oleh

Puasa Itu Ibadah Rahasia Antara Hamba Dengan Rabbnya

RASULULLAH SAW dalam satu hadist qudsi, bersabda: “Semua amalan anak Adam (manusia) itu untuk dirinya, kecuali puasa. Sebab, ia adalah buat-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya,” (HR Bukhari, Muslim, An Nasai dan Ahmad).

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa dengan keimanan dan mengharap (ridha dan pahala-Nya), akan diampunkan baginya dosa-dosa yang telah lalu,” (HR Bukhari, Muslim, An Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, At Tharmizi dan Ahmad).

Saudaraku…

Ibadah puasa (shaum) adalah ibadah rahasia. Tidak seorang pun yang tahu, apabila seseorang itu sedang menunaikan ibadah puasa. Yang tahu hanyalah, hambanya dengan Rabbnya yaitu Allah SWT.

Seseorang dapat saja mengaku tengah berpuasa, padahal sebenarnya tidak. Hanya untuk mengelabui istri, anak dan keluarga di rumah, ia makan sahur dan buka bersama keluarga atau rekan kantornya.  Di kantor  atau di tempat kerja ia makan siang dan minum secara sembunyi-sembunyi.

Setiba di rumah  dari kantor, ia dapat berakting seperti orang puasa. Malah dia duduk manis menunggu saat-saat menjelang beduk azan maghrib, bahkan dengan semangat mencicipi hidangan berbuka bersama anggota keluarga.

Kalau sekadar manusia sebagai pengawas, atau pimpinan unit kerja mengawasi anak buahnya berpuasa atau tidak,  sungguh tidak akan mampu. Jelaslah ibadah puasa dikatakan ibadah rahasia. Tidak ada seorang pun tahu.

Berbeda dengan ibadah salat, zakat, haji dan sadaqah. Ibadah ini dapat disaksikan mata sendiri. Dapat dilihat orang banyak. Dari gerakan atau sarana yang dipergunakan, salat ke masjid atau salat di rumah.

Demikian ibadah zakat, haji dan lain-lainnya. Semua ibadah itu dapat dilihat secara fisik, namun sebaliknya ibadah puasa, tidak nampak dengan kasat mata. Karena ibadah ini menyangkut hubungan dengan Allah.

Semua amalan anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Allah yang akan membalas amalan puasanya. Apakah seorang hamba berpuasa karena keimanan dan mengharap ridha Allah, atau sebaliknya. Dengan kata lain, menunaikan ibadah puasa dapat membentuk sikap dan perilaku seorang hamba untuk jujur. Taatlah kepada Allah SWT. Ringkasnya, apabila keseharian nya tidak jujur dan tidak peduli kepada orang lain, maka ibadah puasanya kemungkinan belum membekas. Wallahu a`lam bish showab. [syamsir]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.