oleh

HIFDI Gelar Seri Webinar Ramadan, Soroti Puasa sebagai Proses Penyucian Diri Menuju Insan Kamil

MAKASSAR – Menyambut bulan Ramadan, Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) menggelar seri webinar bertajuk Menyambut Ramadan dengan Akal, Hati dan Jiwa Menuju Hakikat Insan Kamil. Serial yang direncanakan lima kali selama bulan Ramadan ini menyoroti tentang bagaimana puasa Ramadan bukan hanya ibadah menahan rasa lapar dan haus tetapi juga proses penyucian diri menuju derajat insan kamil.

Dalam pengantar Webinar seri pertama yang digelar Senin malam (16/2/2026), Ketua PP HIFDI dr Zaenal Abidin, SH.MH, menjelaskan sejatinya bulan Ramadan memiliki banyak sebutan dalam literatur Islam, seperti Syahrul Quran, Syahrul Shiyam, Syahrul Maghfirah, dan Syahrul Mubarak.

“Sebagian besar umat Islam di Indonesia menyebut Ramadan sebagai bulan suci, sementara dalam literatur yang saya baca tidak disebutkan demikian. Ini tentu menarik untuk didiskusikan lebih lanjut,” ujar dr Zaenal.

Literatur juga menyebutkan terdapat empat bulan haram atau bulan suci dalam Islam, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Karena itu, penyebutan Ramadan sebagai bulan suci menjadi diskusi tersendiri yang perlu dikaji lebih mendalam.

Dalam pemaparannya, ia juga mengutip perbandingan antara bulan haji dan bulan Ramadan. Jika pada bulan haji umat Islam mendatangi Baitullah untuk menunaikan rukun Islam kelima, maka pada bulan Ramadan justru bulan itulah yang “mendatangi” umat Islam.

“Ramadan seakan datang menyapa, mengajak, dan memeluk orang-orang yang telah mempersiapkan diri untuk menyambutnya,” tuturnya.

Untuk Ramadan tahun ini, HIFDI telah menyiapkan lima seri webinar yang akan membahas kesehatan secara menyeluruh, mencakup aspek fisik, jiwa, sosial, dan spiritual.

Untuk seri pertama, tema yang diangkat adalah “Sambut Ramadan dengan Akal, Hati, dan Jiwa Menuju Hakikat Insan Kamil”. Webinar ini menghadirkan dua narasumber kompeten, yakni Dr. Taufik Fasyiak, MPDI, yang dikenal sebagai pakar neuroscience dan neurospiritual, serta Dr. Mohd. Gidri Alwi, MKS, MAG, yang juga aktif sebagai akademisi dan mubalig.

Menurut dr. Zaenal, kedua narasumber memiliki latar belakang unik karena mendalami ilmu kedokteran sekaligus ilmu agama hingga jenjang doktoral. “Keduanya adalah dokter di bidang kedokteran dan juga doktor di bidang ilmu agama. Ini menjadi kekuatan tersendiri dalam membahas Ramadan dari perspektif ilmiah dan spiritual,” katanya.

Ia berharap, melalui rangkaian kegiatan ini, umat Islam dapat mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan lebih baik dan meningkatkan derajat ketakwaan. Karena sesungguhnya, tujuan akhir dari ibadah Ramadan bukan sekadar menjadi insan kamil, tetapi mencapai derajat tertinggi sebagai insan bertakwa.

“Kita berharap Ramadan kali ini benar-benar menjadi momentum perbaikan diri dan peningkatan kualitas keimanan,” pungkasnya.

Tingkatan dalam Puasa

Dr. dr. H. Muh. Khidir Alwi, M.Kes, M.Ag, Ketua BAZNAS Sulawesi Selatan membuka paparannya dengan kisah Rasulullah menyambut Ramadan. “Ketika bulan Sya’ban hampir berakhir, Nabi Muhammad SAW menyambut datangnya Ramadan dengan penuh kegembiraan. “Marhaban bil muthahhir,” selamat datang wahai yang mensucikan, demikian ungkapan yang menggambarkan Ramadan sebagai bulan penyuci diri dari dosa dan maksiat,” papar Dr Khidir.

Ia menekannya kembali bahwa Ramadan sebagai syahrul mubarakah (bulan penuh berkah) dan syahrul maghfirah (bulan penuh ampunan). Sebab selama puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana pembersihan lahir dan batin. “Secara spiritual, puasa mengajarkan pengendalian diri,” tegasnya.

Dalam kajian tasawuf, Imam Al-Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkatan. Pertama Shaum al-‘Awam, yaitu puasanya orang kebanyakan, sekadar menahan lapar dan haus. Kedua, Shaum al-Khusus  yakni puasa yang juga menahan anggota tubuh dari maksiat, menjaga lisan, emosi, dan perilaku. Dan ketiga adalah Shaum Khusus al-Khusus. Ini adalah puasa tingkat tertinggi, yaitu menjaga hati dan pikiran dari selain Allah.

“Puasa sejatinya adalah proses al-imsak, menahan diri secara total, bukan hanya fisik, tetapi juga jiwa dan pikiran,” jelasnya.

Al-Ghazali menyebutkan pusat pengendalian diri manusia ada pada nafsu perut. Karena itu, pengendalian makan menjadi pintu utama menundukkan hawa nafsu.

Manfaat Spiritual dan Kesehatan

Selain aspek spiritual, menurutnya, puasa juga memiliki dimensi kesehatan. Sejumlah penelitian modern menyebutkan proses autofagi—mekanisme pembersihan sel tubuh—dapat bekerja optimal saat tubuh berada dalam kondisi tidak makan dalam periode tertentu. Konsep ini kerap dibandingkan dengan metode intermittent fasting, meski puasa Ramadan memiliki dimensi ibadah dan aturan yang lebih komprehensif.

Al-Qur’an sendiri menegaskan:

“Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 184)

Makna “mengetahui” dalam ayat tersebut dipahami sebagai kesadaran akan hikmah dan manfaat luas dari puasa, baik secara fisik maupun ruhani.

Lebih lanjut Dr Khidir menekannya bahwa tujuan akhir puasa adalah mencapai derajat takwa. Lebih jauh lagi, puasa diharapkan mengantarkan manusia menjadi ulul albab—mereka yang mampu menyinergikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Konsep insan kamil sendiri dalam Islam merujuk pada sosok manusia paripurna, dengan teladan tertinggi adalah Nabi Muhammad SAW. Melalui puasa, seseorang dilatih untuk menahan diri, bermuhasabah, dan meningkatkan kualitas ruhani. Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual menuju ma’rifat diawali dengan pengendalian nafsu, terutama nafsu makan. Melaparkan perut dipandang sebagai pintu awal untuk melemahkan dorongan hawa nafsu lainnya.

Di penghujung Ramadan, lanjutnya, umat Islam dianjurkan melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Apakah puasa yang dijalani hanya sebatas ritual menahan lapar dan haus, atau sudah meningkat pada pengendalian diri dan penyucian hati?

“Jadi Ramadan bukan sekadar perubahan waktu makan, tetapi momentum transformasi diri. Dari puasa elementer menuju puasa yang menghadirkan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, Ramadan menjadi bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga sekolah spiritual untuk membentuk manusia yang lebih bijaksana, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta,” tandasnya.

Sarana Transformasi Spiritual

Sementara itu, Dr. dr. Taufiq Fredrik, M.Kes, M.Pd.I, MH, CIPA, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta dalam paparannya mengaitkan antara tingkatan puasa menurut Al-Ghazali dengan tingkat ibadah dalam Islam. Ia juga menyoroti bagaimana puasa bukan hanya soal menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga sebagai sarana transformasi spiritual.

Menurutnya, Al-Qur’an menyebut puasa sebagai sarana penyucian. Hal ini selaras dengan temuan ilmiah modern mengenai proses autofagi, yaitu mekanisme pembersihan sel-sel tubuh saat seseorang berpuasa.

“Ketika seseorang berpuasa 12 hingga 14 jam, metabolisme tubuh mengalami optimalisasi. Proses ini membantu detoksifikasi dan peremajaan sel,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam ilmu otak, terdapat area prefrontal cortex yang berfungsi dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan. Puasa, menurutnya, melatih area ini sehingga manusia mampu mengendalikan dorongan instingtif dan emosi.

Dr. Taufiq menyebutkan puasa memiliki tiga tingkatan, mulai dari puasa dasar yang fokus pada kewajiban, hingga puasa khusus yang menekankan kesadaran spiritual. Hal ini sejalan dengan konsep tingkatan ibadah dalam Islam: Islam, Iman, dan Ihsan. Tingkatan Ihsan, yang paling tinggi, berarti beribadah seolah melihat Allah, atau menyadari bahwa Allah selalu melihat kita.

“Orang yang berpuasa pada tingkatan tinggi secara alami akan menjaga ibadah lainnya, seperti salat, sedekah, dan tadarus Al-Qur’an. Ramadan menjadi momen transformasi spiritual, bukan hanya kewajiban ritual,” ujar Dr. Taufiq.

Lebih jauh, Dr. Taufiq memaparkan perspektif ilmu kedokteran dan neuroscience, bahwa manusia memiliki empat elemen dasar: akal, nafsu, kolbu, dan ruh. Keempat elemen ini memiliki dukungan dari area otak tertentu, misalnya prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri, mendukung praktik ibadah dan puasa secara optimal.

Ia juga menekankan pentingnya membiasakan diri dalam beribadah, termasuk bangun malam untuk salat tahajud atau mengatur sahur dan buka puasa, sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas spiritual. “Dengan meningkatkan kualitas puasa, otomatis kualitas ibadah lainnya juga meningkat, menghadirkan akhlak mulia sesuai ajaran Tuhan yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Pengampun,” ujarnya.

Diskusi turut mengaitkan puasa dengan konsep ulul albab, yakni manusia yang mampu menyinergikan kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Puasa disebut sebagai jalan menuju ketakwaan, bahkan mencapai derajat ihsan — tingkatan ibadah tertinggi.

“Ibadah puasa harus menjadi momentum transformasi spiritual. Jangan sampai setiap tahun hanya berhenti di tingkat elementer,” tegas Dr Taufiq.

Seminar diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif yang membahas korelasi antara tingkatan puasa dan tingkatan keberagamaan — Islam, iman, dan ihsan.

Melalui kajian ini, peserta diingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan perjalanan spiritual untuk membersihkan diri, mengendalikan nafsu, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *