BOGOR – Suhu udara di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, terasa semakin dingin menjelang sore hingga malam hari meski wilayah tersebut tengah memasuki musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung hingga September 2026, dengan puncaknya terjadi pada Agustus.
Kondisi suhu dingin di kawasan Puncak saat musim kemarau tersebut mendapat perhatian dari pakar IPB University.
Dosen sekaligus peneliti Departemen Geofisika dan Meteorologi serta Sekretaris Program Studi Klimatologi Terapan IPB University, Givo Alsepan, S.Si., M.Sc., Ph.D., mengatakan kondisi tersebut sangat mungkin berkaitan dengan aktivitas Monsun Australia.
Menurut Givo, udara dingin yang dirasakan di Puncak pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat dipengaruhi masuknya massa udara dari Australia. Massa udara tersebut umumnya memiliki karakter relatif kering dan lebih dingin ketika bergerak melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia.
“Udara dingin yang terasa di Puncak Bogor pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat berkaitan dengan Monsun Australia,” kata Givo, Rabu (19/8/2026). Namun bahwa mekanisme tersebut tidak berarti udara dingin dari Australia secara langsung masuk dan kemudian mendinginkan Bogor.
Ada sejumlah proses atmosfer yang berlangsung secara bersamaan. “Monsun Australia memiliki peran penting dalam pembentukan kondisi musim kemarau di Indonesia. Pada periode tersebut, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia,” jelas Givo.
Perbedaan tekanan udara tersebut kemudian menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju wilayah Indonesia.
“Secara sederhana, Australia → angin tenggara/timur → Indonesia → Jawa → Bogor,” ujarnya.
Untuk 2026, BMKG memperkirakan Monsun Australia tetap aktif hingga akhir tahun dengan intensitas sekitar normal.
BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung pada Agustus 2026.
“Meski demikian, massa udara dari Australia tidak selalu secara langsung membuat suhu Bogor menjadi dingin.
Salah satu faktor penting yang memengaruhi suhu pada sore hingga malam hari adalah kondisi udara yang relatif kering dan langit yang cenderung cerah,” tandasnya.
Saat langit relatif cerah dengan sedikit awan dan kandungan uap air yang rendah, proses pelepasan panas berlangsung lebih efektif karena hanya sedikit faktor yang menghambat radiasi tersebut. Akibatnya, permukaan bumi kehilangan panas dengan lebih cepat sehingga suhu udara ikut mengalami penurunan.
“Ketika langit relatif cerah, hanya sedikit awan dan uap air yang menghambat pelepasan radiasi tersebut. Akibatnya, permukaan bumi kehilangan panas dengan cepat,” jelasnya. Kondisi langit cerah dan kelembapan yang lebih rendah selama musim kemarau inilah yang kemudian memperkuat proses pendinginan radiatif pada malam hari.
Fenomena tersebut membuat kawasan Puncak yang berada di dataran tinggi dapat terasa semakin dingin, terutama mulai sore menjelang malam hingga dini hari. Dengan demikian, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin Monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam. (yd/jo)








Komentar