oleh

‘Ayo Ngguyu Ojo Gampang Nesu’

-Nasional-158 views

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

MARI tertawa dan jangan mudah marah. Kartun dan karikatur mengajak kita bergembira dan memberi pencerahan dalam rupa kata garis dan warna. Tema yang digambarkan berupa kehidupan sosial atau masalah kebijakan publik bisa juga yang berkaitan dengan politik. Kecerdasan di dalam menggambarkan dan mengungkapkan isi pikiran dalam gambar kadang hanya rupa tanpa kata orang sudah memahami makna di baliknya.

Kepiawaian mengolah berbagai ungkapan kadangkala mengritik atau mengritisi apa yang menjadi kebijakan. Tak jarang seniman kartun atau karikatur harus sangat hati-hati waspada dan mewaspadai bahkan bisa sedikit curiga atau penuh dengan tanya. Wajar di rezim yang gampang nesu maka periuk mereka taruhannya.

Rezim yang ngamukan akan membredel, mem-black list, dan banyak cara yg bisa digunakan untuk membunuh karakter. Demikian sebaliknya demi kepentingan politik maupun propaganda bisa saja menggunakan para kartunis dan karikaturis mempromosikan kepentingan-kepentingannya.

Karya seni memang seperti kendaraan tatkala di parkiran saja bisa dituding memihak, apalagi saat digunakan siapa saja pengendaranya akan menjadi labelnya. Sejarah menunjukkan masa kelam yang sebentar-sebentar marah membredel menangkapi, memenjarakan, bahkan membunuh. Ini yang terus menjadi trauma untuk mengajak tertawa. Jangan-jangan akan berdampak apa? Jangan-jangan penguasa muntah-muntah kita yang diperiksa.

Trauma bagi karikaturis dan kartunis ini bagai pelawak dalam negara yang otoriter. Siap gerak, tertawa gerak, diam gerak. Semua pukul rata rasa diubah bagai mesin atau robot saja semua dikendalikan sehingga matilah rasa. Hidup seakan tanpa jiwa.

Kartun dan karikatur ibarat keris kalau tidak ada sesuatu yang berbau magis ya bukan keris. Demikian halnya kartun dan karikatur kalau tidak ada pemikiran kritis sama dengan makan masakan yang hambar. Ada sesuatu yang kurang.
Kekritisan bukan untuk membunuh atau menyerang atau atas dasar kebencian atau membabi buta menjelek-jelekkan, melainkan ada sesuatu oesan morak yang ingin disampaikan. Ini suatu kecerdasan dan kepiawaian mengolah rasa dalam rupa walau kadang tanpa kata namun mampu mengajak bercanda dan menghasilkan tawa.

Kepiawaian dan kecerdasan para kartunis menangkap situasi aktual yang dalam berbagai isu penting yang terjadi dalam masyarakat dengan cepat dan up todate ini suatu kecerdasan dalam tekanan. Apalagi dikejar deadline dengan berbagai rambu pagar hingga pesan-pesan sampai ancaman jangan begini jangan begitu harus hati-hati.

Pak Gatot Eko Cahyono pernah menceritakan pasca koran Kompas ditegur keras Pak GM Sudarta menampilkan Om Pasikom hanya lembaran putih kosong. Seolah menunjukkan perdamaian win-win solution atau saking hati-hatinya tiada gambar lagi. Tertawa itu memang sehat dan cerdas nampun bisa juga penuh was-was tatkala berhadapan dengan orang orang atau kaum yang buas. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *