayawan, Juru pelihara, penggiat budaya, para guru seni budaya dan akademisi serta para tokoh adat tokoh masyarakat di Tasikmalaya. (miv/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *