BOGOR – Fenomena war takjil di Indonesia saat Ramadan bukan sekadar tren musiman, tetapi telah menjadi dinamika sosial dan ekonomi yang khas. Di Bogor dan berbagai daerah lain, sore hari menjelang berbuka puasa selalu dipenuhi penjual aneka takjil.
Mulai dari kolak, es buah, gorengan, hingga jajanan tradisional yang jarang ditemui di hari biasa, semuanya tersaji dengan harga terjangkau dan tampilan menarik.
Tak heran jika muncul istilah “war takjil”, menggambarkan antusiasme masyarakat yang seolah berlomba mendapatkan hidangan favorit.
Di Prapatan Jalan Pamikul-Palayu dalam komplek Indraprasta 2, fenomena ini tidak hanya dirasakan umat Muslim yang berpuasa.
Masyarakat nonmuslim pun turut meramaikan suasana berburu takjil sebagai bagian dari pengalaman sosial Ramadan.
Pusat jajanan berbuka yang melegenda dari tahun ke tahun saat puasa ini, bahkan selalu mendapat liputan dan pemberitaan luas semua media.
Hal ini menunjukkan bahwa war takjil telah berkembang menjadi ruang interaksi lintas komunitas.
Menurut Dr Tjahja Muhandri dari IPB University, fenomena ini mencerminkan respons cepat pasar terhadap meningkatnya kebutuhan konsumen.
Ia menilai kemunculan makanan atau minuman yang hanya ada saat Ramadan kerap membangkitkan unsur nostalgia atau “rebutan kenangan”, selain sekadar kebutuhan berbuka.
Dari sisi ekonomi, war takjil membawa dampak positif bagi pelaku UMKM. Permintaan yang tinggi membuat produk cepat terjual dan membuka peluang usaha baru, termasuk bagi pedagang musiman.
Namun, pelaku usaha diingatkan untuk tetap kreatif, mengikuti tren, dan tidak monoton agar tetap diminati konsumen.
Di sisi lain, aspek kebersihan dan keamanan pangan menjadi perhatian penting. Karena siapa saja bisa membuka lapak, standar kebersihan produk, wadah, penyajian, hingga penggunaan masker dan sarung tangan perlu dijaga demi mencegah risiko keracunan atau penyakit.
“Transparansi harga juga disarankan agar konsumen merasa nyaman dan tidak khawatir terhadap praktik harga yang tidak wajar,” kata Dr Tjahja Jumat (20/2/2026).
Ia menegaskan, secara keseluruhan, war takjil mencerminkan perpaduan antara tradisi, peluang ekonomi, kreativitas UMKM, serta dinamika sosial masyarakat Indonesia saat Ramadan. (yopy/fs)







Komentar